Samba, Sapa, dan Fenomena di Sekitar Kita (2 – Habis)

Iklan Home Page

I K. Eriadi Ariana

Ulang-alik Samba-Airlangga: Nepo Baby vs Meritokrasi
Dharmawangsa Teguh sekiranya tidak menyadur Mosala Parwa hanya karena iseng. Sebagai penguasa berpengaruh di zamannya, penerjemahan Astadasa Parwa, termasuk Mosala Parwa, tampaknya diupayakan sebagai investasi sosial-politik, terutama dalam upaya menata etik bangsa.


Dharmawangsa mungkin banyak terinspirasi dengan kisah Pandawa yang dinarasikan teks sebagai penjaga tiang Dharma. Ia sendiri memilih dharmawangsa sebagai gelar penobatan raja. Dharmawangsa secara literal berarti ‘keturunan dari Dharma’, yang juga nama lain dari Yudistira, Pandawa tertua.


Mosala Parwa menarasikan bahwa kiamat suatu bangsa, selain atas nama takdir, dimulai dari tergerusnya etika, terutama kalangan muda dan bangsawan. Samba yang mewarisi genetik awatara Wisnu, dicitrakan sebagai tokoh pertama yang kehilangan etik sebagai ksatria. Seorang ksatria muda seperti dirinya idealnya memiliki moral utama yang melindungi dan memuliakan manusia, terlebih pada guru-guru suci.

Baca Juga:  Jerink Akhirnya Huni Sel Polda Bali


Pertanyaan yang ditujukan Samba bersama dengan dua saudaranya kepada tiga resi agung bukan pertanyaan dari orang yang benar-benar ingin meminta jawaban. Pertanyaan itu adalah penghinaan atas kepakaran serta kapasitas kaum intelektual-spiritual yang tiap saat mengupayakan kemuliaan dunia.


Prilaku Samba mencitrakan fenomena psikososial yang belakangan dikenal sebagai nepo baby, istilah yang merujuk pada generasi orang sukses dan berpengaruh yang mendapat kemudahan-kemudahan dalam karier akibat hak istimewa dari orang tuanya. Secara genetis, Samba mabuk pada kemuliaannya sebagai anak dari Kresna, awatara Wisnu yang menjadi otak dari kemenangan Pandawa dalam Bharatayuda, serta terkenal dalam banyak peristiwa heroik sepanjang sejarah kehidupannya.


Samba adalah gambaran sempurna dari seorang bangsawan yang lahir tanpa proses meritokrasi. Hak-hak istimewa sebagai keturunan titisan dewa dianggap senjata yang dapat membebaskan dirinya dari berbagai jeratan hukum moral. Apa yang dialaminya adalah wabah psikologis yang merekah dari kenyamanan dan anggapan mapan atas warisan politik dinasti. Samba lupa tentang hukum waktu, bahwa kekuasaan dan kedigjayaan suatu bangsa ada batasnya.

Baca Juga:  Kunjungi Surabaya Great Expo, Bupati Tabanan dan Ketua Dekranasda Tabanan Dukung dan Optimis UMKM Tabanan Bangkit dan Maju


Pesan-pesan inilah yang tampaknya ingin ditransmisikan oleh Dharmawangsa Teguh kepada generasi muda bangsawan Kerajaan Medang. Sayangnya, Dharmawangsa pun tampaknya tidak mampu melawan kehendak alam. Ia tidak mampu menjadi gembala etik yang baik, sebab pada akhirnya sejarah mencatat Medang runtuh akibat serangan Raja Wurawari, penguasa daerah bawahan yang membelot terhadap negara.


Namun demikian, nilai-nilai itu tampak diteruskan oleh menantunya, Airlangga, yang selamat dari pralaya Medang. Sejarah sekali lagi mencatat, bahwa kelak Airlangga membangun Kahuripan dari sisa-sisa reruntuhan Medang. Putra Udayana ini mendirikan kerajaan setelah mendapat restu, petunjuk, bahkan dorongan para guru suci, pendeta, dan pertapa.


Pada titik ini Airlangga hadir sebagai semacam antitesa dari Samba. Samba tidak berhasil melakukan suksesi Dwarawati, bahkan menjadi cikal bakal pralaya akibat hilangnya etika moral. Sementara itu, Airlangga berhasil membangun Kahuripan sebagai kelanjutan politik Medang. Ia menapaki kursi kekuasaan melalui proses penempaan diri di tengah krisis, bersandar pada etika moral sosial, serta menyajikan kekuasaan atas nama rakyat.

Baca Juga:  Sekda Adi Arnawa Buka Lomba Mancing Air Deras STT Adnya Putra Br. Taman


Barangkali atas kemuliaan-kemuliaan itulah Airlangga tetap menyematkan dharmawangsa dalam gelar resmi kenegaraan, yakni Sri Maharaja Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramattunggadewa. Kemuliaan moralnya pada akhirnya dimonumenkan dalam arca indah sebagai Dewa Wisnu menunggangi Garuda. Ia juga diasosiasikan sebagai Arjuna yang mampu melampaui godaan tujuh bidadari dan membebaskan dunia dari ancaman Niwatakawaca seperti yang digurat Mpu Kanwa dalam Arjunawiwaha.

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR