Oleh I K. Eriadi Ariana
Nun jauh sekira setengah milenium lalu, fragmen yang kini dikenal sebagai Bubuksah Gagangaking ditatah pada dinding Candi Penataran oleh para seniman Kadiri. Tatahan fragmen itu menjadi petunjuk bahwa kisah tersebut telah dikenal masyarakat Jawa Kuno—minimal kalangan istana—pada masa itu.
Kisah Bubuksah Gagangaking diabadikan pula di Bali dalam pustaka berjudul Tutur Bubuksah. Naskah Tutur Bubuksah bahkan koleksi di beberapa institusi penyimpanan naskah tradisional milik pemerintah, misalnya Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali di Denpasar.
Tokoh sentral dalam cerita Bubuksah Gagangaking adalah dua orang anak manusia yang hidupnya seperti kita kebanyakan. Mereka tidak berasal dari kalangan istana. Nama lahir kedua tokohnya adalah Kebo Milir dan Kebo Kraweg. Setelah melakoni tapa, Kebo Milir mendapat sebutan Gagangaking, sedangkan Kebo Ngraweg mendapat gelar Bubuksah.
Nama Gagangaking didapat Kebo Milir setelah berhasil melakoni disiplin spiritual (brata) bernama sudha sridanta. Disiplin ini dilakukan dengan cara memilih dan memilah makanan-minuman. Kebo Milir hanya akan makan dan minum makanan-minuman yang dianggap bersih dan suci. Ia menghindari daging atau tuak. Akibatnya, tubuh Kebo Milir menjadi kurus seperti tangkai kering. Sejak saat itu, dipanggillah ia Gagangaking.
Sementara itu, adiknya Kebo Kraweg melakoni brata makan yang sebaliknya. Ia tidak memberi batasan terhadap apa yang dimakan. Setiap makhluk hidup yang kena perangkapnya akan dimakan. Tidak peduli mamalia atau reptil kelas rendah yang dianggap menjijikan oleh sebagian orang. Tidak peduli daging yang masih segar atau bangkai yang sudah berbau busuk. Semua yang didapat disyukuri sebagai rahmat Semesta kepada hidupnya. Laku ini dikenal sebagai sarwa baksa, yang membuat tubuhnya gemuk.
Tokoh Bubuksah dan Gagangaking oleh para pakar diyakini sebagai representasi pemeluk paksa (aliran) Budha (Kasogatan) dan Saiwa (Kasewan). Saiwa dan Budha bukan ajaran yang awam bagi manusia Bali. Sejak era Dinasti Warmadewa eksistensi keduanya telah disebut-sebut, bahkan disebut memiliki lembaga “kementeriannya” masing-masing.
Kedua paksa ini juga sangat populer di Jawa. Pada masa Majapahit kemanunggalan dua ajaran yang seolah berbeda ini ditekankan melalui ungkapan “bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa” (lihat Kakawin Sutasoma).
Tyaga Pati
Jauh sebelum menjadi penghayat rohani, Kebo Milir dan Kebo Kraweg adalah anak sebatang kara. Meskipun demikian, keduanya telah tertarik pada dunia kerohanian. Pada suatu waktu mereka memutuskan untuk berguru ke Majalangu.
Setelah memiliki bekal pengetahuan rohani yang cukup, keduanya bertapa ke suatu gunung. Gagangaking mengambil tempat di sebelah barat menghadap ke timur. Bubuksah berada sebelah timur menghadap ke barat. Selama proses tapa-brata itulah Gagangaking memilih untuk menerapkan laku sudha sridanta yang welas asih dan tidak memakan daging.
Bubuksah mengambil jalan sebagai bhairawa yang sarwa baksa pada setiap hasil buruannya. Saat itu Bubuksah tidak hanya menyelam pada khusuknya penjelajahan tubuh. Pada saat yang sama ia juga menghayati entitasnya sebagai makhluk “duniawi” yang bergerak di tengah-tengah alam dan tunduk pada hukum jaring-jaring makanan.
Polarisasi laku pertapaan itu menyulut diskusi-diskusi spiritual yang intens antara dua saudara ini. Gagangaking sering kali menyalahkan laku Bubuksah, tetapi Bubuksah tetap teguh pada pendiriannya.
