I K. Eriadi Ariana
SEPANJANG bulan September 2026 tujuh gunung berapi tercatat mengalami erupsi hampir bersamaan. Gunung-gunung tersebut antara lain Gunung Sinabung (Sumatera Utara), Gunung Anak Krakatau (Selat Sunda), Gunung Semeru (Jawa Timur), Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Ili Lewotowok (Nusa Tenggara Timur), serta Gunung Ibu dan Gunung Dukono (Maluku Utara).
Peristiwa vulkanis ini secara cepat memenuhi ruang publik, baik pada media-media arus utama maupun media alternatif. Atensi publik tidak terlepas dari rekam jejak beberapa gunung yang tercatat pernah mengalami erupsi masif. Erupsi Gunung Anak Krakatau misalnya, menyeret ingatan publik pada peristiwa erupsi besar Gunung Krakatau pada tahun 1883. Dampak erupsi Krakatau 1883 tidak hanya bersifat regional di kawasan sekitar Selat Sunda, tetapi turut memengaruhi perubahan iklim secara global.
Aktivitas gunung-gunung api di berbagai tempat di Indonesia sejatinya adalah peristiwa alamiah yang tidak dapat dihindarkan. Posisi geografis Indonesia merupakan rangkaian tidak terpisah dari jaringan Cincin Api Pasifik atau yang terkenal sebagai Ring of Fire. Posisi geografis ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan gunung api aktif terbanyak di dunia, yakni sejumlah 127 gunung api.
Jaringan gunung berapi di Nusantara sejak masa silam telah menjadi bagian yang melekat daalam peradaban manusia Indonesia. Peristiwa-peristiwa sejarah dan kebudayaan manusia Nusantara banyak beririsan dengan aktivitas gunung api. Pengaruh tersebut dapat diamati pada tataran nilai, aspek laku manusia, hingga artefak fisik, misalnya pada arsitektur.
Ingatan tentang gunung sangat benderang terekam di dalam teks-teks Jawa Kuno. Pada banyak teks Jawa Kuno, gunung tidak hanya dipandang sebagai elemen ekologis yang memberi manfaat bagi kehidupan fisik, tetapi juga elemen spiritual yang tertaut dengan spirit kehidupan. Narasi yang cukup tua tentang gunung dapat dilihat pada teks Adi Parwa. Susastra ini merupakan buku pertama dari Astadasa Parwa, teks yang diterjemahkan dari epos Mahabharata Sanskerta pada era pemerintahan Dharmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa pada kisaran abad ke-10.
Adi Parwa yang bersumber pada Mahabharata merekam peristiwa pengadukan Lautan Susu (Ksirārnawa) oleh bangsa dewa dan raksasa untuk mendapatkan air suci keabadian (tirtha amreta). Fragmen pengadukan Ksirārnawa sangat terkenal dalam praktik agama Hindu di berbagai belahan dunia sampai saat ini. Cerita ini banyak mengilhami arsitektur bangunan suci, garapan seni pertunjukan, karya seni rupa, dan masih banyak lagi. Tirtha amreta yang muncul dari peristiwa tersebut juga menjadi ruang simbolis bagi manusia untuk senantiasa berupaya keras dalam memutar roda kehidupan.
Teks-teks filsafat seperti Bhuwana Kosa yang beraliran Siwaistis menjelaskan konsep Sapta parwata atau tujuh gunung. Ketujuh gunung ini ada di alam semesta mendampingi tujuh benua (sapta dwipa) dan tujuh samudera (sapta samudra). Ketujuh gunung itu adalah Gunung Himawan, Gunung Hemakuta, Gunung Nisada, Gunung Nila, Gunung Sweta, Gunung Trisrengga, dan Gunung Windya.
Selain sapta parwata, Bhuwana Kosa menjelaskan Pegunungan Manasa yang merupakan tempat suci setana para dewa. Pegunungan Manasa digambarkan sebagai gunung tinggi menjulang yang memiliki delapan puncak di tiap arah mata angin. Pada setiap puncak dewa-dewa yang dikenal sebagai Sang Hyang Asta Rudra berdiam. Adapun puncak gunung di timur bersemayam Sang Hyang Indra, puncak tenggara bersemayam Sang Hyang Agni, puncak selatan bersemayam Sang Hyang Yama, sedangkan pada puncak barat daya bersetana Sang Hyang Neriti. Selanjutnya, pada puncak gunung di sebelah barat bersetana Sang Hyang Baruna, puncak barat laut bersemayam Sang Hyang Bayu, puncak utara bersetana Sang Hyang Soma, dan puncak timur laut adalah tempat bersemayamnya Sang Hyang Rudra.
Teks Bujangga Manik, sebuah warisan susastra Sunda Kuno, menjelaskan perjalanan tokoh bernama Bujangga Manik ke berbagai tempat di Pulau Jawa dan Bali. Teks ini bersaksi tentang sejumlah gunung megah yang menghiasi dua pulau tersebut dalam dua kali perjalanan Bujangga Manik. Beberapa gunung yang direkam dalam teks adalah Gunung Gede, Gunung Burangrang, Gunung Tangkuban Parahu, Gunung Damalung, Gunung Rakata (Krakatau), Gunung Pawitra (Penanggungan), Gunung Brahma (Bromo), dan Gunung Mahameru (Semeru).
