Harga Rumah Bali Naik, Biaya Bangunan dan KPR Jadi Beban Pengembang

Iklan Home Page

Denpasar, Baliwakenews.com

Harga properti residensial di Bali kembali menanjak. Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali mencatat harga rumah di pasar primer pada triwulan II 2026 tumbuh 1,02 persen secara tahunan (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada triwulan I 2026 yang berada di level 0,87 persen.

Bank Indonesia Provinsi Bali merilis hasil survei tersebut pada 14 Agustus 2026.

Kepala Perwakilan BI Bali, Achris Sarwani dalam keterangannya menyatakan lenaikan ini menjadi sinyal bahwa harga rumah di Bali masih menghadapi tekanan biaya, meski pasar properti belum sepenuhnya lepas dari berbagai tantangan.

Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) BI Bali menunjukkan, kenaikan harga terutama terjadi pada rumah tipe menengah dan besar.

“Harga rumah menengah dengan luas bangunan 36–70 meter persegi naik 1,52 persen yoy, sedangkan rumah besar dengan luas bangunan di atas 70 meter persegi meningkat 0,82 persen yoy, ” ungkapnya.

Baca Juga:  Wagub Bali Giri Prasta Apresiasi Perseden Denpasar Lolos ke 16 Besar Liga 4 Indonesia, Berikan Bonus 50 Juta

Tekanan terbesar datang dari sisi biaya pembangunan. Sebanyak 81,3 persen responden pengembang menyebut kenaikan harga bahan bangunan sebagai faktor utama yang mendorong kenaikan harga rumah.

Tak hanya material, biaya tenaga kerja juga ikut menekan. “Sebanyak 46,9 persen responden menyatakan kenaikan upah tenaga kerja turut menjadi faktor pendorong kenaikan harga properti, ” tukasnya.

Tekanan biaya juga datang dari kenaikan biaya perizinan, harga bahan bakar minyak (BBM), serta penambahan fasilitas dan fasilitas sosial perumahan.

Kondisi tersebut membuat pengembang harus menghadapi dilema: harga rumah perlu disesuaikan mengikuti kenaikan biaya, sementara daya beli dan kemampuan konsumen mengambil kredit masih menjadi tantangan.

Baca Juga:  Bersiap Sekolah Tatap Muka, Seluruh Guru dan Staf SMP PGRI 3 Denpasar Ikuti Vaksinasi

Di tengah kenaikan harga rumah, pengembang masih menghadapi sejumlah hambatan dalam menjual properti residensial primer.

BI mencatat beberapa persoalan utama yang dikeluhkan pengembang, yakni tingginya suku bunga KPR, keterbatasan lahan, beban pajak, serta besarnya uang muka pembelian rumah.

Artinya, persoalan pasar properti Bali bukan semata soal harga rumah yang terus bergerak naik. Di sisi konsumen, biaya pembiayaan dan uang muka menjadi pertimbangan besar sebelum membeli rumah.

Meski demikian, KPR tetap menjadi tulang punggung transaksi. Hasil survei menunjukkan 67,6 persen pembelian rumah dilakukan melalui skema KPR.

Sementara dari sisi pengembang, pembiayaan pembangunan masih didominasi dana internal sebesar 56,6 persen. Berikutnya berasal dari pinjaman bank 35,3 persen, dana nasabah 5,9 persen, dan pinjaman lembaga keuangan nonbank 2,2 persen.

Baca Juga:  Ketua PHRI Harapkan Pelaku Wisata Dukung Pemerintah Tanggulangi Covid-19.

Tekanan harga properti Bali diperkirakan belum berhenti. BI Bali menyebut responden masih memperkirakan harga properti residensial kembali meningkat pada triwulan III 2026.

Kenaikan diperkirakan terjadi baik pada harga tanah maupun rumah, termasuk rumah yang dibeli secara tunai maupun melalui KPR.

Namun, kenaikan tersebut diperkirakan masih relatif terbatas. Pengembang dinilai tetap berhati-hati menaikkan harga karena kondisi penjualan masih menghadapi sejumlah tantangan.

Dengan demikian, pasar properti Bali memasuki fase yang cukup dilematis: harga rumah terus naik akibat biaya produksi, sementara pengembang harus tetap menjaga daya beli konsumen agar penjualan tidak tertekan. BWN-03

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR