Samba, Sapa, dan Fenomena di Sekitar Kita (1 – Berlanjut)

Iklan Home Page

I K. Eriadi Ariana

SEKITAR abad ke-10 masehi, Dharmawangsa Teguh Anantawikrama, pemimpin Kerajaan Medang-Dinasti Isyana di Jawa Timur memerintahkan penerjemahan epos Mahabharata karya Bhagawan Byasa. Proyek penerjemahan karya sastra berbahasa Sanskerta ke dalam bahasa Jawa Kuno saat ini dikenal sebagai mangjawaken byasamatha. Hasilnya adalah teks-teks parwa Jawa Kuno, yang sebagian di antaranya masih eksis hingga abad ini. Satu dari sejumlah parwa yang masih terwariskan ke kita adalah Mosala Parwa.


Mosala Parwa merupakan bagian (parwa) ke-17 dari Astadasa Parwa (Mahabharata) Jawa Kuno. Kisahnya berfokus menyoroti kehancuran bangsa Yadu dan Kota Dwaraka. Peristiwa tersebut terjadi 36 tahun pasca-kekalahan Kurawa di dalam Bharatayuda di medan perang Kuruksetra. Menurut urutan waktu, kiamat para Yadu merupakan penanda peralihan zaman dari Dwaparayuga ke Kaliyuga. Momentum itu juga titik akhir dari masa tugas Kresna sebagai awatara Dewa Wisnu di dunia.


Mosala Parwa dimulai dengan pertanyaan mendasar Raja Janamejaya, anak Parikesit atau cicit Arjuna, kepada Bhagawan Waisampayana berkaitan dengan sejarah leluhurnya, khususnya kehancuran bangsa Yadu. Sang raja yang tengah galau setelah kematian ayahandanya, Parikesit, memohon pencerahan dari sang bhagawan. Ia berharap dengan mendengar kisah mulia para leluhur bisa berkontemplasi, berharap cahaya suci sastra dapat melepaskan kegelapan hati dan pikirannya.


Bhagawan Waisampayana menjelaskan peristiwa yang sangat memilukan itu. Kiamat Yadawa sejatinya merupak ulang-alik dari peristiwa yang telah dan akan terjadi menurut hukum semesta (Rta). Tiada satu entitas pun akan mampu menghalangi atau membendungnya. Pun, Kresna yang adalah awatara Wisnu.


Pada akhir Bharatayuda, Kresna dikutuk oleh Gandari. Kutukan itu menyatakan bahwa dalam beberapa tahun ke depan bangsa Yadu akan mengalami kiamat yang sama seperti yang dialami Kurawa. Mereka akan dihancurkan oleh sesama bangsanya. Kutukan itu jelas merupakan puncak kemarahan seorang ibu yang menyaksikan putra-putranya binasa. Ibu mana di semesta raya ini dapat bersikap biasa saja ketika anaknya terkena bencana? Itu adlaah insting paling dasar seorang ibu.

Baca Juga:  Sukseskan Program Kontribusi Wisatawan, Dispar Bali Harap Partisipasi Industri Pariwisata


Syahdan, 36 tahun setelah kutukan itu terlepas dari mulut Gandari, datanglah tiga orang suci ke Kota Dwaraka, kota indah di tepian Jambudwipa. Ketiganya adalah Bhagawan Wiswamitra, Bhagawan Kanwa, dan Bhagawan Narada. Ketika menginjakkan kaki di Kota Dwaraka, ketiga rsi agung bertemu dengan tiga pangeran Yadu, yakni Samba, Sarana, dan Bhadru.


Entah apa yang ada di pikiran ketiga pangeran itu. Ketiganya spontan ingin menguji para arif yang merupakan guru dunia. Samba mendandani diri layaknya perempuan yang tengah hamil tua, lantas ia mengaku sebagai istri dari Bhadru. Ketajaman pikiran ketiga brahmana agung disangsikan, Samba bertanya kepada ketiga pendeta: Apakah anak yang dikandungnya berkelamin laki-laki atau perempuan?


Ketiga pendeta tentu sangat paham ketiganya adalah pangeran-pangeran bangsa Yadu. Pertanyaan yang ditujukan bukan karena mereka benar-benar ingin mencari tahu, tetapi ingin menghina kesucian para brahmana. Akhirnya, ketiga orang suci itu murka, dan mengucapkan sapa (kutukan) bahwa kehamilan yang dibuat-buat itu akan menjadi nyata. Samba akan melahirkan sebatang mosala (tongkat besi) yang akan menjadi penyebab kiamat bangsa Yadu.


Seperti anak panah yang telah melesat dari busurnya, kata-kata ketiga pendeta agung tidak lagi bisa ditarik. Kehamilan Samba menjadi nyata. Keesokan harinya melahirkan sebatang mosala (tongkat besi). Raja Ugrasena yang mengetahui hal itu memerintahkan untuk menghancurkannya hingga menjadi serpihan-serpihan kecil. Setelah itu, kikiran mosala dihanyutkan ke laut. Ugrasena mengira dengan demikian petaka bangsa Yadu dapat dihindarkan. Namun, di luar prediksinya, serpihan-serpihan itu justru terbawa ombak ke pantai dan dengan cepat tumbuh menjadi tanaman gelagah.


