Mangupura, baliwakenews.com
Wacana pembangunan gedung komersial setinggi 45 meter di Bali mendapat sorotan serius dari kalangan akademisi dan pemerhati lingkungan. Ketua Umum Paiketan Krama Bali, Dr. Ir. I Wayan Jondra, M.Si., mengingatkan bahwa pembangunan gedung dengan skala besar berpotensi menimbulkan beban lingkungan yang sangat besar dan harus dikaji secara menyeluruh melalui analisis daya dukung Pulau Bali.
Berdasarkan simulasi perhitungan yang dilakukan dengan asumsi pembangunan gedung setinggi 45 meter di atas 10 persen lahan hasil reklamasi Pulau Serangan, bangunan tersebut diperkirakan memiliki luas lantai mencapai sekitar 5,65 juta meter persegi. Dengan tinggi rata-rata setiap lantai 3,5 meter, gedung tersebut diperkirakan memiliki sekitar 13 lantai.
“Dari simulasi tersebut, kapasitas aktivitas manusia di dalam bangunan dapat mencapai sekitar 471 ribu orang atau hampir setengah juta orang. Artinya, skala aktivitasnya bukan lagi seperti sebuah gedung biasa, tetapi menyerupai sebuah kota baru,” ujar Jondra saat dihubungi, Senin (22/6).
Menurutnya, jumlah penghuni dan aktivitas dalam gedung tersebut akan memerlukan pasokan energi yang sangat besar. Dengan asumsi kebutuhan listrik 100 watt per meter persegi, kebutuhan daya diperkirakan mencapai sekitar 565 megawatt atau hampir tiga kali kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Pesanggaran.
Persoalan lain yang dinilai lebih krusial adalah kebutuhan air bersih. Dengan asumsi konsumsi 200 liter per orang per hari, gedung tersebut diperkirakan membutuhkan sekitar 94.250 meter kubik air setiap hari atau setara dengan debit sekitar 1.090 liter per detik.
“Pertanyaannya, dari mana sumber air sebesar itu akan diperoleh? Apakah dari Danau Batur atau Danau Beratan, dan apakah sumber-sumber tersebut mampu menyuplai kebutuhan sebesar itu?” katanya.
Volume penggunaan air yang besar juga akan berbanding lurus dengan produksi air limbah. Dengan asumsi 85 persen air bersih menjadi limbah, gedung tersebut diperkirakan menghasilkan lebih dari 80 ribu meter kubik air limbah per hari. Jumlah itu disebut membutuhkan fasilitas pengolahan limbah dengan kapasitas hampir dua kali lipat dari IPAL Suwung yang direncanakan memiliki kapasitas sekitar 51 ribu meter kubik per hari.
Selain kebutuhan energi dan air, sistem pendingin bangunan juga diperkirakan memerlukan kapasitas sekitar 240 ribu Ton Refrigeration (TR), menunjukkan tingginya kebutuhan energi untuk operasional gedung di kawasan beriklim tropis seperti Bali.
Dari sisi lingkungan, simulasi tersebut memperkirakan total emisi karbon yang dihasilkan dapat mencapai sekitar 4,64 juta ton karbon dioksida per tahun, yang secara teoritis membutuhkan sekitar 415 ribu hektare hutan tropis untuk menyerap emisi tersebut. Luas itu mendekati 80 persen dari luas daratan Pulau Bali.
Masalah sampah juga menjadi perhatian. Dengan asumsi produksi sampah satu kilogram per orang per hari, kawasan tersebut diperkirakan menghasilkan sekitar 471 ton sampah setiap hari.
Jondra menegaskan, simulasi tersebut masih menggunakan sejumlah asumsi teknis dan memerlukan penelitian lebih mendalam oleh berbagai ahli. Namun, hasil perhitungan awal itu menunjukkan bahwa gagasan pembangunan gedung komersial setinggi 45 meter, baik di kawasan Pulau Serangan maupun lokasi lain seperti lahan Pusat Kesenian Bali di Klungkung, tidak bisa dipandang sebagai proyek bangunan biasa.
“Ini baru dari sisi teknis. Belum dihitung dampak terhadap kependudukan, transportasi, keamanan, sosial, budaya, dan agama. Karena itu, kajian yang panjang, hati-hati, dan berbasis daya dukung Bali sangat diperlukan sebelum mengambil keputusan,” tegasnya. BWN-05






























