Mangupura, baliwakenews.com
Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park semakin memperkuat daya tariknya sebagai destinasi wisata berbasis seni dan budaya. Tidak hanya mengandalkan kemegahan patung ikonik Garuda Wisnu Kencana, kawasan wisata di Ungasan ini juga menghadirkan sekitar 15 pertunjukan seni dan budaya setiap hari untuk memberikan pengalaman berbeda kepada wisatawan.
Beragam pertunjukan, mulai dari tari tradisional, tabuhan gamelan, hingga pertunjukan kolosal, menjadi bagian dari aktivitas harian yang ditawarkan kepada pengunjung. Strategi tersebut sekaligus menjadi upaya menghidupkan seni dan budaya Bali di tengah perkembangan industri pariwisata.
Dampaknya terlihat dari jumlah kunjungan yang saat ini berkisar 3.000 hingga 3.500 orang per hari. Bahkan, pengelola menargetkan jumlah kunjungan meningkat hingga 5.000 orang per hari pada akhir tahun.
Direktur Operasional GWK Cultural Park, Ch. Rossie Andriani, mengatakan pengembangan GWK tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah kunjungan. Pengelola juga berupaya memperkuat pengalaman wisatawan melalui berbagai program seni dan budaya, festival, serta kolaborasi dengan komunitas dan pelaku industri kreatif lokal.
Menurutnya, GWK ingin menjadi ruang terbuka bagi seniman, komunitas, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperkenalkan karya maupun produk mereka kepada wisatawan.
Sejumlah agenda budaya yang menjadi andalan di antaranya Penjor Festival dan Festival Ogoh-Ogoh. Setelah penyelenggaraan Penjor Festival, GWK juga telah menyiapkan agenda berikutnya, yakni GWK Bali Countdown.
Selain festival, aktivitas seni dan budaya terus dihidupkan melalui program GWK Menari, GWK Menabuh, serta Panggung Nusantara. Berbagai program tersebut memberikan kesempatan kepada seniman dan komunitas untuk tampil sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya kepada publik.
Tidak berhenti pada pertunjukan, GWK juga mengembangkan program Literasi Budaya yang menyasar anak-anak sejak dini. Melalui kegiatan ini, generasi muda diajak mengenal seni dan tradisi Bali melalui pengalaman langsung.
Rossie menegaskan, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menampilkan kesenian kepada wisatawan. Keterlibatan masyarakat dan generasi penerus sangat diperlukan agar tradisi tetap hidup dan berkembang.
Karena itu, kolaborasi dengan seniman, komunitas, pelaku UMKM, serta berbagai pihak dalam industri pariwisata akan terus diperluas.
Ke depan, GWK ingin semakin memperkuat identitasnya sebagai destinasi wisata budaya yang memiliki daya tarik sepanjang tahun. Dengan demikian, wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati kemegahan patung GWK, tetapi juga memperoleh pengalaman mengenal seni, tradisi, dan kreativitas masyarakat lokal.
Di sisi lain, keterlibatan seniman dan pelaku UMKM diharapkan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas. Dengan begitu, pertumbuhan sektor pariwisata dapat berjalan beriringan dengan upaya pelestarian budaya Bali. BWN-04
