Sejak Samba melahirkan mosala tanda-tanda pembalikan periode dunia dari Dwapara menuju Kali Yuga kian benderang. Bintang dan benda-benda di angkasa menunjukkan anomali. Sementara itu di bumi, binatang-binatang bertingkah tak normal, dan makanan menjadi cepat basi. Setiap malam masyarakat diliputi ketakutan, bagaikan dikekang oleh energi negatif yang dahsyat.

Baca Juga:  Kasanga dan Takaran Kesadaran yang Tersisa 


Pada sisi lain, moral manusia semakin runtuh. Orang-orang suci, termasuk para guru suci tidak lagi dihormati dan dipercaya. Tugas dan kewenangannya ingin dikuasai oleh mereka yang tak memiliki kepantasan. Pemimpin saling berebut kuasa, ingin menjadi yang paling berjasa, tetapi korup. Birokrat dan bangsawan abai dengan keadaan rakyat.


Puncak dari deretan kejadian itu adalah terjadinya gerhana matahari pada dua hari sebelum bulan purnama. Pusaka dan panji-panji kebesaran Kresna dan Balarama pun tiba-tiba hilang. Ketika malam tiba, bangsa Yadu mimpi-mimpi buruk datang. Mereka bermimpi disantap oleh Sang Kala, sementara istri-istrinya dilarikan monyet.


Membaca tanda-tanda zaman itu, Kresna memerintahkan sanak-saudaranya menyucikan diri ke Prabhasa Tirta, sebuah tempat suci terletak di pinggiran laut. Rencana itu awalnya berjalan lancar, sebelum bangsa Yadu minum-nimum tuak hingga mabuk.


Keributan dimulai oleh dua orang veteran Bharatayuda, yakni Kretawarma dan Satyaki. Ketika Bharatayuda keduanya berhadap-hadapan sebagai lawan. Kretawarma berdiri di kubu Kurawa bersama dengan pasukan Narayana yang terkemuka. Sementara itu, Satyaki tanpa ragu membela Pandawa dan menjadi salah satu ksatria yang paling diandalkan dalam menjaga sayap-sayap formasi koalisi Putra Pandu.


Keributan Kretawarma dan Satyaki menyulut adu fisik yang berakhir pada tewasnya Kretawarma. Kematian Kretawarma membuat kawan-kawannya naik pitam, sehingga mengeroyok Satyaki hingga tewas. Pascakematian kedua ksatria unggulan Yadawa itu, pertikaian semakin meluas. Ksatria-ksatria utama bangsa Yadu seperti Pradyumna, Samba, Anirudha, Sudesna, Disarapramuka saling serang. Rumput gelagah yang tumbuh dari asahan mosala digunakan menjadi senjata darurat. Mayat-mayat bangsa Yadu pun bergelimpangan, dibunuh oleh teman sendiri.

Baca Juga:  Diikat Air, Direkatkan Tutur: Menilik Kekerabatan Tejakula dan Batur


Melihat situasi yang tak kondusif, Baladewa memilih untuk bersemadi dan melepaskan tubuh manusianya. Ia pun berubah menjadi naga putih untuk kembali pulang ke Patala. Kresna dengan sigap memerintahkan satu-satunya Yadawa yang tersisa, yakni Bhadru untuk menceritakan kiamat tersebut kepada Maharaja Basudewa dan para tetua di istana Dwaraka. Bhadru juga diutus ke Hastinapura untuk meminta Arjuna mengevakuasi 16 ribu istri Kresna ke Hastina.


Sesaat setelah kepergian Bhadru, Kresna tidur terlentang di bawah sebuah pohon rindang. Ketika itu seorang bernama Jara datang, mengira sang awatara sebagai hewan buruan. Kresna yang dikira kijang dibidik menggunakan panah yang mata panahnya merupakan pecahan terbesar dari mosala. Panah itu mengenai telapak kaki Kresna, membuat sukmanya terlepas dari tubuh dalam bentuk Wisnumurti dan kembali ke Surga Wisnu.


Bhadru berhasil mengabarkan peristiwa itu ke Hastina. Arjuna bergegas dan tiba keesokan harinya. Namun, ia tak mampu melakukan apapun, hanya bisa meratapi kiamat bangsa Yadu. Ia menyaksikan Maharaja Basudewa juga wafat bersama tetua Yadawa yang lain. Selepas melaksanakan upacara sradha untuk Basudewa, Arjuna berangkat ke Hastina untuk mengevakuasi 16 ribu istri Kresna. Sesaat kemudian tsunami besar datang dan menyapu Dwaraka tanpa sisa.


Arjuna yang begitu terpukul melanjutkan perjalanan, tetapi di tengah jalan sekelompok begal menghadang mereka. Arjuna yang dikenal sakti itu kini malah tak mampu berkutik. Kekuatannnya mendadak hilang. Pahlawan Bharatayuda ini bahkan tak mampu melawan begal. Hanya ratapan yang dapat dilaporkan ke hadapan Yudistira atas kiamat yang terjadi pada bangsa Yadu.

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR