Mangupura, baliwakenews.com
Perumda Air Minum Tirta Mangutama Kabupaten Badung akan melanjutkan penanaman jaringan pipa distribusi bawah laut di perairan Teluk Benoa pada 15 November 2026. Pekerjaan dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kondisi pasang surut air laut yang memengaruhi proses penanaman pipa.
Direktur Utama Perumdam Tirta Mangutama Badung, Wayan Suyasa, mengatakan penanaman pipa ditargetkan mencapai kedalaman 60–80 sentimeter dari permukaan dasar laut. Pekerjaan tersebut ditargetkan rampung pada November 2026. “Proses penanaman pipa akan dilakukan secara bertahap, karena menunggu air surut,” ungkap Suyasa saat dikonfirmasi terkait keberadaan pipa yang melintang di Teluk Benoa.
Menurut dia, kondisi pasang surut air laut menjadi salah satu kendala dalam pelaksanaan pekerjaan. Dalam sebulan, periode air surut berlangsung sekitar 15 hari, dengan durasi kurang lebih empat jam pada setiap periode. Sementara itu, di luar periode tersebut, ketinggian air laut di Teluk Benoa berkisar 70–120 sentimeter. Kondisi ini membuat ponton yang digunakan dalam pekerjaan tidak dapat bergerak secara leluasa sehingga proses penanaman harus disesuaikan dengan situasi di lapangan. “Jadi melihat siklus, nanti tanggal 15 November air laut akan surut. Pekerjaan akan kembali dilanjutkan. Pipa akan ditanam 60–80 cm dari permukaan dasar laut,” jelasnya.
Keberadaan pipa yang masih melintang di perairan Teluk Benoa sebelumnya mendapat sorotan Wakil Ketua II DPRD Badung sekaligus Bendesa Adat Tanjung Benoa, I Made Yonda Wijaya. Dia menilai pipa tersebut sudah terlalu lama belum tertanam sehingga mengganggu estetika kawasan dan berpotensi memengaruhi aktivitas nelayan.
Yonda mengaku awalnya mengira kondisi tersebut hanya bersifat sementara. Namun, setelah beberapa bulan melihat keberadaan pipa saat melintas di Jalan Tol Bali Mandara, dia meminta agar penanaman segera dituntaskan. “Tiang sarankan segera dilakukan penanaman. Jangan lama. Ini harus ditanam. Ini sudah berbulan-bulan. Jangan sampai setahun tidak ditanam-tanam,” ujarnya belum lama ini.
Meski menyoroti kondisi tersebut, Yonda memahami jaringan pipa memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat Badung Selatan. Menurutnya, penyediaan air bersih merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi, terutama di wilayah yang berkembang sebagai destinasi pariwisata internasional.
Namun, dia mengingatkan pembangunan infrastruktur juga perlu memperhatikan estetika dan kelestarian lingkungan pesisir. Selain itu, keberadaan pipa yang belum tertanam dikhawatirkan mengganggu aktivitas nelayan di sekitar Teluk Benoa. Yonda juga mengaku belum pernah menerima sosialisasi secara langsung kepada desa adat di sekitar Teluk Benoa terkait pelaksanaan pekerjaan tersebut. “Syukurnya, kami tidak sampai melakukan aksi protes karena memahami ini untuk kepentingan masyarakat banyak,” ungkapnya.
Dia berharap Perumdam Tirta Mangutama segera menyelesaikan penanaman pipa agar tidak lagi terlihat melintang di permukaan perairan Teluk Benoa. Dengan demikian, kebutuhan penyediaan air bersih dapat terpenuhi tanpa mengabaikan penataan infrastruktur dan kelestarian lingkungan pesisir.
“Harapan tiang, siapa pun yang menjalankan fungsi tugas ini agar segera menindaklanjuti. Pipa itu ditanam sampai tuntas, sehingga tidak terlihat lagi,” pungkasnya. BWN-04
































