Antrean BBM Bali Belum Terurai, Koster Kawal Distribusi hingga Pukul 02.00 WITA

0
Sumber: (Humas) MENGAWAL - Gubernur Bali, Wayan Koster mengawal langsung penanganan antrean BBM di Denpasar hingga Jumat (16/10/2026) dini hari.

Denpasar, Baliwakenews.com

Gubernur Bali, Wayan Koster mengawal langsung penanganan antrean bahan bakar minyak (BBM) di Denpasar hingga Jumat (16/10/2026) dini hari. Setelah mengevaluasi distribusi bersama PT Pertamina (Persero) di Depo BBM Pesanggaran, Koster menyambangi sejumlah SPBU untuk memastikan pelayanan berjalan optimal sekaligus menyerap keluhan masyarakat.

Dalam peninjauan tersebut, Koster meminta Pertamina menambah armada distribusi, mengoptimalkan pelayanan SPBU selama 24 jam, serta mempercepat penyaluran BBM, terutama di wilayah Denpasar dan Badung yang masih mengalami antrean panjang.

Sorotan utama Koster adalah kelancaran distribusi dari depo menuju SPBU. Sebab, berdasarkan informasi Pertamina, stok BBM di Bali masih mencukupi, tetapi antrean panjang tetap terjadi di sejumlah titik.

“Jika stok masih aman, berarti problem saat ini adalah pelayanan pengisian. Penyaluran menggunakan jeriken bagus itu, cepat mengurai antrean karena langsung menyasar konsumen. Tapi kalau jam segini sudah stop, seharusnya sama dilakukan 24 jam juga. Jumlahnya ditambah, siapkan angkutan khusus untuk distribusi, khususnya wilayah prioritas Denpasar dan Badung,” tegas Koster.

Pertamina Siapkan Tambahan 20 Armada Distribusi BBM

Sebelum meninjau SPBU, Koster mendatangi Depo BBM Pesanggaran sekitar pukul 22.00 WITA, Kamis (15/10/2026), setelah menghadiri kegiatan bersama Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Zulkifli Hasan.

Dalam perjalanan menuju depo, Koster bahkan sempat terjebak kemacetan akibat antrean kendaraan di Jalan Sesetan. Karena arus lalu lintas dari kedua arah tidak bergerak, ia turun dari kendaraan dinas dan melanjutkan perjalanan dengan menumpang kendaraan warga.

Di Depo BBM Pesanggaran, Koster bertemu Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri beserta jajaran Pertamina dan PT Pertamina Patra Niaga. Pertemuan membahas kendala operasional, perkembangan distribusi, dan langkah konkret untuk mengurai antrean di SPBU.

Pertamina Patra Niaga menyampaikan rencana penambahan sedikitnya 20 kendaraan distribusi mulai Jumat (16/10/2026), di luar 115 kendaraan yang telah beroperasi. Tambahan armada tersebut diprioritaskan untuk mempercepat pasokan ke SPBU, khususnya di Denpasar dan Badung.

Koster meminta langkah itu segera direalisasikan tanpa menunggu antrean semakin panjang.

“Kalau bisa mulai malam ini, jangan besok. Semakin cepat semakin baik,” pintanya.

Pertamina Patra Niaga juga menyiapkan 3.000 jeriken untuk mendukung percepatan penyaluran BBM. Skema distribusi tersebut diminta dioptimalkan dengan tetap memperhatikan ketentuan keselamatan dan operasional. Opsi pembatasan volume pembelian BBM bagi kendaraan roda dua dan roda empat turut dibahas untuk membantu pemerataan pelayanan.

Tinjau SPBU Pemogan hingga Renon, Warga Keluhkan Pelayanan

Usai pertemuan di depo, Koster bersama Direktur Utama Pertamina dan jajaran terkait turun langsung ke sejumlah SPBU di Denpasar.

Lokasi pertama yang dikunjungi adalah SPBU di jalur Bypass Ngurah Rai, Pemogan. Koster menyapa warga yang mengantre, berdialog dengan petugas, serta berkoordinasi dengan aparat TNI yang membantu pengaturan pelayanan di lapangan.

Pemilik SPBU, Wayan Ekayana, mengusulkan penggunaan kartu atau kupon BBM sebagai mekanisme pengaturan pembelian. Skema tersebut diharapkan memberikan kepastian alokasi bagi konsumen sekaligus mempercepat pengisian dan mengurangi antrean yang mengganggu lalu lintas.

Sekitar pukul 00.30 WITA, rombongan melanjutkan peninjauan ke SPBU lain di kawasan Pemogan. Pengawas SPBU, Wayan Adi Guna, menjelaskan bahwa pelayanan telah berjalan selama 24 jam dengan pembagian petugas dalam tiga sif.

Pasokan BBM di SPBU tersebut juga mengalami peningkatan. Dalam kondisi normal, pengiriman Pertalite dan Pertamax masing-masing sebanyak 8 kiloliter. Namun, dalam kondisi penanganan antrean, total pasokan kedua jenis BBM itu disebut meningkat menjadi sekitar 30 kiloliter.

Peninjauan berlanjut ke SPBU kawasan Hayam Wuruk. Di lokasi ini, warga menyampaikan keluhan mengenai dugaan praktik penjualan BBM eceran dengan harga tidak wajar oleh oknum yang memanfaatkan situasi antrean.

“Tindak saja dengan tegas oknum-oknum seperti itu, Pak Gubernur. Mohon bantuannya kepada aparat yang terkait,” ujar seorang warga.

Warga juga meminta kejelasan informasi jam operasional SPBU. Sejumlah konsumen mengaku telah mengantre cukup lama, tetapi tidak memperoleh BBM karena SPBU berhenti beroperasi tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Keluhan tersebut menjadi perhatian dalam evaluasi pelayanan, terutama terkait kepastian jam operasional dan keterbukaan informasi kepada konsumen.

Antrean Solar hingga Kekhawatiran Warga di Renon

Sekitar pukul 01.30 WITA, Koster menyambangi SPBU Renon. Di lokasi tersebut, warga mengeluhkan sulitnya memperoleh BBM jenis solar. Koster berdialog dengan masyarakat yang masih mengantre dan mendengarkan harapan agar distribusi segera kembali normal.

Koster mengimbau masyarakat tetap tenang dan membeli BBM sesuai kebutuhan. Menurutnya, pembelian berulang akibat kekhawatiran kehabisan BBM berpotensi memperpanjang antrean dan menyulitkan konsumen lain yang benar-benar membutuhkan bahan bakar.

“Kalau panik membeli, seberapa pun disuplai akan terus terasa kekurangan. Normalnya beli dua atau tiga hari sekali, sekarang tiap kurang sedikit langsung beli. Kan menambah antrean jadinya, yang benar-benar membutuhkan ikut kena imbas. Saya jamin ketersediaan stok aman, sesuai informasi dari pihak Pertamina,” tegasnya.

Meski demikian, percepatan distribusi dan kepastian pelayanan tetap menjadi pekerjaan utama yang harus dituntaskan Pertamina. Ketersediaan stok di depo perlu diikuti penyaluran yang lancar dan pelayanan yang konsisten di tingkat SPBU agar masyarakat tidak terus menghadapi antrean panjang.

Evaluasi Berlanjut hingga Dini Hari

Sekitar pukul 02.00 WITA, Koster bersama rombongan kembali ke Depo BBM Pesanggaran untuk melanjutkan evaluasi bersama jajaran Pertamina.

Berbagai temuan selama peninjauan, mulai dari kebutuhan tambahan armada, optimalisasi operasional SPBU 24 jam, pengaturan pembelian, hingga keluhan warga, menjadi bahan pembahasan untuk menentukan langkah lanjutan.

Pemerintah Provinsi Bali mendorong percepatan pemulihan distribusi BBM agar antrean di Denpasar dan Badung segera terurai. Di sisi lain, masyarakat diimbau membeli BBM secara wajar dan tidak melakukan pembelian berlebihan akibat kepanikan.

Ujian berikutnya adalah memastikan tambahan armada benar-benar mempercepat pasokan, jam operasional SPBU berjalan sesuai informasi yang disampaikan, dan BBM dapat diakses masyarakat tanpa antrean berkepanjangan.

Sebab, bagi warga Bali, kepastian pasokan bukan hanya soal stok yang tersedia, melainkan juga kemampuan distribusi dan pelayanan SPBU memenuhi kebutuhan sehari-hari secara tepat waktu. BWN-03

LPS Siapkan Skema Penjaminan Polis, Perusahaan Asuransi Wajib Penuhi Syarat Kesehatan

0
Anggota Dewan Komisioner Bidang Program Penjaminan Polis LPS, Ferdinan D. Purba (tengah), didampingi Direktur Eksekutif Surveilans, Pemeriksaan, dan Informasi Asuransi Suwandi serta Direktur Group Penanganan Klaim Polis Muhamad Yusron.

Mangupura, baliwakenews.com

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyiapkan skema kepesertaan Program Penjaminan Polis Asuransi yang ditargetkan mulai berlaku pada Juli 2027. Dalam tahap persiapan, LPS memfokuskan perhatian pada persyaratan perusahaan asuransi yang akan menjadi peserta, termasuk tingkat kesehatan keuangan dan kesiapan operasional.

Program tersebut merupakan amanat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK). LPS menargetkan program penjaminan polis dapat diaktifkan sebelum 2028 sesuai amanat undang-undang.

Anggota Dewan Komisioner Bidang Program Penjaminan Polis LPS, Ferdinan D. Purba, menyampaikan perkembangan persiapan tersebut dalam pertemuan dengan insan media Bali di Jimbaran, Kamis (15/10/2026). Pertemuan itu turut dihadiri Direktur Eksekutif Surveilans, Pemeriksaan, dan Informasi Asuransi LPS, Suwandi, serta Direktur Group Penanganan Klaim Polis, Muhamad Yusron.

“Menindaklanjuti amandemen UU P2SK, kami di LPS sedang menyiapkan aktivasi Penjaminan Polis Asuransi ini agar dapat berjalan sebelum Tahun 2028 sebagaimana dimandatkan oleh Undang-Undang. Target kami aktivasi dapat berlaku pada Juli 2027,” kata Purba.

Dalam rancangan program tersebut, peserta penjaminan adalah perusahaan asuransi dan perusahaan asuransi syariah yang menyelenggarakan usaha asuransi umum maupun asuransi jiwa. Dengan demikian, masyarakat sebagai pemegang polis bukan peserta program secara langsung, melainkan pihak yang diharapkan memperoleh perlindungan melalui mekanisme penjaminan tersebut.

Sementara itu, asuransi sosial, program asuransi wajib, dan reasuransi tidak termasuk dalam kategori perusahaan yang dapat mendaftarkan diri sebagai peserta program Penjaminan Polis Asuransi.

Kesehatan Keuangan Jadi Persyaratan

LPS menegaskan, meskipun perusahaan asuransi diwajibkan menjadi peserta program sesuai ketentuan UU P2SK, kepesertaan tetap harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Perusahaan perlu mencapai tingkat kesehatan tertentu yang akan dirumuskan LPS melalui koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Penilaian kesehatan keuangan tersebut akan mempertimbangkan Risk Based Capital (RBC), yakni rasio kecukupan modal berbasis risiko yang mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban dan menanggung risiko usahanya.

