Legian, Baliwakenews.com
Seni tidak selalu berbicara melalui kanvas atau pahatan. Ia juga bisa hadir melalui gerak tubuh, rancangan busana, dentuman musik, hingga perpaduan material yang melahirkan perspektif baru. Semangat itulah yang dihadirkan Pullman Bali Legian Beach melalui pameran seni tahunan PULLMAN XCHANGE: SYMPHONY OF ELEMENTS 2026, yang digelar pada 23 Oktober 2026.
Berkolaborasi dengan Komunitas Seni Mangurupa, acara ini mempertemukan beragam disiplin kreatif dalam satu panggung. Seni lukis, patung, mode, tari, dan musik dirangkai menjadi sebuah pengalaman artistik yang menempatkan keberagaman sebagai kekuatan untuk membangun dialog kreatif.
Berlokasi di Alun-Alun Garden, Pullman Bali Legian Beach, Legian, Badung, perhelatan tersebut tidak sekadar menawarkan pameran karya seni. Lebih dari itu, Symphony of Elements menjadi ruang pertemuan bagi seniman, pelaku industri kreatif, komunitas, dan pengunjung untuk menikmati bagaimana berbagai ekspresi dapat saling melengkapi.
Di tengah perkembangan pariwisata Bali yang identik dengan keindahan alam dan pengalaman resor, kegiatan ini juga memperlihatkan bagaimana seni dapat menjadi bagian penting dari pengalaman budaya dan gaya hidup kontemporer.
Dua Seniman Indonesia dengan Jejak Internasional
Salah satu daya tarik utama Symphony of Elements 2026 adalah kehadiran karya seni lukis dan patung dari para seniman Komunitas Seni Mangurupa. Dua nama yang mendapat sorotan ialah Tatang Budi Santoso dan I Ketut Putrayasa, seniman Indonesia dengan rekam jejak pameran dan proyek seni di tingkat internasional.
Tatang Budi Santoso dikenal melalui narasi visual yang simbolis dan menggugah pemikiran. Perjalanan artistiknya mencakup partisipasi dalam Olympic Fine Arts 2008 di Beijing dan The 6th Beijing International Art Biennale.
Karyanya yang berjudul Borderless juga menjadi bagian dari koleksi Olympic Museum di Lausanne, Swiss. Pencapaian tersebut menunjukkan bagaimana karya seniman Indonesia dapat melintasi batas geografis dan menjangkau ruang apresiasi seni internasional.
Sementara itu, I Ketut Putrayasa membawa karakter seni patung yang berakar pada kreativitas dan eksplorasi material. Pematung asal Bali ini memiliki pengalaman proyek dan pameran di sejumlah negara, termasuk Belgia, Prancis, Singapura, dan Turki.
Salah satu karya monumentalnya adalah The Octopus Queen, instalasi setinggi 25 meter yang menggunakan anyaman bambu dan meraih rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) pada 2025 sebagai patung terbesar dari anyaman bambu di Indonesia.
Putrayasa juga terlibat dalam pertunjukan Kecak kolosal yang melibatkan 5.555 penari di Pantai Berawa pada 2018, yang turut memperoleh pengakuan MURI.
Kehadiran kedua seniman tersebut memperkaya pameran dengan perspektif berbeda. Lukisan menghadirkan bahasa visual melalui warna, simbol, dan gagasan, sementara patung menawarkan pengalaman ruang melalui bentuk, struktur, dan material.
Di sinilah tema Symphony of Elements menemukan maknanya: perbedaan bukan sesuatu yang harus diseragamkan, melainkan unsur yang dapat dirangkai untuk menciptakan harmoni.
Dari Kanvas ke Panggung Mode dan Gerak
Dialog kreatif dalam Symphony of Elements 2026 tidak berhenti pada karya yang dipajang. Sepanjang acara, pengalaman seni diperluas melalui pertunjukan tari, presentasi mode, dan musik.
Kelompok tari asal Bali, Dance Generation, menghadirkan pertunjukan kontemporer yang memadukan koreografi dinamis dengan elemen akrobatik. Kelompok ini sebelumnya berhasil mencapai babak perempat final Indonesia’s Got Talent 2023.
