Kasanga dan Takaran Kesadaran yang Tersisa 

Iklan Home Page

I K. Eriadi Ariana (Jero Penyarikan Duuran Batur)

Kearifan manusia Bali yang dicandikan dalam sejumlah teks tradisional membicarakan Sasih Kasanga (bulan kesembilan tahun Saka, sekitar bulan Maret dalam tahun Masehi) sebagai puncak kegelapan. Atas narasi tersebut, upacara peruwatan bumi yang disebut tawur dilaksanakan pada momentum ini. Setelah Tawur Kasanga dilaksanakan, umat akan melaksanakan panyepian. Peristiwa ini dimaknai sebagai siklus semesta, di mana tawur adalah akhir siklus (pralina), sementara panyepian menjadi momen kosong menyongsong kelahiran kembali siklus semesta yang baru (utpeti).

Teks Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul sebuah teks purana yang banyak menyingkap ekologi Bali menjelaskan deretan bulan dengan energi yang “rawan” sehingga perlu “dinetralisir”. Menurut teks, pada bulan-bulan tertentu, Bhatara Tengahing Sagara yang merupakan manifestasi penunggalan Bhatara Guru (Dewa Śiwa) dan Bhatari Saḍampati (Umadewi) turun ke bumi Bali dari Dalem Manji yang terletak di tengah laut.

Bhatara Tengahing Sagara turun ke Pulau Bali dari Sasih Karo (bulan kedua tahun Saka atau sekitar bulan Agustus) hingga Sasih Kadasa (bulan ke-10 atau sekitar bulan April). Pada Sasih Kanem (bulan ke-6 atau sekitar bulan Desember), Sasih Kaulu (bulan ke-8 atau sekitar Februari), dan Sasih Kasanga (bulan ke-9 atau sekitar Maret) direkomendasikan pelaksanaan caru (kurban suci). Runtutnya pada Sasih Kanem dilaksanakan caru atau tawur di tepi samudera. Ritual ini adalah respons atas kedatangan Dewa Ratu Ni Mecaling di Nusa. Pada Sasih Kaulu dilaksanakan caru nangluk merana di laut, sedangkan Sasih Kasanga dilaksanakan ritual caru pakakeludan di Catuspata Desa. Sementara itu, Sasih Kadasa hendaknya dilaksanakan tawur tabuh gentuh sebagai respons kembalinya Bhatara Tengahing Sagara ke Dalem Manji.

Baca Juga:  HUT Gabungan Organisasi Wanita Kabupaten Badung Ke-l Tahun 2024

Narasi tentang bulan-bulan “rawan” yang dimaksud apabila diamati seluruhnya merujuk pada musim hujan. Berbekal kemampuan membaca tanda-tanda alam, bulan-bulan di musim hujan barangkali dianggap berpotensi tinggi menyebar merana (wabah) dan bencana. Tetua Bali memvisualkan merana sebagai makhluk menyeramkan, abdi (ancangan) bahkan perwujudan sisi negatif dari para dewa. Tugas mereka memantau manusia yang abai pada kodrat sebagai bagian semesta yang tidak bisa terpisah dengan alam, lebih-lebih berupaya menaklukannya.

Apabila kita baca menurut kacamata modern, merana ini barangkali merujuk makhluk-makhluk mikroskopik yang tidak terlihat secara kasat mata. Mereka, dalam pengetahuan modern dikenal sebagai virus dan bakteri. Ketika musim hujan tiba, tingkat kelembaban meningkat, sehingga jenis-jenis makhluk mikroskopik itu bisa berkembang biak lebih cepat. Pada sisi yang berbeda, pada musim hujan tubuh manusia juga mengalami dentuman perubahan lingkungan. Bagi mereka yang tubuhnya tidak terlatih, imunitasnya bisa turun sehingga sangat potensial terpapar penyakit.

Pada bulan-bulan tersebut, wilayah Bali yang berada di kawasan khatulistiwa terpengaruh dengan perubahan iklim global yang mewujud sebagai intensitas hujan dan angin kencang. Lanskap alam yang sedemikian rupa acapkali tak mampu menahan perubahan, lebih-lebih ketika perubahan yang masif seperti penyusutan hutan terjadi. Akibat yang ditimbulkan adalah bencana alam, baik dalam wujud tanah longsor, banjir, angin puting beliung, maupun fenomena alam disruptif lainnya.