Persyaratan ini diperlukan untuk menjaga keberlanjutan program sekaligus mengantisipasi risiko kegagalan perusahaan peserta pada tahap awal penerapan. Menurut LPS, penerapan kriteria kesehatan perusahaan juga menjadi praktik di sejumlah negara yang telah menjalankan program penjaminan polis asuransi.

Untuk mengantisipasi perusahaan yang belum memenuhi persyaratan saat proses pendaftaran dimulai, LPS menyiapkan mekanisme pendaftaran bertahap atau phased registration. Melalui skema ini, perusahaan yang belum memenuhi kriteria akan diberikan waktu untuk memperkuat kondisi keuangan dan mempersiapkan kebutuhan operasional.

Dengan mekanisme tersebut, proses pendaftaran diharapkan dapat berjalan seiring dengan kesiapan masing-masing perusahaan, tanpa mengabaikan standar kesehatan yang ditetapkan.

Direktur Eksekutif Surveilans, Pemeriksaan, dan Informasi Asuransi LPS, Suwandi, mengatakan rancangan kepesertaan yang tepat menjadi salah satu faktor penting dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat.

“Yang paling penting, masyarakat perlu mengetahui bahwa melalui rancangan kepesertaan yang tepat, mereka tidak perlu khawatir jika perusahaan asuransinya mengalami kegagalan, manfaat proteksinya tidak lantas hilang. Perusahaan asuransi yang memenuhi kualifikasi juga memiliki kesempatan yang terbuka dan transparan untuk mendaftarkan diri menjadi peserta program,” ujar Suwandi.

Melalui persiapan tersebut, LPS berharap Program Penjaminan Polis Asuransi dapat berjalan sesuai target dan memberikan perlindungan kepada pemegang polis ketika perusahaan asuransi mengalami kegagalan. Pelaksanaannya tetap akan memperhatikan persyaratan kepesertaan, kesehatan keuangan perusahaan, serta kesiapan industri asuransi.BWN-04

Satpol PP Badung Turun ke Antrean BBM, Bagikan Air Mineral dan Kue kepada Pengendara

0
Peduli Pengendara: Personel Satpol PP Badung membagikan air mineral dan kue kepada pengendara yang mengantre BBM di kawasan perbatasan Jimbaran–Benoa.

Mangupura, baliwakenews.com

Antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) yang membuat pengendara harus menunggu berjam-jam mendapat perhatian Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Badung. Sebanyak 14 personel diterjunkan untuk membagikan air mineral dan kue kepada pengendara yang mengantre di kawasan perbatasan Jimbaran–Benoa.

Aksi tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak antrean BBM. Bantuan sederhana itu diharapkan dapat memberikan kenyamanan sekaligus menyemangati pengendara yang harus menunggu lama untuk mendapatkan bahan bakar.

Kepala Seksi Operasional Satpol PP Badung, Made Astika, mengatakan kegiatan tersebut melibatkan 14 personel. Pelaksanaan pembagian air mineral dan kue berlangsung aman dan kondusif.

Menurut Astika, kehadiran personel Satpol PP di tengah antrean tidak hanya berkaitan dengan tugas menjaga ketertiban, tetapi juga menjadi bentuk perhatian terhadap kondisi yang sedang dihadapi masyarakat.

Ia mengimbau para pengendara agar tetap bersabar menghadapi antrean BBM. Masyarakat juga diharapkan saling memahami, menjaga ketertiban, serta menghindari tindakan yang berpotensi memperkeruh situasi.

Ketertiban selama mengantre penting untuk menjaga keamanan di sekitar stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) sekaligus mencegah munculnya persoalan baru yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, Satpol PP Badung berharap dapat memberikan dukungan moral kepada pengendara yang harus menghabiskan waktu cukup lama untuk memperoleh BBM. Di tengah kondisi yang masih berlangsung, kepedulian dan sikap saling menjaga diharapkan dapat membantu masyarakat melewati situasi tersebut sembari menunggu pasokan kembali normal.BWN-04

Skenario Pesawat Hilang di Perairan Serangan, Basarnas Siapkan Strategi Pencarian

0
Kegiatan penyusunan rencana kontingensi SAR untuk mengantisipasi potensi kecelakaan pesawat udara di wilayah Bali Selatan.

Mangupura, baliwakenews.com

Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Denpasar menyusun rencana kontingensi untuk mengantisipasi potensi kecelakaan pesawat udara di Bali. Dalam skenario yang digunakan, sebuah pesawat dilaporkan hilang dari radar di wilayah perairan Serangan, Denpasar Selatan.

Skenario tersebut menjadi dasar untuk memetakan wilayah operasi pencarian, mengidentifikasi sumber daya yang dapat dikerahkan, serta merumuskan mekanisme koordinasi lintas instansi apabila terjadi kecelakaan pesawat udara.

Penyusunan rencana kontingensi berlangsung selama tiga hari, 14–16 Oktober 2026, di Ruang Serbaguna Lantai 3, Gedung Werkudara, Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar. Kegiatan ini melibatkan 80 peserta dari berbagai unsur terkait serta menghadirkan dua narasumber dari Direktorat Operasi Pencarian dan Pertolongan Basarnas.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Denpasar, I Nyoman Sidakarya, menegaskan kesiapan menghadapi keadaan darurat harus dibangun sebelum insiden terjadi. Perencanaan yang matang, koordinasi yang kuat, dan kesiapan sumber daya menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan operasi pencarian dan pertolongan (SAR).

“Kesiapsiagaan tidak boleh dibangun setelah kejadian terjadi. Harus kita persiapkan sebelum kejadian, melalui perencanaan yang matang, koordinasi yang kuat, sumber daya yang siap, serta pemahaman yang sama dari seluruh unsur yang terlibat,” ujar Sidakarya saat membuka kegiatan.

Menurutnya, rencana kontingensi tidak boleh berhenti sebagai dokumen administratif. Dokumen tersebut harus menjadi acuan bersama yang memastikan setiap unsur memahami tugas, tanggung jawab, ketersediaan sumber daya, dan pola koordinasi saat menghadapi kecelakaan pesawat udara.

“Rencana kontingensi bukan sekadar dokumen, tetapi merupakan kesepakatan dan komitmen bersama tentang tugas, peran, sumber daya, serta mekanisme koordinasi yang harus dilaksanakan ketika terjadi kecelakaan pesawat udara,” imbuhnya.

Aktivitas Penerbangan Jadi Perhatian

Penyusunan skenario tersebut dinilai relevan dengan tingginya aktivitas penerbangan di Bali, terutama melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Sepanjang 2025, bandara tersebut mencatat 143.312 pergerakan pesawat, mencakup aktivitas lepas landas dan pendaratan.

Selain penerbangan komersial, aktivitas helikopter untuk mendukung perjalanan bisnis, pariwisata, dan transportasi cepat juga berkembang. Kondisi ini menuntut kesiapan berbagai unsur SAR agar mampu merespons keadaan darurat secara cepat, tepat, dan terpadu.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pemaparan mengenai sistem pencarian dan pertolongan serta tata cara penyusunan rencana kontingensi. Pembahasan dilanjutkan dengan diskusi untuk menyamakan persepsi, mengidentifikasi kebutuhan operasional, dan merumuskan pola koordinasi yang dapat diterapkan di lapangan.

Perwakilan Direktorat Operasi Basarnas, Retno Budiharto, berharap dokumen yang dihasilkan dan disepakati bersama dapat menjadi pedoman bagi seluruh pihak dalam menjalankan tugas saat menghadapi situasi darurat.

“Kami berharap dengan adanya dokumen rencana kontingensi ini, setelah ditandatangani, masing-masing bisa melakukan peran dan tugasnya. Ke depan, koordinasi, solidaritas, kolaborasi, dan sinergitas seluruh potensi SAR di wilayah Kantor SAR Denpasar bisa lebih baik,” ujarnya.

Melalui penyusunan rencana tersebut, pembagian peran dan tanggung jawab setiap unsur diharapkan semakin jelas. Kesiapan personel, ketersediaan sarana dan prasarana, serta kemampuan mengerahkan sumber daya juga menjadi bagian penting yang dipersiapkan untuk mendukung operasi pencarian dan pertolongan.

Basarnas menargetkan rencana kontingensi ini dapat memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi kecelakaan pesawat udara di Bali. Dengan pola koordinasi yang disepakati sebelum keadaan darurat terjadi, setiap unsur diharapkan dapat bergerak sesuai tugas dan kewenangannya sehingga operasi SAR berjalan lebih efektif dan risiko korban jiwa dapat diminimalkan.BWN-04

Ultimatum Pertamina Transparan Data BBM Bali, BEM Unud dan Caipayung Ancam Gelar Aksi Besar

0
BEM Unud bersama Cipayung Plus menggelar aksi di Kantor Pertamina Denpasar, menuntut transparansi data BBM Bali.
BEM Unud bersama Cipayung Plus menggelar aksi di Kantor Pertamina Denpasar, menuntut transparansi data BBM Bali.

Denpasar, Baliwakenews.com – Antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) di Bali belum juga lepas dari keluhan masyarakat. Di tengah ketidakpastian pasokan, mahasiswa BEM Universitas Udayana (Unud) bersama Cipayung Plus mendatangi Kantor Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Sales Area Retail Bali, di Jalan Raya Puputan, Denpasar Barat, Jumat (16/10/2026). Mereka menuntut keterbukaan data BBM dan kepastian kapan distribusi kembali normal.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa diterima oleh officer Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Sales Area Retail Bali. Namun, bagi massa aksi, penjelasan mengenai langkah operasional belum cukup menjawab persoalan mendasar: berapa stok BBM yang tersedia, bagaimana distribusinya ke SPBU, dan kapan masyarakat bisa kembali mengisi bahan bakar tanpa menghabiskan waktu berjam-jam dalam antrean.

Ketua BEM Unud, I Gusti Ngurah Agung Oka Paramahamsa, menegaskan aksi tersebut bukan untuk menyalahkan petugas yang bekerja di lapangan. Ia justru meminta pemerintah dan pimpinan Pertamina yang memiliki kewenangan mengambil keputusan agar bertanggung jawab memberikan penjelasan secara menyeluruh.

“Kami tidak menyalahkan Bapak sebagai officer, tetapi kami menyalahkan pimpinan-pimpinan pemerintah yang berwenang dalam menyelesaikan kondisi seperti ini,” tegasnya dalam orasi.

Menurut Oka, masyarakat membutuhkan informasi yang transparan, bukan sekadar penjelasan mengenai kendala distribusi. Ketika warga harus mengantre berjam-jam, kejelasan mengenai kondisi stok dan target pemulihan pasokan menjadi hal mendesak.

Dampak persoalan BBM, lanjutnya, juga tidak sebatas menghambat mobilitas masyarakat. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi aktivitas ekonomi, pariwisata, hingga pelayanan darurat yang membutuhkan ketersediaan bahan bakar, seperti ambulans dan kendaraan pemadam kebakaran.

