Ketika Para Dewa Kembali ke Gunung Agung

Iklan Home Page

Oleh I K. Eriadi Ariana*

BANJIR yang melanda sejumlah tempat di Bali pada 9-10 September 2025 menyisakan banyak pelajaran bagi penduduk pulau mungil ini. Tanpa menihilkan duka para korban—terutama yang kehilangan nyawa sanak-keluarga, peristiwa ini adalah momentum menoleh kembali ke sisi terdalam kemanusiaan orang Bali.

Peristiwa pada dini hari menjelang hari Pagerwesi itu bukan semata-mata disebabkan curah hujan ekstrem sebagai faktor tunggal. Air bah yang menghantam banyak wilayah itu seolah jawaban atas deretan masalah lingkungan yang tidak pernah selesai. Banjir adalah muara dari sungai masalah berupa perambahan hutan, alih fungsi, pencaplokan sempadan, hingga tata kelola sampah yang buruk. Suka tidak suka, tangan manusia telah berkontribusi aktif mempercepat dan memperdalam krisis ekologis.

Tetua Bali sesungguhnya telah mewanti-wanti kondisi semacam ini. Leluhur menyiratkan ancaman krisis ekologis dalam kalimat indah nan simbolik dalam banyak warisan sastra: Ida Bhatara sampun mantuk maring Gunung Agung (Tuhan telah pulang ke Gunung Agung).

Narasi itu ditemukan pada sastra tutur dan purana yang diwarisi dalam khazanah lontar di Bali. Teks-teks itu antara lain Usana Bali, Sri Purana Tattwa, Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul, dan Kakawin Purwaning Gunung Agung.

Menurut teks, Pulau Bali merupakan pulau pilihan yang “sengaja” dibentuk menurut kehendak Bhatara Guru. Beberapa saat setelah ledakan telur semesta (andabhuana), Pulau Bali terlahir. Namun, ketika itu Bali jauh dari kata harmonis. Seperti perahu tanpa jangkar, demikian Pulau Bali digambarkan terombang-ambing dalam ketidakpastian.

Baca Juga:  Tanah Air, Masihkah Dapat Dihuni?

Bhatara Pasupati pun menyiapkan “megaproyek” untuk penyelamatan Pulau Bali. Puncak Gunung Mahameru dipotong menjadi beberapa bagian. Dua potongan besarnya lantas ditempatkan di Bali. Puncaknya yang berupa gunung permata menjadi Gunung Agung, sementara potongan bawah yang menjadi gerbang dapur magma menjadi Gunung Batur.

Keharmonisan Pulau Bali semakin mantap setelah Bhatara Parameswara mengutus dua putra utamanya untuk bersemayam di kedua gunung itu. Putranya, Hyang Putrajaya, ditugaskan bersemayam di Gunung Agung sebagai adipurusa ‘penjaga utama energi rohani’. Putrinya, Hyang Dewi Danuh, diperintahkan bersemayam di Gunung Batur sebagai adipradhana ‘penjaga utama energi material’.

Sebagai penerima mandat dewa tertinggi, Hyang Putrajaya dan Dewi Danuh, bertanggung jawab penuh atas Bali beserta isinya. Tugas itu dijalankan dalam satu periode putaran masa (yuga) yang dibantu oleh sejumlah dewa kerabat.

Para dewa yang merupakan manifestasi itu turun, bersemayam, dan menjaga gunung dan bukit; hutan; sawah; terasering dan bendungan; hulu dari sungai, jurang, dan danau; catuspata; kuburan; hingga pekarangan rumah. Tugas menjaga keharmonisan diemban sepanjang waktu, sampai putaran yuga berakhir. Akhir dari setiap periode ditandai dengan abainya manusia atas lanskap alam, yang mencaplok simpul-simpul ekologis tempat para dewa bersemayam.