Kasanga, Air, dan Pohon
Sasih Kasanga yang labil dan rawan oleh masyarakat adat Batur dipilih sebagai pujawali untuk memuliakan dewata utama di Pura Ulun Danu Batur dan Pura Alas Arum Batur. Ida Bhatara Dewi Danuh di Pura Ulun Danu Batur dipuja pada purnama Sasih Kasanga. Dua hari berselang, yakni pada Panglong Kaping Kalih Sasih Kasanga giliran Ida Ratu Dalem Mas A Luwih di Pura Alas Arum Batur yang dipuja.

Baca Juga:  Ketika Para Dewa Kembali ke Gunung Agung

Perbedaan kedua dewa itu hanya soal “otoritas” pertanian yang dipegang. Ida Bhatari Dewi Danuh yang juga dikenal sebagai Bhatari Ulun Danu adalah bentuk pemuliaan bagi entitas yang memegang hulu mata air, yakni danau. Dewa ini dipuja oleh mereka yang memanfaatkan air, khususnya masyarakat subak. Sementara itu, Bhatari Mas A Luwih secara khusus diyakini sebagai entitas yang memegang keberlangsungan energi ladang. Dewata ini banyak dipuja oleh masyarakat agraris di lahan kering (subak abian) dan hutan.
Hutan dan danau adalah dua elemen alam yang penting. Hutan hadir dari upaya menanam terus-menerus, sementara danau tercipta dari upaya menadah air tiada putus. Konsep hutan dan danau mengingatkan pada konsep sad kreti yakni wana kreti dan danu kreti yang menjadi pijakan turunan konsep kreti lainnya.

Pura Ulun Danu Batur dalam posisinya sebagai pangulun subak Bali secara kultural disandarkan atas keyakinan bahwa aliran air Danau Batur ke sejumlah sungai di Bali. Air inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk mengairi sawah-sawah masyarakat di berbagai wilayah Bali. Subak yang mendapat aliran air danau disebut pasihan, yang setiap Ngusaba Kadasa wajib mempersembahkan sarin tahun.

Danau Batur dibangun oleh sembilan petirtaan utama di pinggir Danau Batur dan dua patirtaaan yang berada di sebelah barat Kaldera Batur. Sebelas tirta itu meliputi Tirta Telaga Waja, Tirta Bantang Anyud, Tirta Danu Gadang, Tirta Danu Kuning, Tirta Pelisan, Tirta Mangening, Tirta Pura Jati, Tirta Rejeng Anyar, Tirta Toya Bungkah, Tirta Toya Mampeh (di luar danau, terletak di lereng barat Kaldera II Batur), dan Tirta Perapen (terletak di luar danau, di Bukit Sampian Wani).

Baca Juga:  Mengelola Sumber Daya ala Bubuksah

Kesebelas mata air tersebut tentu tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan melalui proses hidrologis yang ketat dari akar-akar pepohonan di hutan raya yang setia menadah air hujan. Pada titik inilah penggambaran danau dan hutan dalam ruang yang lebih sakral sebagai entitas Ida Bhatari Dewi Danuh (Pura Ulun Danu Batur) dan Ida Bhatari Mas A Luwih (Pura Alas Arum Batur) menjadi konsep dwi-tunggal yang saling terkait dan perlu direnungkan. Masa depan pangan tergantung pada berapa banyak air yang muncul dari mata air-mata air, sementara kelangsungan air ditentukan oleh seberapa banyak pohon dan hutan yang tersisa.

Narasi ini semakin penting jika ditarik pada konsep Kasanga sebagai bulan yang labil. Pesan tetua barangkali tidak sesederhana pelaksanaan ritual tawur yang terhenti sekadar pada seremonial, melainkan pada tindakan nyata. Kasanga yang labil adalah cara tetua menulis dan membaca semesta dalam wujud sebagai pohon, air, dan keberlangsungan hidup. Tawur Kasanga bukan sekadar meruwat Catuspata Desa, tetapi catuspata hati yang diaktualisasi dalam laku menghargai dan merawat alam. Bukan laku mengkapling dan menjajakan hutan, danau, gunung, laut, dan lebih-lebih sawah di meja kapitalis serakah yang tidak pernah puas.BWN-03

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR