Denpasar, Baliwakenews.com
Daya beli masyarakat Bali menunjukkan sinyal positif. Bank Indonesia (BI) mencatat kinerja penjualan eceran di Pulau Dewata tetap berada di level optimistis dan diperkirakan terus menguat seiring meningkatnya aktivitas pariwisata serta momentum Hari Raya Galungan dan Kuningan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani dalam keterangannya, Senin 20 Juli 2026 menyampaikan berdasarkan Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia, Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali pada Mei 2026 mencapai 125,7, naik 0,3 persen dibanding bulan sebelumnya (month to month/mtm).
“Angka tersebut menegaskan aktivitas perdagangan ritel di Bali masih berada pada zona ekspansi, ” ujar Achris.
Kenaikan penjualan terutama ditopang oleh kelompok barang lainnya yang tumbuh 4,1 persen, disusul sandang 3,7 persen, serta barang budaya dan rekreasi 1,9 persen. Penguatan ini didorong meningkatnya mobilitas masyarakat, ramainya kunjungan wisatawan saat libur panjang, dan konsumsi rumah tangga yang tetap solid.
Optimisme tersebut diperkirakan berlanjut pada Juni 2026. BI memperkirakan IPR meningkat menjadi 126,3 atau tumbuh 0,4 persen (mtm), ditopang kenaikan penjualan makanan, minuman dan tembakau, barang budaya dan rekreasi, serta kelompok barang lainnya selama perayaan Galungan dan Kuningan.
Tak hanya itu, pelaku usaha ritel juga semakin percaya diri menghadapi beberapa bulan mendatang. Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) Agustus 2026 melonjak menjadi 190, naik dari 172 pada Juli 2026. Sementara IEP November 2026 tetap bertahan di angka 190, menunjukkan keyakinan pelaku usaha terhadap prospek bisnis ritel Bali masih sangat kuat.
Di sisi lain, BI memperkirakan tekanan harga pada Agustus dan November 2026 akan meningkat. Meski demikian, inflasi Bali pada Juni 2026 tercatat 3,27 persen (year on year), masih berada dalam kisaran target inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen.
“Optimisme dunia usaha juga diperkuat pertumbuhan kredit sektor perdagangan yang hingga Mei 2026 masih tumbuh 1,95 persen (yoy), ” ungkapnya.
Untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi, Bank Indonesia mempertahankan arah kebijakan moneter dengan BI-Rate 5,75 persen, suku bunga Deposit Facility 4,75 persen, dan Lending Facility 6,50 persen.
Ke depan, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Bali akan terus memperkuat strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif guna menjaga inflasi tetap terkendali sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi Bali yang berkelanjutan. BWN-03

