Melalui gerak tubuh dan komposisi panggung, tari menjadi bahasa artistik yang melengkapi karya visual. Pengunjung tidak hanya melihat seni, tetapi juga menyaksikannya bergerak dan berkembang dalam pertunjukan langsung.
Dunia mode turut mengambil bagian melalui presentasi Debz Collections dan EP Art by Eka Plawa. Koleksi busana ditampilkan oleh para model dengan koreografi dari Lenny Hartono Management.
Manajemen tersebut memiliki portofolio di sejumlah ajang, termasuk New York Fashion Week 2023, Bali International Fashion Festival 2023, dan Miss Teenager Universe 2024.
Khusus EP Art by Eka Plawa, sentuhan tradisi dan kontemporer Bali dihadirkan melalui kostum, arahan artistik, serta presentasi panggung. Perpaduan ini memperlihatkan bagaimana identitas lokal dapat diolah melalui pendekatan kreatif yang relevan dengan perkembangan seni dan mode masa kini.
Sementara itu, DJ Herllyna mengisi suasana dengan musik sepanjang malam. Musik menjadi elemen pengikat yang menyatukan karya seni rupa, pertunjukan tari, dan presentasi busana dalam satu pengalaman yang berkesinambungan.
Komunitas Seni Mangurupa dan Ruang Kreativitas Bali
Di balik penyelenggaraan pameran ini, kolaborasi dengan Komunitas Seni Mangurupa menjadi bagian penting dalam mempertemukan seniman dan publik.
Pameran berada di bawah arahan Dewa Putu Ardana selaku Ketua Umum Komunitas Seni Mangurupa, dengan Ida Bagus Putu Radnyana sebagai Exhibition Project Lead untuk PULLMAN XCHANGE: SYMPHONY OF ELEMENTS 2026.
Kolaborasi antara komunitas seni dan industri perhotelan membuka ruang perjumpaan yang berbeda bagi karya kreatif. Hotel tidak hanya menjadi tempat menginap, tetapi juga dapat berfungsi sebagai ruang apresiasi seni, tempat gagasan bertemu, dan sarana memperkenalkan karya seniman kepada audiens yang lebih luas.
General Manager Pullman Bali Legian Beach, Ravi Khubchandani, mengatakan Symphony of Elements mencerminkan keindahan yang muncul ketika berbagai suara kreatif hadir dalam satu ruang.
Setiap seniman dan disiplin seni, menurutnya, memiliki identitas masing-masing. Namun, ketika dipertemukan, keberagaman tersebut dapat menciptakan koneksi dan perspektif baru.
Melalui kegiatan ini, Pullman Bali Legian Beach ingin menghadirkan pengalaman yang inspiratif dan bermakna bagi para tamu maupun komunitas, sekaligus terus memberikan ruang bagi kreativitas Indonesia.
Seni Tak Berhenti Setelah Malam Pembukaan
Salah satu hal yang membuat Symphony of Elements berbeda adalah keberlanjutan pengalaman seni setelah malam pembukaan berakhir.
Sejumlah karya lukis dan patung tetap ditampilkan di area lobi Pullman Bali Legian Beach. Dengan demikian, seni menjadi bagian dari pengalaman pengunjung dan tamu resor, bukan sekadar pertunjukan sesaat yang berakhir ketika acara selesai.
Pendekatan ini memungkinkan karya seni hadir lebih dekat dengan publik dalam suasana yang berbeda dari galeri konvensional. Pengunjung dapat menjumpai karya di tengah aktivitas mereka, mengamati detailnya, dan membangun interpretasi sendiri terhadap pesan yang disampaikan seniman.
Bagi Bali, ruang seperti ini menjadi salah satu cara memperluas perjumpaan antara seni, pariwisata, dan kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, Symphony of Elements 2026 membawa pesan bahwa kreativitas tumbuh melalui pertemuan. Lukisan, patung, busana, tari, dan musik mungkin memiliki bahasa yang berbeda, tetapi semuanya dapat membentuk satu narasi ketika diberi ruang untuk berdialog.
Dari Legian, Badung, perhelatan ini menghadirkan gambaran bahwa seni Indonesia memiliki ruang untuk terus berkembang, menjangkau audiens yang lebih luas, dan memperkaya pengalaman pariwisata Bali melalui kreativitas serta keberagaman budaya. BWN-03
