“Kami prihatin kepada masyarakat yang menunggu selama berjam-jam. Kami juga prihatin kepada pegawai SPBU yang harus bekerja ekstra untuk membantu penyaluran bahan bakar,” ujarnya.

Tujuh Tuntutan, dari Transparansi Stok hingga Pengawasan Penjualan Ulang

Dalam aksi tersebut, BEM Unud dan Cipayung Plus menyampaikan tujuh tuntutan kepada Pertamina dan pemangku kebijakan terkait.

Pertama, membuka data ketersediaan dan distribusi BBM di Bali, mulai dari jumlah pasokan yang masuk, stok yang tersedia, hingga perkembangan penyaluran ke setiap SPBU.

Kedua, menyelesaikan persoalan pasokan secara konkret dan terukur, disertai kepastian waktu pemulihan agar masyarakat tidak terus terjebak dalam antrean panjang.

Ketiga, membuka informasi mengenai penegakan aturan distribusi BBM serta memperkuat pengawasan untuk mencegah potensi penyimpangan, termasuk dugaan penimbunan dan penyaluran yang menguntungkan pihak tertentu.

Keempat, memprioritaskan pelayanan bagi masyarakat yang membeli BBM untuk kebutuhan kendaraan sendiri, sekaligus mengawasi pembelian menggunakan jeriken atau wadah lain agar tidak disalahgunakan untuk dijual kembali.

Kelima, mempercepat distribusi BBM ke Bali dan membuka informasi mengenai proses penyalurannya.

Keenam, menambah petugas pelayanan di SPBU yang mengalami lonjakan antrean, termasuk mempertimbangkan tenaga cadangan.

Ketujuh, menerapkan strategi yang lebih efektif untuk mengurai antrean kendaraan agar tidak mengganggu mobilitas masyarakat.

Mahasiswa juga mendorong pemerintah daerah dan pihak terkait mengevaluasi pola kerja, termasuk kemungkinan penerapan bekerja dari rumah atau work from home (WFH), apabila dinilai diperlukan untuk mengurangi mobilitas.

Pertamina Paparkan Armada, Mahasiswa Masih Tagih Kepastian

Dalam dialog dengan pihak Pertamina, mahasiswa mempertanyakan langkah penanganan yang telah dilakukan, termasuk penggunaan kendaraan pengangkut berkapasitas kecil untuk membantu distribusi BBM ke sejumlah titik.

Perwakilan Pertamina menjelaskan distribusi menggunakan kendaraan tersebut telah berjalan dan jumlahnya akan ditingkatkan. Namun, pengisian ulang kendaraan setelah BBM habis menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pola penyaluran.

Saat ditanya mengenai jumlah kendaraan yang dikerahkan, perwakilan yang hadir mengaku belum menguasai seluruh data secara terperinci dan menyebut informasi tersebut perlu dikonfirmasi kepada tim terkait.

Terkait armada mobil tangki, Pertamina menyebut terdapat 63 unit armada reguler di Depo Manggis, 36 unit di Depo Sanggaran, serta sembilan unit kendaraan bantuan. Meski demikian, data armada tersebut belum menjawab seluruh pertanyaan mahasiswa mengenai jumlah BBM yang tersedia dan perkembangan distribusi ke masing-masing SPBU.

Pertamina juga menyampaikan bahwa operasional depo telah berlangsung selama 24 jam. SPBU yang sebelumnya tidak beroperasi sepanjang hari turut didorong menambah jam pelayanan sesuai arahan, dengan dukungan personel TNI untuk membantu operasional malam.

Dalam dialog itu, perwakilan Pertamina mengingatkan masyarakat agar tidak membeli BBM berulang kali untuk kemudian menjualnya kembali. Praktik tersebut dinilai berpotensi memperpanjang antrean dan menghambat masyarakat yang benar-benar membutuhkan bahan bakar.

Namun, mahasiswa menegaskan bahwa langkah operasional perlu diikuti keterbukaan data dan kepastian waktu pemulihan. Tanpa informasi yang terukur, masyarakat dinilai masih berada dalam ketidakpastian mengenai kapan situasi kembali normal.

Jelang Nataru, Mahasiswa Siapkan Aksi Susulan

Koordinator lapangan aksi Cipayung Plus, Angger Bayu Pamungkas, yang juga Ketua Biro Advokasi dan Jaringan Eksternal PC PMII Kota Denpasar, mengatakan tuntutan utama mereka adalah kejelasan data dan kepastian penyelesaian persoalan BBM.

Menurutnya, penjelasan yang disampaikan sejauh ini belum menjawab pertanyaan mendasar mengenai penyebab tersendatnya distribusi dan kapan masyarakat dapat kembali memperoleh BBM tanpa antrean panjang.

“Kami tidak memerlukan sekadar penjelasan mengenai jeriken. Kami memerlukan kepastian datanya. Kapan distribusi BBM bisa selesai dan kapan masyarakat bisa mendapatkan BBM tanpa antrean panjang?” ujarnya.

Bayu juga mengingatkan pentingnya evaluasi menyeluruh menjelang periode Natal dan Tahun Baru (Nataru). Pada periode tersebut, kebutuhan BBM berpotensi meningkat seiring mobilitas masyarakat dan kunjungan wisatawan ke Bali.

Ia menilai persoalan yang terjadi pada Oktober ini harus menjadi bahan evaluasi agar kendala serupa tidak kembali membayangi masyarakat pada akhir tahun.

Cipayung Plus, lanjut Bayu, masih membuka ruang dialog dengan pimpinan Pertamina untuk membahas langkah penyelesaian secara konkret. Namun, apabila hingga batas waktu yang diberikan belum ada kepastian, mereka mengancam menggelar aksi susulan dengan jumlah massa lebih besar.

“Kami akan memastikan adanya aksi susulan. Tuntutannya akan lebih konkret. Kami ingin berdialog dan mengetahui bagaimana persoalan ini bisa segera diselesaikan serta tidak terulang pada masa mendatang,” tegasnya.

Aksi tersebut mendapat pengamanan dari puluhan personel Polresta Denpasar yang dipimpin Kapolresta Denpasar Kombes Pol. Leonardo D. Simatupang, S.I.K., M.H.

Leonardo mengatakan kepolisian hadir untuk memastikan mahasiswa dapat menyampaikan aspirasi dan melakukan audiensi dengan pihak Pertamina secara tertib. Menurutnya, pengamanan merupakan bagian dari pelayanan kepada masyarakat yang menyampaikan pendapat di muka umum.

“Kita melayani saja supaya adik-adik menyampaikan aspirasi, audiensi ke pihak Pertamina,” ujarnya.

Ia menegaskan pengamanan dilakukan sesuai kebutuhan untuk menjaga situasi tetap kondusif. Kepolisian berharap penyampaian aspirasi tersebut dapat membuka ruang komunikasi antara mahasiswa dan Pertamina.

Kini, tuntutan mahasiswa mengarah pada dua hal utama: keterbukaan data dan kepastian pemulihan pasokan. Jika jawaban konkret tak kunjung diberikan, BEM Unud dan Cipayung Plus menyatakan siap kembali turun ke jalan dengan kekuatan massa yang lebih besar. BWN-07

Badung Perkuat Ekosistem Digital Untuk Tata Kelola Keuangan Daerah

0
Bupati Wayan Adi Arnawa, saat menghadiri High Level Meeting TP2DD yang dirangkaikan dengan FGD Optimalisasi Digitalisasi Transaksi Keuangan melalui KKPD di Bali Dynasty Resort, Tuban, Kecamatan Kuta, Jumat (16/10).

Mangupura, baliwakenews.com

Pemerintah Kabupaten Badung terus memperkuat transformasi digital dalam tata kelola keuangan daerah. Melalui percepatan dan perluasan elektronifikasi transaksi pemerintah daerah, Pemkab Badung mendorong pemanfaatan teknologi digital untuk mewujudkan pengelolaan keuangan yang lebih efisien, transparan, dan akuntabel, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Komitmen tersebut ditegaskan Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, saat menghadiri High Level Meeting (HLM) Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) yang dirangkaikan dengan Focus Group Discussion (FGD) Optimalisasi Digitalisasi Transaksi Keuangan melalui Kartu Kredit Pemerintah Daerah (KKPD) di Bali Dynasty Resort, Tuban, Kecamatan Kuta, Jumat (16/10).

Bupati Adi Arnawa menyampaikan, digitalisasi menjadi salah satu langkah strategis dalam mendukung modernisasi pengelolaan keuangan daerah. Penerapannya tidak hanya menyasar transaksi penerimaan, seperti pajak dan retribusi, tetapi juga diarahkan pada proses belanja pemerintah melalui penggunaan KKPD.

Menurutnya, Kabupaten Badung memiliki potensi besar dalam mengembangkan elektronifikasi transaksi pemerintah daerah. Dengan sistem pembayaran digital, proses transaksi diharapkan berlangsung lebih cepat, mudah, dan nyaman, serta memiliki tingkat akuntabilitas yang lebih baik.

“Harapan kita, kalau bisa semua proses pengeluaran keuangan di Badung ini berbasis digital. Di balik itu ada hal yang fundamental, terutama efisiensi, akuntabilitas, termasuk percepatan layanan,” ujarnya Jumat pagi.

Ia menegaskan, optimalisasi KKPD menjadi bagian penting dari upaya memperluas penggunaan instrumen pembayaran digital dalam belanja daerah. Karena itu, seluruh perangkat daerah diharapkan dapat memahami mekanisme dan ketentuan pelaksanaannya agar implementasi program berjalan efektif.

Bupati Adi Arnawa pun meminta Sekretaris Daerah Badung mengkoordinasikan seluruh pimpinan perangkat daerah, termasuk pengguna anggaran (PA), kuasa pengguna anggaran (KPA), pejabat penatausahaan keuangan, bendahara pengeluaran, serta administrator KKPD. Keterlibatan seluruh unsur tersebut diperlukan untuk memastikan transformasi digital dapat diterapkan secara optimal.

Melalui forum HLM dan FGD ini, para peserta juga diharapkan memperoleh pemahaman mengenai berbagai tantangan dalam penerapan transaksi keuangan digital. Masukan dari narasumber menjadi bagian penting untuk memperkuat kesiapan perangkat daerah sekaligus mencari solusi terhadap kendala yang dihadapi di lapangan.

Selain mendorong digitalisasi belanja, Pemkab Badung juga menaruh perhatian pada perluasan elektronifikasi transaksi penerimaan daerah. Digitalisasi pembayaran pajak dan retribusi dinilai dapat mendukung peningkatan pendapatan asli daerah (PAD), seiring dengan terciptanya proses pembayaran yang lebih praktis dan transparan.

Bupati Adi Arnawa menyebutkan, keberadaan TP2DD memiliki peran penting dalam memperkuat koordinasi antara pemerintah daerah, lembaga terkait, dan para pemangku kepentingan. Sinergi tersebut diharapkan mampu mendorong inovasi serta mempercepat penerapan elektronifikasi transaksi di lingkungan pemerintah daerah.

