Badung, baliwakenews.com
Bukan hanya Desa Adat Tuban, dua banjar yang ada dalam lingkup Desa Adat Tuban juga memiliki komitmen kuat untuk senantiasa konsisten membantu krama pada masa pandemi Covid-19 ini. Itu terbukti dari pelaksanaan kegiatan pemberian sembako kepada krama, yang dilakukan secara periodik di setiap bulan. Bendesa Adat Tuban Drs I Wayan Mendra MSi mengaku sangat mengapresiasi dan bersyukur atas hal itu. Karena para kelian kedua banjar, benar-benar meresapi peran dari banjar itu sendiri. Utamanya yakni berkaitan dengan konsep Sukerta Tata Pawongan.
“Jadi menurut saya, yang telah dilakukan secara konsisten oleh Banjar Adat Tuban Griya dan Banjar Adat Pesalakan Tuban ini, tentu sangatlah tepat. Karena pandemi Covid-19 ini memang sangat berpengaruh pada perekonomian masyarakat, termasuk krama adat. Jadi tentu, keberadaan desa adat ataupun banjar adat, wajib untuk menunjukkan perannya. Yakni membantu meringankan krama yang terbilang sedang dalam kesulitan,” ucapnya.
Di samping kedua banjar tersebut, dikabarkan Mendra, hal serupa juga telah dilakukan oleh pihaknya di Desa Adat Tuban, LPD Desa Adat Tuban, ataupun Satgas Gotong Royong Pencegahan Covid-19 Berbasis Desa Adat Tuban. Yakni memberikan sembako kepada warga, guna meringankan beban ekonomi akibat pandemi Covid-19. Kelian Banjar Adat Tuban Griya Wayan Sukalila menuturkan, kaitan dengan bantuan sembako di tengah pandemi Covid-19, total sudah 5 kali dilakukan kepada 271 KK krama Banjar Tuban Griya. Bantuan sembako itu berupa beras, telur, dan minyak goreng, yang pengadaannya bersumber dari kas banjar. Yang di setiap kali pembagiannya, menggunakan anggaran sekitar Rp 80 juta.
Dalam hal mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, dikatakan Sukalila, kebanyakan warga Tuban Griya bergerak di sektor informal. Yang pada saat ini, sektor digeluti itu juga ikut terkena imbas oleh pandemi Covid-19. “Selama pandemi Covid-19 ini masih membawa dampak pada perekonomian krama, maka kami akan terus berupaya untuk membantu meringankan,” tegasnya sembari mengakui bahwa evaluasi akan terus dilakukan, dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi perekonomian krama.
Hal senada juga disampaikan oleh Kelian Banjar Adat Pesalakan Tuban Wayan Japa Munarta. Dimana pemberian sembako yang dilakukan Banjar Adat Pesalakan Tuban, adalah langkah penyesuaian terhadap kondisi perekonomian masyarakat. Yang pada saat ini terbilang masih sangat sulit akibat pandemi Covid-19.
“Pemberian sembako yang sudah 5 kali kami lakukan ini notabene adalah keinginan atau harapan dari krama sendiri. Karena kas banjar adalah milik dari krama, saya selaku pengayah hanya tinggal melaksanakan saja,” sebutnya mengenai sembako yang telah diberikan sejak bulan April lalu itu, kepada sebanyak 276 KK krama Banjar Adat Pesalakan Tuban.
Di setiap kali pembagian, sambung dia, Banjar Adat Pesalakan Tuban mengeluarkan kas sekitar Rp 60 hingga 70 juta. Karena setiap KK, itu dijatah sembako berupa beras, telur, dan minyak goreng, yang total nilainya kurang lebih sekitar Rp 300 ribu. “Komitmen kami, ini akan terus kami upayakan selama masih dibutuhkan. Karena kami tidak mau, krama kami sampai tidak makan akibat dampak dari pandemi Covid-19 ini,” tegasnya sembari berharap agar pandemi segera berakhir, dan perkonomian masyarakat termasuk krama adat, bisa pulih kembali. BWN-04
































