Tabanan, Baliwakenews.com
Sambal tradisional yang selama ini diproduksi secara rumahan kini didorong naik kelas menjadi produk UMKM yang lebih modern, higienis, dan bernilai jual tinggi. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), Universitas Warmadewa (Unwar) membekali Kelompok Wanita Tani (KWT) Penebel Berlian dengan inovasi teknologi pengolahan dan pengemasan guna meningkatkan daya saing produk di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.
Kegiatan yang berlangsung pada 27 Mei 2026 itu diikuti 12 anggota KWT Penebel Berlian yang diketuai Ni Putu Sutrisna Jayanti. Program dilaksanakan oleh tim dosen dan mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa.
Ketua tim pelaksana, Ni Made Defy Janurianti, S.TP., M.TP., menjelaskan bahwa kelompok selama ini menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari fluktuasi harga cabai, rendahnya daya tahan produk, hingga keterbatasan kapasitas produksi akibat proses pengolahan yang masih dilakukan secara manual.
“Kondisi tersebut membuat kualitas produk kurang konsisten dan menyulitkan kelompok untuk memperluas pasar,” ujarnya.
Melalui program ini, tim pengabdian menghadirkan solusi berupa penerapan teknologi pengolahan sambal semi-modern dengan memanfaatkan alat pencacah atau blender berkapasitas UMKM serta metode sterilisasi sederhana yang mudah diterapkan oleh pelaku usaha rumah tangga.
Peserta mendapatkan pelatihan dan praktik langsung mulai dari pemilihan bahan baku, proses pencacahan, pemasakan, sterilisasi, hingga teknik pengemasan yang memenuhi standar higienitas.
Dengan penerapan teknologi tersebut, kapasitas dan kecepatan produksi diproyeksikan meningkat sedikitnya 25 persen dibandingkan metode konvensional yang selama ini digunakan.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Universitas Warmadewa juga menyerahkan bantuan alat pencacah atau blender berkapasitas UMKM kepada kelompok. Bantuan ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menjaga kualitas produk agar lebih seragam.
Tak hanya fokus pada proses produksi, tim pengabdian juga melakukan transformasi pada aspek pengemasan. Produk sambal yang sebelumnya menggunakan kemasan sederhana kini diperkenalkan dengan kemasan pouch aluminium dan botol kaca yang lebih modern, aman, dan menarik bagi konsumen.
Kemasan baru tersebut dilengkapi label produk yang memuat informasi penting seperti komposisi, berat bersih, dan tanggal produksi sehingga meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus memperkuat identitas produk.
Inovasi pengemasan ini diperkirakan mampu memperpanjang masa simpan produk dari sekitar satu minggu menjadi dua hingga tiga bulan tanpa penggunaan bahan pengawet kimia sintetis.
Selain meningkatkan kualitas produk, perubahan tersebut juga berpotensi mendongkrak nilai jual sambal hingga 10–20 persen.
Ketua KWT Penebel Berlian, Ni Putu Sutrisna Jayanti, mengapresiasi program yang dinilai sangat membantu kelompok dalam meningkatkan kualitas usaha berbasis pangan lokal.
Menurutnya, pelatihan dan dukungan teknologi yang diberikan membuka peluang baru bagi kelompok untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan pendapatan anggota.
“Kami mendapatkan banyak pengetahuan baru yang bisa langsung diterapkan untuk mengembangkan usaha sambal tradisional agar lebih kompetitif,” katanya.
Melalui kegiatan ini, Universitas Warmadewa menegaskan komitmennya dalam mendukung penguatan UMKM berbasis pangan lokal melalui inovasi teknologi yang aplikatif dan berkelanjutan.
Program tersebut diharapkan menjadi langkah strategis untuk meningkatkan daya saing produk sambal tradisional KWT Penebel Berlian sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat Desa Penebel di tengah berkembangnya pasar produk pangan olahan yang semakin kompetitif. BWN-03





























