Denpasar, Baliwakenews.com
Pemerintah Provinsi Bali mulai mendorong transformasi pendidikan dengan menggabungkan penguatan kemampuan numerasi dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI). Langkah ini dinilai penting agar generasi muda Bali tidak hanya melek teknologi, tetapi juga mampu berpikir logis, kritis, dan adaptif menghadapi perubahan zaman.
Gubernur Bali, Wayan Koster menegaskan, teknologi tidak boleh berjalan lebih cepat daripada kualitas manusianya. Karena itu, penguatan kemampuan dasar siswa, khususnya numerasi, harus menjadi fondasi sebelum teknologi AI digunakan lebih luas dalam dunia pendidikan.
Hal itu disampaikan Koster saat menghadiri kolaborasi Pemprov Bali bersama Telkomsel, Gasing Academy, Kuncie, serta sejumlah pemangku kepentingan pendidikan dalam menghadirkan ekosistem pembelajaran “AI for Education” di Gedung Wiswasabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Jumat (14/8/2026).
Menurut Koster, kemampuan numerasi bukan sekadar persoalan bisa menghitung. Lebih jauh, numerasi membentuk pola pikir yang logis, kemampuan membaca data, memecahkan persoalan, hingga mengambil keputusan secara tepat.
“Kolaborasi ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Provinsi Bali dalam membangun SDM Bali Unggul, karena kemampuan numerasi akan membentuk generasi yang terbiasa berpikir logis, bekerja berbasis data, dan siap beradaptasi dengan perkembangan zaman,” ujar Koster.
Ia mengapresiasi inisiatif Telkomsel dan Prof. Yohanes Surya yang membawa pendekatan pembelajaran tersebut ke Bali. Koster menyatakan Pemprov Bali siap memperluas kolaborasi agar manfaatnya tidak berhenti pada satu kelompok sekolah, tetapi dapat dirasakan masyarakat pendidikan di seluruh Bali.
Dalam konsep yang dikembangkan, AI ditempatkan sebagai alat bantu pembelajaran, bukan pengganti guru. Guru tetap menjadi aktor utama pendidikan, sementara teknologi digunakan untuk membuat proses belajar lebih interaktif dan menyesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa.
Program tersebut mengadopsi metode GASING (Gampang, Asyik, dan Menyenangkan) yang dikembangkan Gasing Academy. Pendekatan ini dirancang untuk membuat matematika lebih sederhana dan mudah dipahami.
Pembelajaran kemudian diperkuat melalui Sacred Octagon, platform berbasis permainan yang memanfaatkan teknologi AI sehingga siswa dapat belajar matematika secara bertahap dan interaktif.
Direktur Utama Telkomsel Nugroho menilai numerasi memiliki peran jauh lebih besar dibanding sekadar kemampuan berhitung. Numerasi menjadi fondasi untuk memahami persoalan dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, pencetus metode GASING Prof. Yohanes Surya Ph.D. menekankan pentingnya membangun rasa percaya diri guru dan siswa dalam pembelajaran matematika.
Menurutnya, ketika guru semakin percaya diri mengajar dan siswa tidak lagi takut mencoba, pembelajaran matematika dapat berubah menjadi pengalaman yang lebih menyenangkan sekaligus efektif.
Dalam kegiatan tersebut, guru dan siswa juga mendapat kesempatan mencoba langsung metode GASING dan platform Sacred Octagon. Uji coba ini menjadi bagian awal untuk memetakan kebutuhan di lapangan sekaligus mengukur dampak program secara bertahap.
Sebelumnya, Telkomsel dan INA AI telah menghadirkan paket bundling Telkomsel x Sacred Octagon melalui aplikasi MyTelkomsel dan by.U. Program tersebut ditujukan untuk memperluas akses keluarga Indonesia terhadap pembelajaran numerasi berbasis digital.
Di Bali, kolaborasi kini diperluas melalui keterlibatan Pemprov Bali, peningkatan kompetensi guru, pembelajaran siswa, serta evaluasi program.
Koster berharap sinergi pemerintah, dunia pendidikan, dan sektor teknologi tersebut mampu melahirkan generasi Bali yang bukan hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga cerdas berpikir, percaya diri, mampu memecahkan masalah, dan siap menghadapi era AI.
Dengan kata lain, Bali tidak ingin sekadar menjadi pengguna teknologi. Bali ingin menyiapkan SDM yang mampu menguasai teknologi dan tetap menjadi pengendali arah masa depan. BWN-03

































