Denpasar, baliwakenews.com
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Bali (Dekranasda Bali) Nyonya Putri Suastini Koster, saat menjadi “keynote speaker” dalam “Workshop” Mendesain “Endek” Bali, mengharapkan melalui kegiatan tersebut dapat menjadikan “Endek” sebagai raja dan ratu di rumah sendiri. Workshop yang dilaksanakan PDI Perjuangan tersebut untuk memperingati HUT PDI Perjuangan ke-48 dan Bulan Bung Karno.
Ketua Panitia Ketut Suriadi memaparkan
“Workshop” yang mengusung tema “Kreativitas Mendesain Endek Bali dengan Teknik Digital dan Harmoni Pewarnaan” dilaksanakan karena masih minimnya pengetahuan generasi muda terkait mendesain “Endek” (kain tenun tradisional Bali) yang merupakan warisan leluhur di bidang sandang.
“Setelah kami laksanakan lomba mendesain ‘Endek’ banyak yang masih melenceng. Desain yang dibuat bagus tapi lupa desain itu untuk membuat tenun endek yang isi proses mengikat benang, sehingga tidak bisa direalisasikan menjadi kain tenun, ” tuturnya saat final lomba mendesain “Endek” Minggu 6 Juni 2021 di kantor DPD PDI Perjuangan, Renon, Denpasar.
Lebih lanjut dikatakan, lomba yang dilaksanakan dalam rangka HUT PDI Perjuangan dan rangkaian Bulan Bung Karno, adalah tindak lanjut dari visi misi Nangun Sat Kertih Loka Bali. Dengan gebrakan yang dilakukan Gubernur Bali yaitu Pergub 79/2018 kemudian ditindaklanjuti dengan Surat Edaran Nomor 4 tahun 2021, tentang pemakaian kain tenun “Endek” Bali.
“Lomba sudah kami mulai dari Maret dengan penyisihan di kabupaten/kota. Dan di masing-masing kabupaten/kota dipilih 3 juara untuk mewakili ke tingkat Provinsi, ” ucapnya.
Sementara Bunda Putri berharap dengan semakin banyaknya generasi muda yang tertarik mendesain dan menggeluti pembuatan “Endek”, maka kain tenun tradisional ini tidak lagi terjajah di tanah kelahirannya sendiri. Ia berharap masyarakat Bali menjadi terbiasa menggunakan kain “Endek ” yang berkualitas tinggi.
“Kita memerlukan sistem dan pola yang tepat, kembali pada koridor untuk menjaga dan merawat warisan leluhur ini. Untuk itu harus ada regenerasi, makanya saya sangat senang peserta lomba ini semuanya anak muda, ” tandas Bunda Putri.
Generasi yang tua, dikatakan harus membagikan ilmu dan generasi muda yang harus mengembangkan. Karena ke depan motif dan teknik pembuatan harus mengikuti perkembangan jaman. “Bagaimana kita menggunakan teknologi di era digital agar menghasilkan motif- motif yang tidak ketinggalan jaman, ” tukasnya.
Ia mengaku sangat gembira melihat generasi muda yang masih melanjutkan tradisi pengelingsirnya, ikut menjaga dan melestarikan, yang paling penting tidak gengsi.
“Agar kain tenun tradisional Bali, menjadi raja dan ratu di rumah sendiri. Dipakai oleh masyarakatnya, di tenun oleh masyarakat Bali. Dari Bali, oleh Bali, untuk Bali, ” pungkasnya. *BWN-03































