I K. Eriadi Ariana
Adaptasi dan Mitigasi
Narasi tentang gunung yang terpancang dalam teks-teks Jawa Kuno menjadi pengingat penting bagaimana gunung digambarkan dalam alam pikiran manusia Nusantara. Berbagai narasi di atas menjelaskan gunung sebagai simbol keseimbangan semesta, pusat kosmis, dan sumber kemakmuran. Oleh karena itulah peran gunung sangatlah sentral dalam mengupayakan hidup yang seimbang dan berkelanjutan. Konsep gunung sebagai pusat keseimbangan kosmis ini tampaknya tidak jauh beranjak dari fungsi ekologis gunung, seperti peran sebagai pusat resapan air dan sumber mineral alami. Fungsi-fungsi ini sangat menentukan dalam kehidupan sebuah ekosistem.
Pada sisi yang lain, gunung juga dipahami menyimpan potensi bencana. Oleh karena itulah beberapa teks merekomendasikan langkah adaptasi dan mitigasi dalam merespons dinamika suatu gunung. Aspek etis eko-spiritual ditempatkan pada posisi sentral melalui simbolisasi gunung sebagai kawasan suci tempat para dewa suci bersemayam. Sistem simbolik ini pada akhirnya diharapkan mampu menjadi alarm bagi manusia agar senantiasa mengingat dirinya sebagai bagian kecil dari alam. Manusia idealnya melakoni hidup pada jalur yang tidak berlawanan dengan cara alam bekerja.
Teks Babad Gumi dan Babad Patisora Rajapurana Pura Ulun Danu Batur mencatat peristiwa-peristiwa penting yang berkaitan dengan aktivitas vulkanik di Bali. Kedua teks mencatat bahwa pada tahun 110 Saka (Geseng Sasi Wak) diklaim teks sebagai masa tegaknya Gunung Batur, sedangkan tahun 111 Saka (Wak Sasi Wak) adalah ditegakkannya Gunung Agung.
Peristiwa vulkanik besar yang dicatat Babad Gumi adalah kejadian pada Anggara (Selasa) Wage Dungulan, Kresnapaksa ke-14 Sasih Kapat tahun 1633 Saka, di mana terjadi erupsi besar Gunung Agung. Peristiwa itu diikuti peristiwa hujan abu pada Anggara (Selasa) Umanis Krulut, gemuruh guntur api pada Sukra (Jumat) Umanis Merakih, hujan kerikil pada Anggara (Selasa) Kliwon, halilintar di angkasa, gempa bumi, dan hujan batu besar dan lahar hingga merusak sejumlah daerah di sekitar Gunung Agung seperti Kayuaya, Bukit, Tigaron, Tianyar, dan Sukadana. Sementara daerah seperti Tulamben, Alas Batudawa, Muntig, Abang, Pidpid, dan Alas Babi dihancurkan oleh lahar.
Sejalan dengan keterangan Babad Gumi, Babad Patisora Rajapurana Batur menjelaskan bahwa pada tahun 1471 Saka (Wani Rsi Angarti Watu) terjadi peristiwa kabuyutan di Besakih yang terbakar hancur. Sementara itu, pada tahun 1472 Saka giliran Gunung Tampurhyang menjadi dua. Pada tahun 1700 Saka juga terjadi blabur dan gni pralaya (kiamat api; lahar?) yang terjadi di gunung. Keterangan ini memang tidak terlalu tegas menjelaskan penyebabnya adalah aktivitas vulkanik, tetapi mengingat konteks narasinya yang berkaitan dengan peristiwa geologis, catatan tersebut sangat mungkin merujuk pada aktivitas dua gunung api aktif tersebut.
Tradisi Bali juga mengenal teks-teks mitigasi berkaitan dengan gempa bumi. Teks-teks jenis ini di masyarakat dikenal sebagai palelindon. Salah satu teks palelindon koleksi salah seorang warga Desa Sembiran, Buleleng menjelaskan ketika terjadi gempa pada Sasih Kasa maka peristiwa itu adalah penanda Bhatari Pretiwi tengah beryoga. Gempa yang terjadi pada Sasih Kasa dipandang sebagai pertanda baik untuk keberlangsungan dunia.
Situasi yang sangat berbeda dijelaskan apabila gempa terjadi pada Sasih Kanem. Apabila pada saat itu terjadi gempa bumi, teks mengklaim sebagai momentum Bhatara Sri beryoga. Gempa bumi yang terjadi pada bulan ini adalah pertanda buruk, di mana akan terjadi banyak wabah penyakit. Pada titik ini, teks palelindon sekiranya bukan hanya berupaya mengomentari suatu peristiwa tektonik maupun vulkanik, tetapi juga alarm pengingat krisis.
Berkaca pada narasi-narasi tersebut, maka aktifnya tujuh gunung di sejumlah titik sekiranya merupakan penanda bagi manusia Indonesia untuk melihat kembali tubuhnya sendiri. Apa yang terjadi saat ini adalah siklus alami, sebagai konsekuensi hidup di kawasan cincin api yang subur dan penuh berkah. Pertanyaan yang lebih penting untuk dijawab justru berkaitan dengan pola adaptasi dan mitigasi untuk bisa bertahan di masa krisis. Sejauh mana kita—terutama pemegang kebijakan—belajar dan menyiapkan sistem mitigasi yang tangguh dan efisien dalam menghadapi krisis ekologis?






