Ketika para dewa meninggalkan tempat-tempatnya bersemayam, energi akan kacau. Sawah dan ladang tidak lagi menghasilkan; hutan kehilangan fungsi mengatur cuaca; bencana-bencana akan terjadi di jurang, sungai, danau, pantai, hingga pekarangan-pekarangan rumah. Wabah dalam wujud Kali Sanghara pun akan mengintai dan siap memangsa setiap jiwa.

Baca Juga:  Wabup Edi Wirawan Lakukan Bahkti Penganyar, Doakan Pandemi Segera Berlalu

Tidak ada upaya instan untuk mengembalikan situasi tersebut. Wabah dan bencana harus diterima sebagai ganjaran atas keterusiran para dewa dari simpul ekologis pemuliaannya. Satu-satunya cara untuk mengembalikan harmoni adalah memohon kembali kehadiran para dewa di masing-masing simpul ekologis itu. Agar berkenan bersemayam, ritual pamendak ‘penjemputan’ dan pangenteg ‘pengukuhan’ perlu dilakukan. Sri Purana Tattwa dan Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul menyebut ritual itu sebagai pamendak wwai (toya) di Ulun Danu dan pangenteg Bhatari Sri di Ulun Sawah.

Menangkal Keruntuhan Ekologis
Wacana “kembalinya para dewa ke Gunung Agung” dapat dibaca sebagai pengingat manusia, bahwa peluang krisis ekologi dapat terjadi kapan saja. Oleh karena itu, semua orang wajib menerapkan prinsip kehati-hatian dalam upaya mengrlola sumber daya alam.

Gunung Agung yang muncul dalam narasi itu tentu bukan sekadar gunung fisik yang terletak di wilayah Karangasem. Pun, Gunung Agung bukan sekadar merujuk fisik dari Gunung Semeru di Jawadwipa atau Mahameru di Jambudwipa.

Gunung Agung atau Mahameru dalam hal ini adalah gunung simbolik yang menjadi pusat semesta. Gunung tersebut adalah tempat kesadaran tertinggi (Siwa) bertakhta. Di tempat itulah kehidupan diputar mengikuti jalan hidupnya masing-masing. Di tempat itu pula para dewa dengan setia bersemayam merawat kehidupan.

Baca Juga:  Kasanga dan Takaran Kesadaran yang Tersisa 

Pamendak toya dan pangenteg sadhana yang direkomendasikan untuk penangani krisis pun bukan semata-mata pelaksanaan ritual fisik. Pada ruang tindakan, kedua ritus tersebut adalah anjuran untuk melaksanakan laku nyata pemulihan ekosistem secara holistik seperti reforestasi (wanakreti dan girikreti); konservasi dan normalisasi mata air (ranukreti); menjaga produktivitas pertanian (swikreti); konservasi pantai dan laut (sagarakreti); serta memantapkan tata ruang dan regulasi lingkungan berkelanjutan (jagatkreti).

Kalatattwa dan Kakawin Purwaning Gunung Agung pun secara lugas mengingatkan manusia agar tidak menodai sumber air dengan sampah apa pun, dengan alasan apa pun. Etik lingkungan ini berlaku bagi semua orang tanpa kecuali. Risiko yang dihasilkan akan berlipat-lipat lebih berat jika dilanggar oleh para cerdik pandai dan pemimpin.

Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul juga membicarakan mitigasi bencana melalui mekanisme ritual tawur yang dilaksanakan pada bulan-bulan tertentu. Teks ini mengisyaratkan deretan “sasih berbahaya” yang “menguji” kepekaan umat manusia dalam membaca tanda-tanda alam, kemudian memberi respons berkeadilan atas perubahan lingkungan yang terjadi. Demikianlah, susastra kita hendaknya ditubuhkan bukan hanya di ruang ide, tetapi dalam aksi nyata untuk kesejahteraan berkeadilan.

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Nyepi Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemprov. BaliIklan Nyepi Pemprov. BaliIklan BWNIklan Nyepi PDAM BadungIklan Nyepi DPRD Badung Iklan UNWAR