“Pemkab Badung berkomitmen untuk terus mendukung program pemerintah dalam membangun ekosistem digital pada pengelolaan keuangan daerah. Dengan penerapan sistem yang semakin terintegrasi, tata kelola keuangan diharapkan semakin efektif dan mampu mendukung pelayanan publik yang lebih berkualitas,” tegasnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Sekda Badung sekaligus Ketua Harian TP2DD, Asisten Bidang Administrasi Umum Kabupaten Badung, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Direktur TI Bank BPD Bali, Kepala Bank BPD Bali Cabang Mangupura dan Puspem Badung, seluruh Kepala OPD lingkup Pemkab Badung, serta PA/KPA dan Bendahara Pengeluaran di lingkungan Pemkab Badung.BWN-HB

Bupati Adi Arnawa dan Wabup Bagus Alit Sucipta Serahkan Hibah Upakara

0
Bupati Wayan Adi Arnawa bersama Wabup Bagus Alit Sucipta menghadiri Karya Ngenteg Linggih dan Wrespati Kalpa di Banjar Puseh, Desa Adat Sading, Kecamatan Mengwi, Kamis (15/10).

Mangupura, baliwakenews.com

Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama Wakil Bupati Badung Bagus Alit Sucipta menghadiri Karya Ngenteg Linggih Padudusan Alit Nyatur, Mupuk Pedagingan, Rsi Gana, dan Wrespati Kalpa di Banjar Puseh, Desa Adat Sading, Kecamatan Mengwi, Kamis (15/10). Karya di Pura Dalem Begawan Penyarikan ini dipuput oleh Ida Pedanda Griya Taman Lukluk.

Seusai persembahyangan bersama tersebut, Bupati Wayan Adi Arnawa dan Wabup Bagus Alit Sucipta menyerahkan bantuan hibah upakara Tahun Anggaran Induk 2026 sebesar Rp 400 juta yang diterima langsung oleh Ketua Panitia Karya, Wayan Sukena.

Bupati Adi Arnawa menyampaikan apresiasi atas semangat gotong royong krama Banjar Puseh dalam menyelenggarakan yadnya. Kehadiran jajaran pimpinan daerah ini merupakan bentuk dukungan sekaligus upasaksi atas pelaksanaan karya suci pasca-pemugaran pelinggih. “Pelaksanaan karya suci ini merupakan wujud nyata sradha bhakti dan rasa syukur kita kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Saya mengapresiasi kebersamaan krama Banjar Puseh dalam melaksanakan yadnya ini. Semoga seluruh rangkaian upacara berjalan lancar, labda karya, serta membawa kesejahteraan bagi seluruh krama,” ujarnya.

Bupati juga mengajak krama untuk senantiasa meningkatkan keharmonisan dan menjaga persatuan. Selain membahas konteks upacara adat, Adi Arnawa secara khusus menyinggung kondisi kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang tengah terjadi di lapangan. Ia mengapresiasi kedisiplinan krama Badung yang tetap tertib saat mengantri di sejumlah SPBU. “Badung merupakan barometer pariwisata yang sangat bergantung pada stabilitas wilayah. Karena itu, keamanan masyarakat menjadi hal fundamental. Saya mengapresiasi krama yang telah menunjukkan kedisiplinan di tengah situasi kelangkaan BBM. Mari kita tetap menjaga suasana yang aman dan nyaman bagi wisatawan yang berkunjung ke Badung,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Karya Wayan Sukena menyampaikan terima kasih atas kehadiran dan bantuan stimulus dari Pemkab Badung. Ia melaporkan bahwa karya serupa terakhir kali dilaksanakan pada tahun 1969 silam. Rangkaian upacara kali ini merupakan hasil paruman krama yang telah dimulai bertahap sejak 24 September 2026.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh anggota DPRD Kabupaten Badung Made Rai Wirata, tokoh masyarakat Wayan Muntra, Lurah Sading Ida Bagus Rai Pujawatra, Bendesa Adat Sading, serta unsur Kelihan Adat dan Dinas se-Kelurahan Sading.BWN-HB

Kunjungan Wisman Bali Diproyeksi Tembus 7,2 Juta pada 2026, Koster Soroti Persaingan Usaha dan Sampah

0
Sumber: (Humas) MEMBUKA - Gubernur Bali, Wayan Koster saat membuka Musda XV ASITA Bali 2026 di Hotel InterContinental Bali, Jimbaran, Kabupaten Badung, Jumat (16/10/2026).

Mangupura, Baliwakenews.com

Gubernur Bali, Wayan Koster memproyeksikan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali mencapai 7,1 juta hingga 7,2 juta kunjungan sepanjang 2026. Di tengah prospek pertumbuhan tersebut, pemerintah daerah menyoroti tantangan penataan industri pariwisata, persaingan usaha yang sehat, persoalan sampah, hingga kemandirian energi.

Proyeksi itu disampaikan Koster saat membuka Musyawarah Daerah (Musda) XV Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Bali 2026 di Hotel InterContinental Bali, Jimbaran, Kabupaten Badung, Jumat (16/10/2026).

Berdasarkan data yang dipaparkan Koster, kunjungan wisman ke Bali sejak Januari hingga 30 September 2026 mencapai 5,2 juta kunjungan. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dengan tren tersebut, Koster optimistis kunjungan wisman sepanjang 2026 dapat melampaui capaian 2025 yang tercatat sebanyak 7,05 juta kunjungan.

“Perkiraannya sekitar 7,1 juta hingga 7,2 juta kunjungan,” kata Koster.

Pariwisata Bali Tak Cukup Hanya Mengejar Jumlah Wisatawan

Di balik proyeksi pertumbuhan kunjungan, Koster mengingatkan bahwa masa depan pariwisata Bali tidak boleh hanya diukur dari banyaknya wisatawan yang datang. Keunggulan adat, tradisi, seni, dan budaya Bali harus tetap menjadi fondasi utama pengembangan destinasi.

Menurutnya, kekayaan budaya merupakan modal yang membuat Bali tetap memiliki daya tarik kuat di mata dunia. Karena itu, seluruh pelaku industri pariwisata memiliki tanggung jawab untuk menjaga aset tersebut, bukan sekadar memanfaatkannya demi keuntungan ekonomi.

“Kita harus tahu bagaimana cara membangun, menjaga, dan merawat pariwisata Bali,” ujarnya.

Koster menyebut sektor pariwisata berkontribusi sekitar 66 persen terhadap perekonomian Bali. Sementara itu, hampir 45 persen dari total kunjungan wisman ke Indonesia disebut mengarah ke Pulau Dewata.

Dengan rata-rata pengeluaran wisatawan sekitar 122 dolar AS per hari, kontribusi devisa pariwisata Bali diperkirakan mencapai Rp176 triliun atau sekitar 55 persen dari total devisa pariwisata nasional.

Besarnya kontribusi tersebut, kata Koster, perlu menjadi pertimbangan pemerintah pusat dalam menyusun kebijakan pembangunan kepariwisataan nasional agar sejalan dengan peran strategis Bali.

Koster Soroti Akomodasi Tak Berizin dan Persaingan Usaha

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian dalam Musda ASITA Bali adalah persaingan usaha di tengah pertumbuhan industri pariwisata.

Koster menyoroti masih adanya akomodasi dan fasilitas pariwisata yang dipasarkan tanpa memenuhi ketentuan perizinan, termasuk melalui platform perjalanan daring atau online travel agent (OTA).

Praktik tersebut dinilai berpotensi menciptakan persaingan tidak sehat karena pelaku usaha yang telah memenuhi perizinan dan kewajiban lainnya harus berhadapan dengan usaha yang tidak mematuhi aturan.

Karena itu, penataan dan pengawasan terhadap usaha pariwisata dinilai penting untuk menciptakan iklim bisnis yang tertib, adil, dan berkelanjutan.

Penegakan aturan juga menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas destinasi Bali. Pertumbuhan jumlah akomodasi dan fasilitas wisata perlu diimbangi kepatuhan terhadap regulasi, sehingga manfaat ekonomi pariwisata tidak dibangun dengan mengabaikan ketertiban usaha.

Sampah dan Kemandirian Energi Jadi Tantangan Bali

Selain tata kelola usaha, Koster menyoroti persoalan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah, yang menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan pariwisata Bali.

Pemerintah Provinsi Bali terus mendorong pengembangan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai salah satu langkah untuk menangani persoalan sampah secara berkelanjutan.

Di sisi lain, Bali juga didorong memperkuat kemandirian energi. Saat ini, pasokan listrik Pulau Dewata masih bergantung pada sistem kelistrikan Jawa yang terhubung melalui jaringan kabel bawah laut.

Untuk mengurangi ketergantungan tersebut, Pemprov Bali mendorong pengembangan pembangkit listrik berbahan bakar gas berkapasitas sekitar 1.550 megawatt serta pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kuota sekitar 1.000 megawatt.

Pengembangan infrastruktur energi itu diarahkan untuk mendukung kebutuhan listrik Bali pada 2031 melalui sumber energi yang lebih ramah lingkungan.

Bagi Bali, persoalan sampah dan energi bukan hanya menyangkut infrastruktur, tetapi juga berkaitan dengan daya dukung lingkungan dan keberlangsungan aktivitas ekonomi, termasuk sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung daerah.

ASITA Bali Didorong Perkuat Profesionalisme Biro Perjalanan

Dalam Musda XV tersebut, Koster berharap ASITA Bali mampu memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus melahirkan program kerja yang menjawab tantangan industri pariwisata.

Ia mengajak seluruh anggota ASITA meningkatkan sinergi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan untuk membangun pariwisata yang berkualitas, meningkatkan pelayanan, serta menciptakan persaingan usaha yang sehat.

Sementara itu, Ketua DPD ASITA Bali I Putu Winastra menyampaikan bahwa ASITA menjadi bagian penting dalam ekosistem pariwisata Bali dengan menaungi ratusan biro perjalanan wisata dan anggota asosiasi.

ASITA Bali, kata Winastra, berkomitmen memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, lembaga, asosiasi, dan pelaku industri untuk meningkatkan profesionalisme usaha perjalanan wisata, mempromosikan kekayaan budaya, serta memperkuat citra Bali dan Indonesia sebagai destinasi unggulan.

Musda XV ASITA Bali diharapkan menghasilkan kepemimpinan, gagasan, dan program kerja yang mampu menjawab kebutuhan industri ke depan.

Dengan proyeksi kunjungan wisman mencapai 7,2 juta pada 2026, tantangan Bali bukan semata-mata mendatangkan lebih banyak wisatawan. Pekerjaan yang tidak kalah penting adalah memastikan pertumbuhan tersebut berjalan seiring dengan kepatuhan usaha, pemerataan manfaat ekonomi, perlindungan budaya, serta terjaganya lingkungan Pulau Dewata. BWN-03

ASITA Bali Ubah Arah Pariwisata, Tak Cukup Kejar Jumlah Wisatawan: Regenerative Tourism Jadi Kunci

0
Sumber: (Purnama) MUSDA - Gubernur Bali, Wayan Koster membuka Musda XV ASITA Bali 2026 di InterContinental Bali Resort, Jimbaran, Jumat (16/10/2026).