Selanjutnya, teks Tantu Panggelaran yang diduga berasal dari periode Majapahit akhir menjelaskan keberadaan gunung-gunung di Pulau Jawa secara lebih puitis. Gunung-gunung di Jawa dinarasikan terlahir sebagai “proyek harmonisasi” yang dijalankan oleh Bhatara Guru. Gunung-gunung yang kini berdiri megah di Jawa itu adalah potongan dari Gunung Mahameru di Jambudwipa. Gunung itu diterbangkan oleh aliansi para dewa, asura, dan bangsa naga ke Pulau Jawa hingga akhirnya menjadi Gunung Kelasa, Gunung Katong, Gunung Wilis, Gunung Kampud, Gunung Kawi, Gunung Arjuna, Gunung Kumukus, Gunung Pawitra (Penanggungan), Gunung Brahma (Bromo), dan Gunung Mahameru (Semeru) yang juga dikenal sebagai Gunung Nisada.
Narasi tentang gunung sebagaimana dijelaskan dalam Tantu Panggelaran tampaknya menjadi inspirasi dalam sejumlah karya sastra yang lahir belakangan dalam tradisi Bali. Teks Usana Bali menjelaskan kondisi Bali pada zaman purba yang awalnya telah ditopang oleh empat buah gunung. Keempat gunung itu adalah Gunung Lempuyang di timur, Gunung Andakasa di selatan, Gunung Beratan di barat, dan Gunung Mala di utara. Namun, keberadaan gunung-gunung tersebut belum mampu mengharmoniskan Pulau Bali secara absolut. Oleh karena itulah Bhatara Pasupati berinisiatif untuk mengupayakan kestabilan penuh Pulau Bali dengan memotong puncak Gunung Mahameru. Potongan gunung itu kelak akan dibagi lagi menjadi dua bagian, yakni menjadi Gunung Tampurhyang (Gunung Batur) dan Gunung Agung.
Sejalan dengan Usana Bali, teks Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul secara lebih rinci menjelaskan gunung-gunung yang menopang Pulau Bali dan Lombok. Menurut teks ini, Bhatara Parameswara mengupayakan keseimbangan Pulau Bali dan Lombok melalui pemotongan puncak Mahameru di Jawadwipa. Potongan puncak Mahameru itu lantas dibagi menjadi tiga bagian. Bagian paling bawah ditempatkan di Bali menjadi Gunung Batur, bagian tengahnya ditempatkan di Lombok menjadi Gunung Rinjani, sedangkan bagian puncaknya menjadi Gunung Agung atau Gunung Tohlangkir.
Ketika Bhatara Parameswara menerbangkan potongan puncak Mahameru, beberapa serpihannya jatuh di Pulau Bali dan menciptakan jaringan pegunungan yang menopang Gunung Batur dan Agung. Sejak peristiwa itu lahirlah deretan gunung yang bagaikan tulang punggung Pulau Bali. Bongkahan-bongkahan puncak Mahameru yang jatuh dan menjadi gunung mengitari Pulau Bali yakni Gunung Tapsai, Gunung Pangelengan, Gunung Mangu, Gunung Silanjana, Gunung Bratan, Gunung Watukaru, Pegunungan Nagaloka, Gunung Pulaki, Gunung Pucak Sangkur, Bukit Rangda, Tratebang, Bukit Padangdawa, Gunung Andakasa, Gunung Huluwatu, Gunung Byaha dan Bwasamuntig, Gunung Lempuyang, dan Gunung Sraya. Seperti halnya penjelasan Bhuwana Kosa, kelak gunung-gunung tersebut akan ditempati oleh para Dewa Nawasangha di setiap arah mata angin.
Karya sastra ciptaan Ida Pedanda Made Sideman yang berjudul Kakawin Purwaning Gunung Agung menulis bahwa Gunung Agung adalah satu-satunya potongan Mahameru yang dibawa oleh Hyang Nilakanta ke Balidwipa. Oleh karena itu, Gunung Agung ditegaskan sebagai pusat orientasi kemakmuran rohani-jasmani Pulau Bali. Meski demikian, Gunung Agung tetap ditopang gunung-gunung lainnya, yakni Gunung Lempuyang, Bukit Abang, Gunung Batur, Gunung Bharata, Gunung Batukaru, Gunung Rata atau Pacatu, Gunung Diwangga, dan Gunung Andakasa.
Sastra Kidung Yadnyeng Ukir karya Ida Pedanda Ngurah dari Tabanan menjelaskan perjalanannya melintasi sejumlah gunung untuk memimpin upacara penyucian dunia. Pada salah satu bagian kisahnya diceritakan lanskap Pulau Bali yang disusun atas deretan pegunungan megah seperti Gunung Agung, Gunung Abang, Gunung Batur, Gunung Peyasan, Gunung Lesung, Gunung Sanghyang, Gunung Asti, Gunung Pucuk, Gunung Galiran Panca Parwata, Gunung Kuntul dan Uma Kori, dan Gunung Rangda. Selain itu juga tampak Gunung Rinjani di Lombok, Gunung Semeru, Gunung Tengger, Gunung Brahma, dan Gunung Rawung di Pulau Jawa.






























