Denpasar, Baliwakenews.com
Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Dauh Puri Kauh, Denpasar, didorong tidak hanya fokus meningkatkan penjualan, tetapi juga memperkuat kemampuan mengelola keuangan, mencatat transaksi, hingga memahami kewajiban perpajakan.
Langkah tersebut dilakukan Universitas Warmadewa melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dengan menghadirkan pendampingan terintegrasi di bidang akuntansi, perpajakan, dan manajemen usaha.
Mengangkat tema “Peningkatan Kinerja UMKM Desa Dauh Puri Kauh melalui Pendampingan Terintegrasi Akuntansi, Perpajakan, dan Manajemen Usaha”, kegiatan ini menyasar persoalan mendasar yang masih dihadapi pelaku UMKM dalam menjalankan bisnis, terutama lemahnya pencatatan keuangan dan pengelolaan aset usaha.
Kegiatan tersebut dihadiri Perbekel Desa Dauh Puri Kauh, Drs. I Gusti Made Suandhi, perangkat desa, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Ketua BUMDes, serta 25 peserta yang terdiri atas pelaku UMKM dan perangkat desa.
Ketua tim PKM, A.A. Ngr. Gde Punia Artawan Putra, S.E., M.Ak., BKP, bersama anggota tim dan mahasiswa Universitas Warmadewa, memberikan edukasi sekaligus pendampingan langsung kepada peserta.
Dalam pemaparannya, Punia Artawan Putra menyoroti kebiasaan pelaku UMKM yang masih mencampurkan uang usaha dengan keuangan pribadi. Praktik tersebut dinilai berisiko karena membuat pelaku usaha kesulitan mengetahui keuntungan bersih, menghitung biaya operasional, hingga menentukan kemampuan keuangan untuk mengembangkan bisnis.
Menurutnya, pengelolaan keuangan sebenarnya tidak harus dimulai dengan sistem akuntansi yang rumit. Pelaku UMKM cukup membangun disiplin melalui pencatatan pemasukan dan pengeluaran secara rutin, menyimpan bukti transaksi, serta memisahkan rekening atau kas usaha dari kebutuhan pribadi.
“Pencatatan keuangan menjadi dasar untuk mengetahui kondisi usaha yang sebenarnya. Dengan begitu, keputusan bisnis tidak hanya berdasarkan perkiraan, tetapi didukung data yang jelas,” ujar Punia Artawan.
Pengelolaan Aset dan Pajak Jadi Sorotan
Selain pencatatan keuangan, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai pengelolaan aset usaha, termasuk pencatatan peralatan operasional dan penyusutannya.
Dalam sesi diskusi, peserta mempertanyakan bagaimana perlakuan akuntansi terhadap pembelian peralatan seperti kompor dan mesin sealer. Narasumber menjelaskan bahwa peralatan yang memenuhi kriteria pengakuan aset dapat dicatat sebagai aset usaha. Selanjutnya, biaya perolehannya dialokasikan melalui penyusutan selama umur manfaat sesuai ketentuan yang berlaku.
Pembahasan kemudian berkembang pada persoalan perpajakan, khususnya fasilitas pajak yang dapat dimanfaatkan pelaku UMKM.
Peserta mendapatkan penjelasan mengenai skema Pajak Penghasilan (PPh) Final UMKM dengan tarif 0,5 persen bagi wajib pajak yang memenuhi persyaratan. Untuk wajib pajak orang pribadi yang memenuhi ketentuan, bagian omzet usaha sampai dengan Rp500 juta dalam satu tahun pajak tidak dikenai PPh Final.
Edukasi ini menjadi penting agar pelaku UMKM tidak keliru memahami kewajiban perpajakan, sekaligus mampu memanfaatkan fasilitas yang disediakan pemerintah sesuai ketentuan.
Universitas Warmadewa Berikan Bantuan Peralatan Usaha
Tidak berhenti pada edukasi, Universitas Warmadewa juga memberikan dukungan nyata berupa bantuan barang modal berupa kompor dan mesin sealer kepada mitra UMKM Desa Dauh Puri Kauh.
Bantuan tersebut diharapkan mampu menunjang proses produksi dan pengemasan produk, sehingga produktivitas serta kualitas hasil usaha dapat semakin meningkat.
Ketua tim PKM, A.A. Ngr. Gde Punia Artawan Putra, menegaskan bahwa pengembangan UMKM tidak cukup hanya dengan meningkatkan kemampuan memproduksi dan memasarkan barang. Kemampuan mengelola keuangan, memahami aset, serta mengambil keputusan bisnis juga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan usaha.
Ia berharap pendampingan tersebut membuat pelaku UMKM lebih percaya diri dalam mengembangkan bisnis, sekaligus tidak lagi menganggap akuntansi dan perpajakan sebagai sesuatu yang rumit.
“Melalui program pengabdian ini, Universitas Warmadewa berupaya menghadirkan penerapan ilmu pengetahuan yang menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung, ” ungkapnya.
Sinergi perguruan tinggi, pemerintah desa, dan pelaku UMKM diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi berlanjut menjadi perubahan nyata dalam tata kelola usaha.
Dengan penguatan literasi keuangan, pemahaman perpajakan, serta dukungan peralatan produksi, UMKM Desa Dauh Puri Kauh diharapkan mampu naik kelas, lebih tertib dalam pengelolaan bisnis, dan memiliki daya saing yang semakin kuat di tengah persaingan pasar. BWN-03
