Jimbaran, Baliwakenews.com

Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Bali mendorong perubahan arah pembangunan pariwisata Bali. Keberhasilan industri pariwisata tidak boleh lagi hanya diukur dari jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga dari manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal, kelestarian budaya, perlindungan lingkungan, dan kualitas Bali yang diwariskan kepada generasi mendatang.

Pesan tersebut mengemuka dalam Musyawarah Daerah (Musda) XV ASITA Bali 2026 yang dibuka Gubernur Bali, Wayan Koster di InterContinental Bali Resort, Jimbaran, Jumat (16/10/2026). Mengusung tema “Repositioning The Future of Tourism”, forum ini menjadi momentum untuk mengevaluasi peran ASITA di tengah perubahan industri perjalanan wisata dan tantangan keberlanjutan pariwisata Bali.

Ketua DPD ASITA Bali, I Putu Winastra, menegaskan bahwa industri pariwisata perlu berani mengubah cara pandang terhadap keberhasilan sebuah destinasi. Tingginya angka kunjungan tidak otomatis menjamin masyarakat lokal sejahtera, budaya tetap terjaga, dan lingkungan semakin baik.

“Kita harus mulai bertanya: apakah kunjungan mereka memberikan manfaat bagi masyarakat? Apakah ekonomi lokal ikut tumbuh? Apakah budaya kita semakin dihargai dan dilestarikan? Apakah lingkungan kita menjadi lebih baik?” tegas Winastra.

Ia juga mengingatkan pentingnya memastikan generasi mendatang tetap dapat menikmati Bali dengan keindahan alam dan nilai budaya yang sama seperti saat ini.

ASITA Bali Dorong Regenerative Tourism

Salah satu gagasan utama yang didorong ASITA Bali adalah regenerative tourism atau pariwisata regeneratif. Konsep ini melampaui pariwisata berkelanjutan yang berfokus pada pengurangan dampak negatif. Pariwisata regeneratif berupaya memberikan kontribusi positif agar kondisi destinasi menjadi lebih baik.

Bagi Bali, pendekatan tersebut dinilai relevan karena pariwisata tidak dapat dipisahkan dari hubungan antara manusia, alam, budaya, dan spiritualitas.

Menurut Winastra, ASITA memiliki posisi strategis untuk mendorong perubahan tersebut. Sebagai organisasi yang menaungi pelaku usaha perjalanan wisata, ASITA tidak hanya berperan mempertemukan wisatawan dengan destinasi, tetapi juga ikut menentukan pola perjalanan, produk wisata yang dipilih, serta interaksi wisatawan dengan masyarakat setempat.

“ASITA bukan hanya dapat menjadi distributor wisatawan, tetapi juga dapat menjadi pengarah perjalanan menuju pariwisata yang lebih bertanggung jawab, lebih bermakna, dan lebih memberikan manfaat bagi destinasi,” ujarnya.

Langkah konkret yang dapat didorong antara lain memperluas kunjungan ke desa wisata, meningkatkan pembelian produk lokal, mendorong wisatawan menghargai adat dan budaya Bali, menjaga lingkungan, serta memperpanjang lama tinggal wisatawan agar manfaat ekonomi tersebar lebih luas.

Dengan pendekatan tersebut, wisatawan diharapkan tidak sekadar datang, berlibur, lalu pulang. Mereka juga diharapkan memahami karakter Bali, menghormati masyarakatnya, dan memberikan kontribusi positif bagi destinasi yang dikunjungi.

Bukan Sekadar Menjual Bali, tetapi Menjaga Kualitas Destinasi

Perubahan perilaku wisatawan, perkembangan teknologi digital, dan meningkatnya tuntutan terhadap kualitas pengalaman membuat industri perjalanan wisata harus terus beradaptasi.

ASITA Bali memandang repositioning bukan sebagai upaya meninggalkan fondasi organisasi yang telah dibangun para pendahulu, melainkan memperkuatnya agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman.

Orientasi organisasi pun perlu bergerak dari sekadar transaksi bisnis menuju penguatan ekosistem pariwisata. Artinya, pelaku perjalanan wisata tidak cukup hanya menjual paket dan destinasi, tetapi juga ikut menjaga kualitas produk wisata yang ditawarkan kepada pasar internasional.

Tantangan ini menjadi penting bagi Bali, yang citra pariwisatanya bertumpu pada keindahan alam, kekayaan budaya, tradisi, dan kehidupan masyarakat lokal.

Jika kualitas lingkungan menurun, budaya kehilangan ruang, dan masyarakat tidak merasakan manfaat yang sepadan, daya tarik Bali dalam jangka panjang juga berisiko melemah.

Karena itu, keberhasilan bisnis perjalanan wisata perlu berjalan seiring dengan tanggung jawab menjaga keberlanjutan destinasi.

ASITA Bali Perkuat Kolaborasi dengan Pemerintah dan Masyarakat

Dalam arah baru tersebut, ASITA Bali juga menegaskan perannya sebagai mitra strategis pemerintah. Organisasi ini diharapkan tidak hanya menyampaikan aspirasi anggota, tetapi turut menghadirkan pengalaman industri dan solusi berdasarkan kondisi nyata di lapangan.

Kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Bali, pemerintah kabupaten/kota, kementerian, lembaga, asosiasi, dunia usaha, akademisi, media, dan komunitas menjadi bagian penting dalam membangun pariwisata yang lebih berkualitas.

Sebab, tantangan pariwisata Bali tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak. Pemerintah berperan melalui kebijakan, industri memahami kebutuhan pasar, masyarakat menjadi bagian utama kehidupan destinasi, akademisi menghadirkan kajian, dan media membangun pemahaman publik.

ASITA memiliki posisi strategis untuk menjembatani berbagai kepentingan tersebut agar pertumbuhan pariwisata tidak hanya menguntungkan pelaku usaha, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih merata bagi masyarakat Bali.

BBTF Jadi Modal Jejaring Pariwisata Internasional

Komitmen ASITA Bali juga tercermin melalui berbagai program dan jejaring yang telah dikembangkan, termasuk Bali & Beyond Travel Fair (BBTF).

Kegiatan tersebut mempertemukan pelaku industri pariwisata dengan pembeli internasional dari 44 negara dan melibatkan lebih dari 1.000 peserta.

Selain BBTF, kolaborasi dengan destinasi seperti Monkey Forest Ubud, Jatiluwih, dan Pura Besakih, serta kegiatan BALI Tourism Run dan SAKIRA, menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring industri sekaligus memperkuat hubungan organisasi dengan destinasi dan masyarakat.

Di sisi lain, semangat ASITA Care menempatkan kepedulian terhadap masyarakat, lingkungan, dan sesama sebagai bagian dari perjalanan organisasi.

Dengan demikian, keberhasilan ASITA tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis anggotanya, tetapi juga dari kontribusi nyata terhadap masyarakat dan kualitas pariwisata Bali.

Kontribusi 63 Persen Kunjungan Offline, Tanggung Jawab ASITA Makin Besar

Salah satu angka yang disampaikan dalam Musda XV ASITA Bali 2026 adalah sekitar 63 persen kunjungan wisatawan secara offline disebut turut didorong melalui jaringan dan aktivitas anggota ASITA Bali.

Angka tersebut memperlihatkan besarnya peran biro perjalanan wisata dalam menghubungkan pasar dengan destinasi Bali. Namun, besarnya kontribusi itu juga membawa tanggung jawab yang tidak kecil.

Semakin besar kemampuan industri perjalanan wisata mendatangkan wisatawan, semakin penting memastikan aktivitas pariwisata memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, tidak menggerus kualitas lingkungan, dan tetap menghormati budaya lokal.

Dengan kata lain, tantangan ASITA bukan hanya mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya, melainkan turut memastikan bahwa pertumbuhan kunjungan sejalan dengan kualitas pariwisata yang dihasilkan.

Musda XV ASITA Bali Jadi Momentum Menentukan Masa Depan

Musda XV ASITA Bali 2026 tidak hanya menjadi forum organisasi untuk menentukan kepemimpinan, tetapi juga momentum untuk mempertegas arah dan tanggung jawab organisasi dalam menghadapi masa depan pariwisata.

Winastra menekankan bahwa siapa pun yang menerima amanah memimpin ASITA Bali harus mampu melanjutkan capaian sebelumnya, memperbaiki kekurangan, memperkuat organisasi, dan memperbesar manfaat bagi anggota maupun industri pariwisata Bali.

“Jabatan memiliki batas waktu, tetapi pengabdian tidak pernah memiliki batas,” tegasnya.

Pesan tersebut menempatkan regenerasi kepemimpinan sebagai bagian dari kesinambungan pengabdian, bukan sekadar pergantian jabatan.

Pada akhirnya, masa depan pariwisata Bali tidak cukup ditentukan oleh angka kedatangan wisatawan atau besarnya transaksi industri. Ukuran yang lebih mendasar adalah sejauh mana pariwisata mampu menyejahterakan masyarakat, menjaga identitas budaya, melindungi alam, dan mempertahankan kualitas Bali bagi generasi berikutnya.

Melalui semangat “Repositioning The Future of Tourism”, ASITA Bali mendorong perubahan dari pariwisata yang hanya berorientasi pada kedatangan menjadi pariwisata yang memberikan kontribusi positif.

Sebab, tantangan terbesar pariwisata Bali bukan sekadar mempertahankan status sebagai destinasi unggulan dunia, melainkan memastikan Bali tetap menjadi tempat yang layak dihuni, dihormati, dan diwariskan kepada generasi mendatang. BWN-03

Bupati Badung Cup II 2026 Resmi Dibuka, 117 Petenis Berebut Hadiah Rp110 Juta

0
Sumber: (Kominfo Badung) PEMBUKAAN - Kejuaraan Tenis Bupati Badung Cup II Tahun 2026 resmi dibuka di Lapangan Tenis Dharma Praja Lumintang, Jumat (16/10/2026).

Mangupura, Baliwakenews.com

Kejuaraan Tenis Bupati Badung Cup II Tahun 2026 resmi dibuka di Lapangan Tenis Dharma Praja Lumintang, Jumat (16/10/2026). Ajang yang digelar Pengurus Kabupaten (Pengkab) Persatuan Lawn Tenis Indonesia (Pelti) Badung ini diikuti 117 peserta dari berbagai kabupaten/kota di Bali dan luar Bali, dengan total hadiah mencapai Rp110 juta.

Kejuaraan ini mempertandingkan kelompok umur (KU) junior 10, 12, 14, dan 16 tahun, serta kategori senior terbuka. Kompetisi tersebut menjadi bagian dari upaya pembinaan atlet tenis secara berkelanjutan sekaligus memberikan pengalaman bertanding bagi petenis muda maupun senior.

Pembukaan kejuaraan dilakukan oleh Kepala Bidang Kepemudaan dan Olahraga Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Badung, I Putu Oka Adnyana, yang mewakili Bupati Badung.

