Singaraja, Baliwakenews.com
Regenerasi petani menjadi pekerjaan rumah serius di tengah ancaman ketahanan pangan nasional. Mayoritas petani Indonesia yang kini berusia di atas 50 tahun membuat sektor pertanian membutuhkan generasi baru yang sejak dini mengenal pangan, teknologi dan dunia bercocok tanam.
Kabupaten Buleleng, Bali, kini didorong menjadi salah satu daerah percontohan untuk menjawab persoalan tersebut melalui program Swasembada Pangan Berbasis Sekolah.
Program ini digagas melalui kolaborasi Pemerintah Kabupaten Buleleng, Yayasan Swatantra Pangan Nusantara (YSPN), dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Penyerahan penghargaan Program Desa Pangan Berbasis Suplai dan Swasembada Pangan Berbasis Sekolah dipusatkan di SD Negeri 3 Banjar Jawa, Singaraja, Jumat (7/8/2026).
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra bersama Wakil Bupati Gede Supriatna dan Sekda Gede Suyasa hadir mendampingi perwakilan Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri serta jajaran YSPN.
Bupati Sutjidra menyambut positif program tersebut. Menurutnya, keterlibatan pemerintah pusat dan lembaga nonpemerintah menjadi penting bagi daerah, terutama ketika kemampuan fiskal daerah memiliki keterbatasan.
“Meskipun kemampuan fiskal daerah tergolong terbatas, keterlibatan pihak yayasan dan pemerintah pusat melalui gagasan kreatif sangat membantu kami dalam menjaga ketahanan pangan dan menggerakkan potensi UMKM lokal,” ujar Sutjidra.
Pemkab Buleleng juga mendorong pengembangan komoditas unggulan lokal. Salah satunya budidaya anggur yang berkembang di Kecamatan Banjar dan wilayah sekitarnya.
Petani Tua, Generasi Muda Harus Disiapkan
Ketua Pembina YSPN, Dr. H. Sudrajat, mengingatkan bahwa persoalan pangan tidak boleh hanya dilihat dari sisi produksi. Regenerasi petani menjadi faktor yang menentukan masa depan ketahanan pangan Indonesia.
Ia menyebut mayoritas petani Indonesia saat ini telah berusia di atas 50 tahun. Kondisi tersebut menjadi alarm bahwa generasi muda harus mulai dikenalkan dengan sektor pertanian sejak bangku sekolah.
“Pangan adalah pilar pertahanan bangsa. Jika struktur pangan tidak terjamin, suatu bangsa bisa goyah,” tegas Sudrajat.
Menurutnya, sekolah merupakan tempat strategis untuk membangun kesadaran pangan. Anak-anak tidak hanya diajarkan teori, tetapi juga diperkenalkan langsung dengan aktivitas menanam dan mengelola pertanian.
Teknologi modern pun mulai diperkenalkan, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan bibit hibrida unggul.
“Melalui sekolah, kita mengajak generasi muda untuk mengenal pertanian, belajar menanam, dan memanfaatkan teknologi modern seperti kecerdasan buatan serta pemanfaatan bibit hibrida unggul,” jelasnya.
Program tersebut mulai menunjukkan hasil. Demplot pertanian yang dikembangkan di Buleleng dilaporkan mampu mencatat produktivitas panen hingga 10,7 ton per hektare.
Sekolah Tak Cuma Tempat Belajar Matematika
Dewan Pembina YSPN Prof. Akmal Malik menilai pembangunan ketahanan pangan tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur.
Menurutnya, pemerintah juga harus menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengelola dan melanjutkan sistem pangan tersebut.
Ia menekankan pentingnya pembangunan kapasitas manusia atau domainware sebagai pasangan dari pembangunan fisik yang selama ini menjadi perhatian pemerintah.
Sekolah, kata dia, memiliki posisi strategis karena dapat menjadi ruang untuk menanamkan kesadaran mengenai pangan dan lingkungan sejak dini.
“Kita harus menyiapkan anak-anak muda kita agar siap menjaga keberlanjutan pangan di masa depan. Kolaborasi non-pemerintah melalui lembaga yayasan seperti YSPN ini hadir untuk mengisi celah dan menyatukan semangat gotong royong demi NKRI,” tegasnya.
Tiga Sekolah Buleleng Jadi Titik Awal
Program penghargaan tersebut tidak hanya diberikan kepada SD Negeri 3 Banjar Jawa. Dua sekolah lainnya, yakni SMP Negeri 1 Singaraja dan SMK Negeri 3 Singaraja, juga mendapatkan penghargaan.
Langkah ini diharapkan menjadi titik awal pengembangan ekosistem pertanian berbasis pendidikan di Buleleng.
Konsepnya tidak berhenti pada aktivitas menanam di lingkungan sekolah. Pendidikan lingkungan, pengenalan teknologi pertanian, pengembangan komoditas lokal hingga kesadaran terhadap ketahanan pangan diarahkan menjadi bagian dari pembentukan karakter generasi muda.
Jika model tersebut berhasil dikembangkan secara konsisten, Buleleng berpeluang menjadi salah satu contoh bagaimana sekolah dapat ikut mengambil peran dalam menghadapi krisis regenerasi petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan.
Sebab, persoalan pangan pada akhirnya bukan hanya soal berapa banyak yang bisa dipanen hari ini, tetapi juga siapa yang akan menanam dan memproduksi pangan Indonesia 20 hingga 30 tahun mendatang. BWN-03

