Singkat cerita pertapaan keduanya menyulut energi dahsyat hingga sampai ke surga Bhatara Guru. Bhatara Guru yang terusik memerintahkan abdinya, Sang Kala Wijaya, untuk turun menguji keduanya.
Sang Kala Wijaya turun ke bumi sebagai harimau putih. Pertama, ia menemui Gagangaking dan meminta izin untuk menyantapnya. Gagangaking tidak bersedia, kemudian menyarankan agar harimau jelmaan Kala Wijaya itu memakan adiknya.
Saat Kala Wijaya menghampiri Bubuksah, pertapa itu dengan senang dan ikhlas (tyaga pati) mempersembahkan diri. Setelah memangsa banyak makhluk untuk hidup, kini giliran hidupnya yang akan dipersembahkan untuk menghidupi makhluk lainnya. Bagi Bubuksah, momen peruwatan telah tiba. Peruwatnya bukan seorang pendeta suci, tetapi seekor harimau yang menginginkan dagingnya. Sebelum dimangsa, ia izin untuk bersolek dan mengenakan atribut kependetaan. Tanpa takut ia mempersilakan harimau memakannya.
Tyaga pati yang dilakukan Bubuksah membuat Kala Wijaya senang. Seketika Bubuksah dinyatakan lulus ujian hidup. Ia kini berhak atas surga tertinggi. Bubuksah menerima anugerah tersebut dengan syarat agar Gagangaking juga diajak. Ia tidak mau mengingkari janji untuk selalu bersama-sama dengan saudaranya.
Kala Wijaya sungguh terkesan. Kala Wijaya mengizinkan. Bubuksah dan Gagangaking berangkat menuju surga, tetapi dengan berbeda cara. Bubuksah dipersikan menunggang di punggung harimau, sementara Gagangaking digandeng dengan bergelantungan pada ekornya. Bubuksah mendapat tempat di surga tingkat ketujuh—surga tertinggi dalam kisah ini, sedangkan Gagangaking mendapatkan surga tingkat kelima.
Manajemen Sumber Daya Alam
Kisah Bubuksah Gagangaking mengalirkan kearifan lintas zaman. Pesan arifnya bukan semata tentang spiritualitas menara gading. Sikap Bubuksah adalah spiritualitas di tingkat tindakan.
Apabila ditinjau dari sudut pandang ekologi, sikap Bubuksah bisa dibaca sebagai laku hidup yang ramah lingkungan. Bubuksah adalah cermin bagaimana semestinya kita mengelola sumber daya alam secara bertanggung jawab. Sikap yang bisa disandingkan dengan laku ekologis mendaur ulang kembali (recycle).
Bubuksah bukan sekadar pemakan daging yang brutal. Ia tetap mengikuti “aturan main” menurut hukum jejaring makanan dengan hanya memakan makhluk yang kena perangkapnya.
Bubuksah tidak akan menolak memakan binatang buruan yang menjijikkan. Baginya semua yang didapat sama saja. Tidak lagi ada strata tentang enak dan tidak enak. Bubuksah mampu mengatasi anyirnya darah, bau busuk bangkai, atau kerasnya alkohol dari tuak. Bubuksah mampu mengembalikan nilai dari benda yang oleh orang kebanyakan dianggap telah kehilangan nilai.
Kita bisa belajar dari laku Bubuksah dalam hal pengelolaan sampah. Sampah organik bisa dimanfaatkan sebagai kompos, ekoenzim, atau produk olahan yang dapat memberi manfaat lanjutan. Sikap yang sama juga bisa diteruskan dalam penanganan terhadap sampah anorganik.
Apabila sikap daur ulang ala Bubuksah ini dapat dilakukan, maka tidak akan ada lagi sumber daya yang terbuang-buang. Sumber daya bisa berjalan sirkular tanpa putus memberi manfaat. Sampah tidak akan lagi menggunung di tempat pembuangan akhir (TPA). Anggaran pengelolaan sampah juga bisa ditekan ataupun dialihkan untuk meningkatkan fasilitas publik sehingga lebih berdampak. BWN-03


