Dalam sambutan Bupati Badung yang dibacakan Oka Adnyana, Pemerintah Kabupaten Badung mengapresiasi penyelenggaraan kejuaraan tersebut sebagai upaya memperkuat pembinaan dan meningkatkan prestasi olahraga tenis lapangan, khususnya di Kabupaten Badung dan Bali.

Pemkab Badung berharap kejuaraan ini dapat diselenggarakan secara berkelanjutan sehingga semakin banyak generasi muda tertarik menekuni olahraga, menerapkan pola hidup sehat, dan mengembangkan bakat untuk meraih prestasi.

“Pemkab Badung senantiasa mendukung upaya pembinaan olahraga dan peningkatan prestasi atlet. Diharapkan kegiatan ini berkesinambungan sehingga semakin banyak generasi muda yang tertarik berolahraga dan mampu meraih prestasi melalui bakat serta kemampuan yang dimiliki,” demikian disampaikan dalam sambutan tersebut.

Tekankan Sportivitas dan Mental Juara

Selain mengejar kemenangan, para atlet diminta menjadikan Bupati Badung Cup II sebagai ajang mengasah kemampuan, membangun mental juara, dan meningkatkan kualitas permainan.

Bupati Badung juga berpesan agar seluruh peserta bertanding dengan penuh semangat, menjunjung tinggi sportivitas, disiplin, serta saling menghormati.

“Kemenangan memang menjadi tujuan, namun sikap sportif dan semangat untuk terus berkembang merupakan nilai yang jauh lebih penting,” ungkapnya.

Pesan tersebut menjadi penting, terutama bagi atlet junior yang tengah membangun fondasi teknik, mental, dan karakter untuk menghadapi kompetisi tenis pada level yang lebih tinggi.

117 Peserta Bertanding di Lima Kelompok

Ketua Panitia, I Nyoman Adi Wiratma, menjelaskan bahwa Bupati Badung Cup II 2026 berlangsung selama 10 hari, dengan jadwal pertandingan junior pada 16–20 Oktober dan kategori senior pada 21–25 Oktober 2026.

Pertandingan digelar di dua lokasi utama, yakni Lapangan Tenis Dharma Praja Lumintang dan Lapangan Tenis KONI Bali.

Dari total 117 peserta, komposisinya terdiri atas 32 peserta KU 10 tahun, 18 peserta KU 12 tahun, 26 peserta KU 14 tahun, 26 peserta KU 16 tahun, serta 15 peserta kategori senior terbuka. Seluruh kelompok mempertandingkan nomor putra dan putri sesuai kategori yang diikuti.

Kejuaraan ini juga dihadiri perwakilan Pengurus Pelti Provinsi Bali, pengurus Pelti kabupaten/kota se-Bali, KONI Badung, perangkat pertandingan, serta para sponsor.

Target Lahirkan Petenis Berprestasi

Penyelenggaraan Bupati Badung Cup II 2026 diharapkan tidak sekadar menjadi arena perebutan gelar juara dan hadiah, tetapi juga menjadi sarana evaluasi hasil pembinaan atlet tenis di daerah.

Dengan mempertemukan petenis dari berbagai wilayah, kompetisi ini diharapkan mampu meningkatkan jam terbang, memperluas pengalaman bertanding, serta memetakan potensi atlet yang dapat dikembangkan menuju kejuaraan tingkat regional dan nasional.

Panitia berharap ajang ini melahirkan generasi petenis baru yang mampu berprestasi dan mengharumkan nama Kabupaten Badung, Bali, serta Indonesia di masa mendatang. BWN-03/Kominfo

DPRD Badung Dalami Kendala Pendaftaran Pura dan Akses Bantuan

0
PERMOHONAN-Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti bersama Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Drs. I Nengah Duija, M.Si., di Ruang Kerja Ketua DPRD Badung saat membahas mengenai banyak permohonan tanda daftar pura di Kabupaten Badung masih belum diproses.

Mangupura, Baliwakenews.com


Sekitar 400 permohonan tanda daftar pura di Kabupaten Badung masih belum diproses. Persoalan administrasi ini menjadi perhatian dalam pertemuan Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti dengan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Drs. I Nengah Duija, M.Si., di Ruang Kerja Ketua DPRD Badung, Kamis (15/10).

Tanda daftar pura tidak sekadar menjadi dokumen pendataan rumah ibadah di tingkat pusat. Kelengkapan administrasi tersebut juga menjadi salah satu persyaratan penting dalam pengajuan bantuan pemerintah. Karena itu, percepatan proses pendaftaran diperlukan agar pengempon pura memiliki kepastian administrasi ketika mengakses program bantuan sesuai ketentuan.

Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI, I Nengah Duija, menjelaskan, proses pendaftaran pura sebelumnya masih dilakukan secara manual sehingga terjadi penumpukan permohonan yang jumlahnya mencapai hampir 20.000. Pihaknya terus berupaya mempercepat penyelesaian permohonan agar pengempon pura dapat memperoleh tanda daftar.

“Pada prinsipnya kita sama-sama ingin mempermudah dan mencoba mempercepat akses para pengempon pura yang mendaftarkan puranya untuk mendapatkan tanda daftar. Pentingnya pendaftaran ini bukan hanya untuk mendapatkan bantuan,” ungkap Duija.

Menurut dia, kelengkapan administrasi dapat menentukan kelancaran pengajuan bantuan. Ia mencontohkan pengalaman penanganan bencana di Medan, ketika pengajuan bantuan hampir Rp11 miliar telah disetujui Presiden, tetapi terkendala karena tidak tersedianya penerima yang memiliki tanda daftar. Akibatnya, pengajuan tersebut harus direvisi menjadi Rp700 juta.

Duija menyebutkan, hingga 12 Oktober 2026, pihaknya telah menyelesaikan lebih dari 20.000 permohonan. Sementara itu, di Kabupaten Badung, sekitar 400 permohonan masih belum diproses. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya percepatan pelayanan sekaligus ketertiban pendataan agar proses administrasi pura tidak menjadi kendala dalam mengakses bantuan pemerintah.

Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti yang dihubungi, Jumat (16/10) membenarkan adanya pertemuan tersebut. Pihaknya menyambut baik penjelasan Ditjen Bimas Hindu. Saat itu pihaknya didampingi Ketua Komisi III DPRD Badung I Made Ponda Wirawan, anggota Komisi III I Nyoman Satria, Sekda Badung Ida Bagus Surya Suamba, dan Sekretaris DPRD Badung I Gde Surya Kurniawan,

“Kami membahas sejumlah kewenangan Ditjen Bimas Hindu yang berkaitan dengan urusan keagamaan di daerah,” ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, pertemuan saat itu turut dihadiri Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Badung I Made Subawa.

“Pembahasan terkait tanda daftar pura menjadi bagian dari upaya kami di DPRD Badung memperdalam pemahaman terhadap kebijakan dan mekanisme pelayanan Ditjen Bimas Hindu. Informasi tersebut akan menjadi bekal dalam rencana konsultasi pimpinan dan anggota DPRD Badung terkait kewenangan pemerintah pusat dalam pembinaan umat Hindu, ” tegasnya.

Politisi asal Kuta ini juga mengatakan, percepatan penyelesaian permohonan yang masih tertunda menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian. “Dengan administrasi yang tertib dan proses pelayanan yang lebih cepat, pengempon pura diharapkan memperoleh kepastian pendaftaran serta kemudahan dalam memenuhi persyaratan program bantuan pemerintah,” paparnya. BWN-05

I Gusti Lanang Umbara: Distribusi BBM Tersendat, Ekonomi dan Citra Pariwisata Bali Terancam

0
LANANG UMBARA-Wakil Ketua Komisi I DPRD Badung, I Gusti Lanang Umbara, S.Sos.

Mangupura, Baliwakenews.com


Krisis bahan bakar minyak (BBM) yang memicu antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Bali menuai sorotan DPRD Badung. Kondisi ini dinilai tidak hanya mengganggu mobilitas masyarakat, tetapi juga berpotensi merugikan perekonomian daerah dan mencoreng citra Bali sebagai destinasi pariwisata internasional.

Wakil Ketua Komisi I DPRD Badung, I Gusti Lanang Umbara, S.Sos., mendesak pemerintah pusat dan PT Pertamina segera mengambil langkah konkret untuk memulihkan pasokan dan distribusi BBM. Salah satu langkah yang dinilai mendesak adalah memastikan kecukupan armada pengangkut BBM, mulai dari kapal pemasok hingga kendaraan distribusi ke SPBU.

Politisi PDI Perjuangan tersebut mengaku prihatin dengan kondisi yang terjadi di Bali. Menurutnya, gangguan pasokan BBM tidak semestinya dibiarkan berlarut-larut, terlebih Bali merupakan salah satu destinasi wisata internasional yang membutuhkan dukungan transportasi dan mobilitas yang lancar.

“Yang pertama, jelas kami prihatin, sangat prihatin dan sangat menyesalkan kok bisa seperti ini. Sedangkan Bali itu adalah tujuan pariwisata internasional,” ujar Lanang Umbara, Jumat (16/10).

Menurut politisi asal Petang ini, dampak krisis BBM dirasakan berbagai lapisan masyarakat. Pekerja, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga pengusaha pariwisata berpotensi mengalami kerugian akibat waktu produktif yang tersita untuk mengantre bahan bakar.

Antrean kendaraan juga dapat menghambat distribusi barang, mengganggu operasional usaha, serta memperlambat mobilitas pekerja dan pelayanan kepada wisatawan.

“Ini sangat merugikan masyarakat secara umum. Baik masyarakat kecil, seperti para pekerja dan UMKM, maupun pengusaha-pengusaha kita yang ada di Bali sebagai kawasan industri pariwisata,” tegasnya.

Lanang Umbara mempertanyakan tata kelola penyediaan dan distribusi BBM hingga terjadi antrean panjang di sejumlah SPBU. Ia meminta pemerintah pusat mengevaluasi persoalan tersebut bersama Pertamina agar hambatan dalam rantai pasokan dapat segera diidentifikasi dan ditangani.

“Bagaimana regulasi dari pemerintah pusat? Berarti kan ada kesalahan dari pemerintah pusat,” katanya.

Lanang Umbara secara khusus meminta Direktur Utama Pertamina tidak berhenti pada pernyataan bahwa pasokan BBM akan segera normal. Ia menginginkan langkah operasional yang jelas, terutama terkait penambahan dan kesiapan armada pengangkut BBM menuju Bali maupun dari titik pasokan ke SPBU.

“Dirut Pertamina jangan umum-umum saja. Segera realisasikan bagaimana caranya penambahan armada. Armada itu dari kapalnya yang menyuplai BBM ke Bali. Setelah dari kapal, armada terkait dengan pengangkutan ke SPBU-SPBU,” tegasnya.

Menurutnya, pemulihan distribusi harus dilakukan secara menyeluruh. Ketersediaan BBM di titik pemasok perlu diimbangi dengan kapasitas angkut dan kelancaran penyaluran hingga ke SPBU. Tanpa dukungan distribusi yang memadai, penambahan pasokan belum tentu langsung menjawab persoalan antrean di lapangan.

