Denpasar, baliwakenews.com
Sanggar Seni Candrawangsa dari Banjar Dalem, Desa Angantaka, Kecamatan Abiansemal, Badung, menghadirkan sajian gamelan inovatif sarat makna dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47. Penampilan mereka digelar di Panggung Kalangan Angsoka, Taman Budaya Art Centre, Jumat (4/7).
Dalam pementasan yang didominasi seniman muda ini, Sanggar Candrawangsa membawakan empat garapan, tiga di antaranya berupa komposisi musik inovatif dan satu tarian.
“Kami menampilkan empat garapan yang terdiri dari tiga tabuh dan satu tarian persembahan,” ujar Koordinator Sanggar Candrawangsa, I Gede Ananta Diparesta, sebelum pentas dimulai.
Ia menjelaskan, ketiga garapan gamelan inovatif tersebut lahir dari konsep Tapa Prakerti, yang terinspirasi dari prosesi perayaan Hari Raya Nyepi dan pelaksanaan Catur Brata Penyepian. Konsep ini bermakna pengendalian diri (tapa) dan kembali pada sifat alami (prakerti).
“Tapa berarti meditasi, prakerti berarti alam semesta. Dari konsep besar tersebut, lahirlah tiga garapan musik inovatif yang merepresentasikan nilai Tri Hita Karana,” paparnya.
Garapan pertama bertajuk Swara Pawitri, terinspirasi prosesi melasti menjelang Nyepi. Karya ini memadukan konsep musikal dengan atmosfer sakral prosesi penyucian diri, menciptakan jalinan nada yang menjadi persembahan suci. “Swara artinya suara, pawitri adalah persembahan. Melalui kawi gending, karya ini menjadi media komunikasi spiritual untuk meningkatkan hubungan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi,” jelasnya.
Persembahan kedua berjudul Suda Prawerti, yang menggambarkan perjalanan manusia dari kerusakan menuju harmoni. Komposisi ini berangkat dari ritual tawur kesanga pada Hari Raya Nyepi, dengan dinamika, laras, dan rasa yang menyuarakan proses penyucian alam (palemahan).
“Karya ini merefleksikan keserakahan yang merusak bumi, lalu transformasi menuju kesadaran spiritual, ketika manusia mulai bertapa dan menghaturkan bakti kepada bhūmi,” tutur Ananta.
Tabuh inovatif ketiga bertema Tepa Slira, yang terinspirasi malam pengerupukan saat pengarakan ogoh-ogoh. Karya ini memotret euforia yang kerap melupakan tenggang rasa, namun juga menjadi pengingat nilai kontrol diri.
“Tepa Slira adalah refleksi, apakah kebutaan manusia dalam euforia akan diabaikan atau justru diingat sebagai pelajaran,” pungkasnya.
Melalui sajian gamelan inovatif yang sarat filosofi ini, Sanggar Seni Candrawangsa menunjukkan bagaimana tradisi Bali dapat terus hidup dan bertransformasi, tanpa kehilangan akar spiritualnya. BWN/Kominfo































