Klungkung, baliwakenews.com
Belakangan ini tantangan pertanian modern yang semakin kompleks, Kelompok Tani Ternak Satwa Winangun di Desa Tangkas, Kabupaten Klungkung, menunjukkan semangat luar biasa dalam mengembangkan praktik pertanian berkelanjutan. Berkat kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dari Program Studi Magister Sains Pertanian, Fakultas Pascasarjana Universitas Warmadewa, para petani peternak kini mulai memanfaatkan pupuk dengan kandungan sulfur dan zink serta kompos buatan lokal untuk meningkatkan produktivitas lahan mereka.
Kegiatan ini digagas dan dikoordinasikan oleh Dr. Ir. Ida Bagus Komang Mahardika, M.Si., bersama tim yang terdiri dari Prof. Dr. Ir. Yohanes Parlindungan Situmeang, M.Si., serta dua mahasiswa pascasarjana yang turut terjun langsung ke lapangan. Mereka tidak hanya membawa teori dari ruang kuliah, tetapi juga solusi nyata yang bisa diterapkan langsung oleh masyarakat.
“Sulfur dan zink, dua unsur hara mikro yang sering terabaikan, ternyata memiliki peran penting dalam pertumbuhan tanaman,” ungkap Ida Bagus Mahardika.
Diterangkan, sulfur membantu pembentukan protein dan enzim, sementara zink berperan dalam sintesis hormon dan pembentukan klorofil. Tanpa kedua unsur ini, tanaman bisa tumbuh kerdil, daun menguning, dan hasil panen menurun drastis.
Sementara itu, pupuk NPK dengan kandungan kedua unsur tersebut belakangan ini sudah dikemas dalam satu paket yang pemanfaatannya oleh petani Indonesia didukung oleh pemerintah pusat sebagai salah satu pupuk yang disubsidi pemerintah untuk dibagikan kepada kelompok-kelompok tani di seluruh Indonesia. Selain itu, kompos buatan lokal yang berasal dari limbah organik dan kotoran ternak terbukti mampu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kelembaban, dan menyediakan nutrisi secara bertahap.
Melalui serangkaian pelatihan dan demonstrasi, para petani diajarkan cara membuat kompos sendiri dengan bahan-bahan yang mudah didapat di sekitar mereka. Mereka juga diajarkan teknik aplikasi pupuk sulfur dan zink secara tepat agar hasilnya maksimal. Lahan percontohan pun disiapkan untuk menguji langsung efektivitas metode ini. Hasilnya cukup mencengangkan tanaman tumbuh lebih sehat, daun lebih hijau, dan hasil panen meningkat hingga 30 persen dibandingkan sebelumnya.
Tak hanya berdampak pada hasil pertanian, kegiatan ini juga membawa perubahan dalam cara pandang petani terhadap pengelolaan lahan. Mereka kini lebih percaya diri, lebih mandiri, dan lebih sadar akan pentingnya pertanian yang ramah lingkungan.
“Semua anggota kelompok tani ternak ini merasa sangat bersyukur atas dilaksanakannya kegiatan pengabdian masyarakat yang sangat menarik dan berguna bagi kondisi lahan pertanian dan usaha peternakan sapi mereka,” ujarnya.
Ketua Kelompok Tani Ternak Satwa Winangun, I Nengah Sudarma, mengungkapkan rasa syukurnya atas kegiatan ini. “Kami sangat terbantu. Sekarang kami tahu cara membuat pupuk sendiri dan hasilnya nyata. Terima kasih kepada Universitas Warmadewa,” ujarnya.
Kegiatan PKM ini bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga proses pemberdayaan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Mahasiswa yang terlibat pun mendapatkan pengalaman berharga dalam menerapkan ilmu di lapangan, berinteraksi dengan masyarakat, dan melihat langsung dampak dari kerja mereka. Ini adalah bentuk nyata dari sinergi antara akademisi dan masyarakat dalam membangun pertanian yang lebih baik.
Universitas Warmadewa, melalui kegiatan ini, menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan daerah berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Desa Tangkas kini menjadi contoh bagaimana inovasi sederhana bisa membawa perubahan besar. Harapannya, model ini bisa diterapkan di desa-desa lain di Bali, bahkan di seluruh Indonesia.
“Dengan semangat gotong royong dan kolaborasi antara kampus dan masyarakat, pertanian lokal bisa bangkit dan berkembang. Dan dari Desa Tangkas, kita belajar bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama.,” ungkap Ida Bagus Mahardika.
Mitra PKM selama ini berharap adanya transfer teknologi dari pihak akademisi yang dapat membantu mereka dalam pengetahuan teknologi dan keterampilan mereka dalam memproduksi pupuk organik (biofertilizer) yang lebih berkualitas unggul dan perbaikan manajemen termasuk pengemasan dan pemasaran produknya.
Selain itu, mitra juga mengharapkan dapat mengakses informasi terbaru mengenai adanya produk pupuk berkandungan unsur mikro yang sangat esensial. Melalui transfer teknologi diharapkan produksi dan kualitas produk yang dihasilkan semakin meningkat, sehingga kesinambungan produksi mereka akan dapat meningkatkan penghasilan secara ekonomis khususnya seluruh anggota dan petani di sekitarnya serta berimbas positif pada kelestarian dan kenyamanan areal pertanian dan lingkungan di desa Desa Tangkas, Kabupaten Klungkung yang juga lokasinya berdampingan dengan areal destinasi pariwisata.
Pelaksanaan PKM yang didanai dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Warmadewa pada Kelompok Tani Ternak Satwa Winangun ini dapat terlaksana dengan baik sesuai rencana. Produk pupuk organik yang berhasil dibuat dalam pelaksanaan kegiatan PKM ini selanjutnya dianalisis di laboratorium guna mengetahui kandungan haranya yang selanjutnya dapat dicantumkan sebagai label pada kemasan pupuk organik yang akan dipasarkan. Aplikasi pupuk organik yang dihasilkan selama ini sudah mulai diterapkan pada beberapa jenis tanaman hortikultura seperti cabai, terong, dan tanaman lainnya pada lokasi pertanian di desa Tangkas dan sekitarnya bahkan sudah mulai dipasarkan di daerah lainnya. “Informasi selengkapnya dapat dilihat pada website www.warmadewa.ac.id”. BWN-03

