Ia juga meminta Pertamina memberikan kepastian mengenai target waktu pemulihan pasokan. Informasi yang jelas dinilai penting untuk meredam kekhawatiran masyarakat yang berbondong-bondong mengisi BBM karena takut kehabisan.

“Bisa memberikan jaminan kepada masyarakat kita bahwa satu hari, dua hari akan normal. Sehingga masyarakat kita juga, karena takut mereka tidak dapat BBM, ikut berbondong-bondong ke SPBU-SPBU. Tapi wajar saja, karena masyarakat kita membutuhkan BBM untuk bekerja dan melaksanakan aktivitas lainnya,” ungkapnya.

Menurut Lanang Umbara, imbauan agar masyarakat tidak panik perlu disertai jaminan ketersediaan BBM yang nyata. Pemerintah dan Pertamina juga diharapkan menyampaikan informasi secara akurat dan konsisten agar masyarakat memiliki kepastian dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Lebih lanjut, Lanang Umbara mengingatkan bahwa persoalan BBM di Bali tidak bisa dipandang semata-mata sebagai gangguan pelayanan di SPBU. Sebagai daerah yang perekonomiannya sangat bergantung pada pariwisata, kelancaran pasokan energi menjadi salah satu faktor penunjang aktivitas ekonomi dan pelayanan wisatawan.

Antrean panjang berpotensi menghambat operasional kendaraan wisata, mobilitas tenaga kerja, serta distribusi kebutuhan usaha. Apabila berlangsung berkepanjangan, kondisi tersebut dikhawatirkan turut memengaruhi kenyamanan masyarakat dan persepsi wisatawan terhadap kesiapan Bali sebagai destinasi internasional.

“Ini tidak hanya merugikan dan menyusahkan rakyat, tetapi juga mencoreng wajah negara dan Bali khususnya,” tegasnya.

Terkait penanganan di daerah, Lanang Umbara menilai pemerintah provinsi perlu terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat dan Pertamina. Pengawasan kondisi di lapangan juga diperlukan agar persoalan distribusi dapat segera ditindaklanjuti sesuai kewenangan masing-masing.

Ia berharap koordinasi tersebut menghasilkan langkah terukur, mulai dari identifikasi hambatan pasokan, pemenuhan kebutuhan armada pengangkut, hingga percepatan penyaluran BBM ke SPBU yang mengalami kekurangan.

Lanang Umbara menegaskan, masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar janji bahwa kondisi akan kembali normal. Kepastian pasokan menjadi kebutuhan mendesak agar pekerja dapat kembali beraktivitas, pelaku usaha menjalankan kegiatan ekonomi, dan pelayanan pariwisata tidak terus terganggu. BWN-05

Gangguan BBM Ungkap Kerentanan Layanan Dasar Bali, Akademisi Soroti Distribusi, Transparansi Pasokan, dan Dampak terhadap UMKM

0
I Wayan Suwendra, tokoh Kuta Selatan sekaligus akademisi yang menyoroti kerentanan distribusi BBM di Bali.

Mangupura, baliwakenews.com

Gangguan pasokan bahan bakar minyak (BBM) di Bali selama sepekan terakhir menjadi pengingat pentingnya membangun sistem distribusi energi yang tangguh di daerah tujuan wisata. Antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) tidak hanya menyangkut ketersediaan BBM, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi, keberlangsungan usaha kecil, dan layanan pariwisata.

Tokoh Kuta Selatan yang juga akademisi, Wayan Suwendra, menilai kondisi tersebut perlu menjadi momentum untuk membenahi tata kelola distribusi BBM, memperkuat koordinasi antarlembaga, serta membangun sistem informasi pasokan yang transparan dan mudah diakses masyarakat.

Menurut dosen salah satu perguruan tinggi di Bali tersebut, reputasi Bali sebagai destinasi wisata kelas dunia harus ditopang layanan dasar yang andal. Keindahan alam dan kekayaan budaya tidak akan cukup apabila mobilitas masyarakat, distribusi barang, serta kebutuhan operasional usaha mengalami gangguan.

“Pariwisata Bali sangat bergantung pada mobilitas. Ketika pasokan BBM terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan pengemudi atau pelaku transportasi, tetapi berpotensi menjalar ke seluruh rantai usaha pariwisata,” demikian pandangannya.

Gangguan pasokan BBM berpotensi menimbulkan efek berantai, mulai dari keterlambatan penjemputan wisatawan dan terganggunya perjalanan menuju objek wisata hingga meningkatnya biaya operasional kendaraan. Distribusi bahan pangan serta kebutuhan hotel dan restoran juga dapat terdampak apabila transportasi barang tidak berjalan lancar.

Suwendra mengingatkan, ketidakpastian transportasi yang terjadi berulang kali dapat memengaruhi kenyamanan wisatawan selama berada di Bali. Pengalaman perjalanan merupakan bagian penting dari penilaian terhadap destinasi, terlebih pada era digital ketika keluhan maupun pengalaman wisatawan dapat dengan cepat menyebar melalui media sosial dan platform ulasan.

Karena itu, penanganan gangguan pasokan perlu dilakukan secara cepat dan terukur, disertai komunikasi publik yang jelas. Meski demikian, dampak langsung kelangkaan BBM terhadap jumlah kunjungan wisatawan perlu dibuktikan melalui data yang akurat, termasuk pemantauan aktivitas transportasi dan operasional usaha pariwisata.

UMKM Ikut Menanggung Dampak

Selain sektor pariwisata, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian dalam penanganan gangguan pasokan BBM.

Pengemudi wisata, pedagang, pemasok bahan makanan, usaha laundry, hingga berbagai usaha pendukung pariwisata bergantung pada kelancaran transportasi. Bagi pelaku usaha dengan modal dan arus kas terbatas, waktu tunggu yang lebih panjang serta tambahan biaya operasional dapat langsung mengurangi pendapatan bersih.

Apabila kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, pelaku usaha berpotensi menyesuaikan harga barang maupun jasa untuk menutup kenaikan biaya. Tekanan itu pada akhirnya dapat dirasakan masyarakat dan berpengaruh terhadap daya saing layanan wisata Bali.

Menurut Suwendra, penanganan persoalan BBM perlu mempertimbangkan karakteristik dan kebutuhan setiap wilayah, terutama kawasan wisata dan simpul transportasi dengan mobilitas tinggi. Penanganan tidak semestinya hanya dilakukan ketika antrean sudah mengular, tetapi harus ditopang perencanaan distribusi dan mekanisme antisipasi yang terukur.

Tiga Langkah Pembenahan

Untuk memperkuat ketahanan pasokan BBM di Bali, Suwendra mendorong tiga langkah pembenahan kebijakan.

Pertama, melakukan audit cepat terhadap pola distribusi dan kebutuhan BBM di setiap wilayah, termasuk kawasan pariwisata dan simpul transportasi. Pemetaan tersebut diperlukan untuk mengidentifikasi wilayah yang membutuhkan perhatian khusus sekaligus menjadi dasar penyesuaian distribusi. Hasil evaluasi juga perlu dipublikasikan secara berkala agar masyarakat dan pelaku usaha memperoleh informasi yang jelas mengenai kondisi pasokan.

Kedua, menetapkan protokol penanganan krisis yang terukur. Protokol ini perlu memuat pembagian tanggung jawab, pola koordinasi antarlembaga, standar komunikasi kepada masyarakat, serta mekanisme penentuan prioritas bagi layanan esensial secara transparan.

Ketiga, membangun dashboard informasi pasokan BBM dan kondisi SPBU berbasis data terverifikasi. Sistem ini diharapkan memungkinkan masyarakat mengetahui kondisi pasokan di lapangan sehingga dapat merencanakan perjalanan dengan lebih baik dan tidak bergantung pada informasi yang belum terkonfirmasi.

Keberadaan sistem informasi yang mudah diakses juga penting untuk mendukung komunikasi antara pemerintah, penyedia BBM, pelaku transportasi, dan masyarakat. Dengan informasi yang jelas, penanganan gangguan diharapkan lebih terkoordinasi dan risiko kepanikan akibat simpang siur informasi dapat ditekan.

Suwendra menilai, ketiga langkah tersebut harus diarahkan untuk membangun sistem distribusi yang lebih siap menghadapi gangguan, bukan sekadar menyelesaikan antrean yang muncul di SPBU.

Bagi Bali, keandalan pasokan BBM merupakan bagian penting dari ketahanan ekonomi daerah. Kelancaran distribusi energi menopang aktivitas masyarakat, operasional usaha kecil, transportasi wisata, serta rantai pasok kebutuhan hotel dan restoran.

Karena itu, gangguan yang terjadi perlu menjadi bahan evaluasi bersama untuk memperkuat sistem distribusi, meningkatkan transparansi informasi, dan memastikan layanan dasar tetap berjalan ketika terjadi tekanan pasokan.

Upaya tersebut penting agar Bali tidak hanya dikenal karena daya tarik wisatanya, tetapi juga memiliki sistem pendukung yang andal bagi masyarakat, pelaku usaha, dan wisatawan.BWN-04

Tradisi dan Tubuh Perempuan Bali Jadi Sorotan di Museum Pasifika

0
Seniman: Sebanyak 47 karya dari 30 seniman perempuan asal 12 negara dipamerkan dalam Women Artists of Asia-Pacific: Nostalgia = Transendensi di Museum Pasifika, Nusa Dua.

Mangupura, baliwakenews.com

Representasi perempuan Bali dalam industri pariwisata menjadi salah satu isu yang diangkat dalam pameran internasional Women Artists of Asia-Pacific: Nostalgia = Transendensi di Museum Pasifika, kawasan Nusa Dua, Badung. Melalui karya seninya, Luh De Gita mempertanyakan cara perempuan dan tradisi Bali kerap ditampilkan sebagai daya tarik visual tanpa sepenuhnya memperhatikan nilai sejarah, budaya, dan spiritualitas yang melekat di dalamnya.

Gagasan tersebut menjadi bagian dari beragam perspektif yang dihadirkan dalam pameran yang dibuka pada Jumat (9/10/2026) malam. Sebanyak 47 karya dari 30 seniman perempuan asal 12 negara dipamerkan melalui berbagai medium, mulai dari lukisan, patung, tekstil, bordir, tenun, instalasi, suara, hingga tubuh sebagai medium artistik.

Pameran ini menjadi ruang bagi seniman perempuan lintas generasi untuk menyampaikan pandangan mengenai ingatan, identitas, kebudayaan, serta hubungan manusia dengan lingkungan. Karya-karya yang ditampilkan juga merekam perjalanan seni perempuan selama lebih dari satu abad, dari pengaruh tradisi hingga perkembangan seni kontemporer.

Pembukaan pameran dilakukan Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, H. Giring Ganesha Djumaryo, bersama Prof. Ir. Wiendu Nuryanti. Kegiatan tersebut sekaligus menegaskan pentingnya ruang bagi perempuan untuk menampilkan pengalaman dan gagasan artistik dalam perkembangan seni di kawasan Asia-Pasifik.

Wamen Kebudayaan Giring Ganesha menegaskan komitmen Kementerian Kebudayaan untuk mendukung ruang-ruang seni yang memberikan kesempatan lebih luas bagi karya perempuan agar dikenal masyarakat, termasuk seniman dari Bali dan kawasan Asia-Pasifik.

“Sebagai seorang seniman sendiri, saya sangat memahami kekuatan seni. Sebuah lagu, sebuah lukisan, keduanya dapat membuat kita jatuh cinta. Mereka dapat membuat kita merasa menang atau bahkan benar-benar hancur. Kebangkitan kita, emosi kita, dan mengingatkan kita dengan sesama,” ujarnya.

Director of Operations Museum Pasifika, Laksmi Sugiri, menjelaskan bahwa tema Nostalgia = Transendensi menggambarkan bagaimana pengalaman masa lalu, tradisi, dan pengetahuan budaya dapat diolah kembali menjadi ekspresi baru yang relevan dengan perkembangan zaman.

Menurutnya, pameran dibagi menjadi tiga bagian, yakni The Beginning, Memory & Identity, dan Transformation. Ketiganya menggambarkan perjalanan serta pendekatan berbeda dalam perkembangan seni perempuan.

Bagian The Beginning menampilkan karya-karya modern yang merekam kehidupan, lanskap, dan kebudayaan. Sementara itu, Memory & Identity mengangkat ingatan personal, keluarga, serta identitas. Adapun Transformation memperlihatkan bagaimana warisan budaya dapat ditafsirkan kembali menjadi bentuk artistik yang lebih beragam.

“Selain lukisan dan patung, pengunjung dapat menjumpai eksplorasi tekstil, bordir, tenun, instalasi, suara, dan tubuh sebagai medium ekspresi,” jelas Laksmi.

Perspektif kebudayaan Bali juga hadir melalui karya Mangku Muriati. Seniman asal Bali tersebut menampilkan lukisan bercorak Kamasan yang mengangkat flora dan fauna. Karyanya menggambarkan keterkaitan manusia dengan alam sekaligus nilai keseimbangan kehidupan yang menjadi bagian penting dalam kebudayaan Bali.

Mangku Muriati mengaku bangga dapat menampilkan karya bersama seniman perempuan dari berbagai negara. Keikutsertaannya dalam pameran internasional tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan karya dan pemikiran perempuan kepada khalayak yang lebih luas.

Berbeda dengan Mangku Muriati yang menyoroti hubungan manusia dengan alam melalui tradisi seni lukis Kamasan, Luh De Gita mengangkat persoalan representasi perempuan Bali dalam industri pariwisata.

Melalui karyanya, Luh De Gita mengkritisi cara perempuan, khususnya penari yang berkaitan dengan tradisi sakral, kerap ditampilkan sebagai simbol eksotisme. Ia mempertanyakan pandangan yang menempatkan tubuh perempuan dan tradisi sebatas daya tarik visual, padahal keduanya memiliki nilai sejarah, budaya, dan spiritualitas yang tidak dapat dilepaskan dari konteksnya.

Persoalan tersebut membuka ruang refleksi mengenai bagaimana tradisi dan identitas perempuan ditampilkan kepada publik, terutama dalam konteks pariwisata yang kerap menjadikan kebudayaan sebagai bagian dari daya tarik destinasi.

Founder Museum Pasifika, Philippe Augier, turut menyoroti peran seniman perempuan dalam perjalanan sejarah seni. Pameran ini menghadirkan karya dari sejumlah generasi seniman yang berkarya ketika perempuan belum memperoleh pengakuan setara di dunia seni.

Jejak karya sejumlah seniman yang ditampilkan juga tercatat dalam koleksi berbagai institusi seni internasional, di antaranya The Metropolitan Museum of Art, British Museum, National Gallery Singapore, National Gallery of Australia, dan Art Institute of Chicago.

Pembukaan pameran turut dirangkaikan dengan kegiatan Artists Talk. Forum ini menjadi ruang bagi para seniman untuk berbagi pengalaman, proses kreatif, serta gagasan yang melatarbelakangi karya-karya mereka.

Melalui pertemuan beragam perspektif tersebut, pameran Women Artists of Asia-Pacific: Nostalgia = Transendensi tidak sekadar menampilkan perjalanan seni perempuan, tetapi juga membuka ruang refleksi mengenai identitas, pelestarian tradisi, dan cara kebudayaan dimaknai di tengah perubahan zaman.BWN-04

Get Set for a Korean Pop Christmas! Lights, Music and Festive Magic Await at Resorts World Sentosa

0
Resorts World Sentosa’s Season of Joy brings K-pop beats, dazzling Christmas attractions and immersive festive experiences to Singapore from November 27, 2026, to January 3, 2027.
Resorts World Sentosa’s Season of Joy brings K-pop beats, dazzling Christmas attractions and immersive festive experiences to Singapore from November 27, 2026, to January 3, 2027.

Baliwakenews.com – Christmas is getting a K-wave makeover at Resorts World Sentosa (RWS), where festive traditions meet Korean pop culture, immersive attractions and spectacular entertainment in a resort-wide celebration running from November 27, 2026, to January 3, 2027.

Dubbed Season of Joy, the celebration brings a fresh blend of music, colour and festive experiences to Singapore, inviting families, friends and travellers to enjoy everything from glowing underwater wonders and Christmas-themed adventures to K-pop beats, seasonal dining and exclusive holiday stays.

The festivities will span Singapore Oceanarium, Universal Studios Singapore, Adventure Cove Waterpark and WEAVE, with more entertainment and surprises set to be announced as the season unfolds.

“Season of Joy brings the whole resort together for Christmas, with different experiences unfolding from day into night,” said Lena Lee, Executive Vice President of Attractions & Destination Experience at Resorts World Sentosa.

She added that Korean influences would introduce contemporary energy through music, entertainment and culture while preserving the warmth and traditions of Christmas.

Seven Colours, Thousands of Wishes

At the heart of this year’s celebration is Colours of our Wishes, an interactive festive installation inviting guests to share their hopes for the season.

Visitors can select one of seven coloured ribbons representing Love, Joy, Hope, Resilience, Dreams, Togetherness or New Beginnings, write a personal wish and add it to the installation. As more visitors participate, their individual wishes will combine to create a colourful collective Christmas display.

An eight-metre Christmas tree will anchor the celebrations, while festive installations across the resort offer colourful backdrops for holiday photos. At WEAVE, visitors can enjoy pop performances, weekend jazz, Christmas carols, balloon sculpting and family entertainment. Santa Claus will also welcome guests at the Holiday Audio Lounge in a playful, festive living-room setting ahead of Christmas.

Guests spending at least S$88 across up to two same-day receipts at WEAVE will receive a Gori-knot keychain in one of the seven festive colours, while stocks last and subject to applicable terms.

Dive Into a Glowing Underwater Christmas

At Singapore Oceanarium, Glowcean Wonderland brings Christmas to life through the mesmerising glow of marine life. Inspired by bioluminescent and fluorescent sea animals, the experience transforms festive lights, ornaments and Christmas trees into an underwater-inspired spectacle.

Families can join Manja the Manta Ray on The Glowcean Journey, following clues and collecting stamps as they discover sea jellies, corals, sea stars and other marine life. The adventure concludes at the Heart of the Glowcean, where a glowing Christmas tree features the marine animals encountered along the trail.

After dark, the celebration takes a musical turn with a K-pop-themed Silent Disco, where guests can dance to curated playlists surrounded by marine-inspired festive scenery. Korean-inspired bites add to the experience, alongside seasonal activities such as an underwater Santa dive, festive-themed dive feeds and interactive photo opportunities. The Silent Disco requires a separate ticket and will run on selected nights.

Universal Studios Singapore Turns Up the Christmas Magic

Over at Universal Studios Singapore, A Universal Christmas returns with oversized sweet-themed decorations, character encounters and a new high-energy musical spectacular.

Hollywood Boulevard will become Dazzling Dessert Studios, a candy-inspired wonderland featuring larger-than-life desserts and a towering 10-metre Confectionery Christmas tree. Guests can meet Santa Claus, Mrs Claus and other festive characters, while Hello Kitty and Kuromi from Sanrio will make special appearances at Superstar Boutique.

In New York, The North Pole Jingle Jam brings music to the centre of the festivities with immersive concert-inspired sets and an all-new musical show. The Universal Jingle Jam will feature Poppy from DreamWorks Animation’s Trolls, Sesame Street characters and Illumination’s Minions, alongside festive performers.

With sing-alongs, dancing, snowfall moments and character meet-and-greets, the experience invites visitors to become part of the Christmas spectacle rather than simply watch from the sidelines.

K-pop Beats Meet Waterpark Fun

Adventure Cove Waterpark will bring a different rhythm to the holidays with K-Wave Christmas, combining Korean pop music with seasonal activities.

At BluWater Bay, the waterpark’s resident DJ will spin K-pop favourites alongside Christmas hits, creating a lively soundtrack for selected themed activities by the pool. Korean-inspired refreshments and festive menu offerings will complete the experience for families and friends looking for a more unconventional way to celebrate the year-end holidays.

Festive Feasts and Sweet Gifts

Beyond the attractions, Season of Joy will feature an extensive selection of seasonal menus, festive treats and gourmet gifts across the resort, offering options for family gatherings, celebrations with friends and year-end gifting.

One of the highlights is the 2026 Christmas collection from Pierre Hermé Paris at Resorts World Sentosa. Inspired by the colourful world of the circus, the Circus Collection is created in collaboration with French illustrator Dimitri Rybaltchenko and features macarons, chocolates, cakes, Advent calendars and festive gift selections.

Seasonal creations include Panettone Ispahan, Panettone Infiniment Noisette and traditional buttery Stollen. The Ispahan Log Cake combines rose petal cream, raspberry compote, fresh lychee and macaron biscuit, while Anthea pairs Belize dark chocolate mousse with pistachio praline and pistachio sponge. Envie offers another indulgent option, bringing together violet mascarpone cream, blackcurrant compote and vanilla sable.

Festive afternoon tea, seasonal desserts and celebratory dining menus across the resort will provide even more opportunities for guests to reconnect over the holiday season.

Turn Christmas Into a Holiday Escape

For travellers looking to extend the celebrations, The Laurus, a Luxury Collection Resort at Resorts World Sentosa, will offer a specially curated three-day, two-night Season of Joy hotel bundle.

Available for booking from October 13, the offer applies to stays of at least two nights between November 27, 2026, and January 3, 2027.

Benefits include complimentary breakfast, admission and same-day re-entry to Universal Studios Singapore and Singapore Oceanarium for two guests, as well as Universal Express Passes during their visit. Terms and conditions apply.

The package combines accommodation, attractions and festive experiences, giving visitors more time to explore the resort throughout their holiday.

Additional concerts, entertainment and seasonal programmes will also take place across November and December, adding to the celebrations.

From underwater discoveries and theme park adventures to K-pop-inspired entertainment, festive dining and luxury stays, Season of Joy brings a diverse range of Christmas experiences together at Resorts World Sentosa.

Further details about additional festive experiences planned for December will be announced in the coming weeks. BWN-07