Jakarta, baliwakenews.com – Fenomena sleep call atau menelepon pasangan hingga tertidur kian marak di kalangan generasi Z dan milenial. Kebiasaan ini dianggap romantis dan menguatkan hubungan, namun pakar kesehatan mental mengingatkan adanya potensi dampak negatif, terutama jika dilakukan setiap malam.
Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Novianti Lestari, mengatakan bahwa sleep call secara rutin justru bisa memicu ketergantungan emosional yang tidak sehat. “Sleep call setiap malam bukan hanya soal romantisme, tapi bisa mengganggu ritme tidur, memperburuk kualitas istirahat, hingga menurunkan produktivitas keesokan harinya,” ujar Novianti saat dihubungi, Selasa, 29 Juli 2025.
Ia menjelaskan, ketergantungan terhadap keberadaan suara pasangan menjelang tidur bisa membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk tidur mandiri. “Kalau terbiasa tertidur dengan suara orang lain, tubuh tidak belajar menenangkan diri secara alami. Ini bisa berdampak pada kualitas tidur jangka panjang,” tambahnya.
Sleep call, kata dia, juga bisa menjadi gejala dari pola hubungan yang terlalu posesif atau fiksasi emosional. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat menimbulkan masalah relasi, seperti rasa tidak aman, kecemasan berlebih, hingga kontrol terhadap privasi masing-masing.
Sementara itu, dokter spesialis tidur, dr. Herlina Yusuf, Sp.S, mengatakan bahwa penggunaan gawai hingga menjelang tidur sudah terbukti mengganggu produksi melatonin, hormon yang mengatur siklus tidur. “Blue light dari layar ponsel akan menurunkan kualitas tidur. Apalagi jika sleep call dilakukan berjam-jam dengan ponsel menyala di dekat telinga,” jelas Herlina.
Data dari Survei Kesehatan Digital 2024 yang dirilis Kementerian Kesehatan mencatat bahwa 62 persen responden usia 18–30 tahun di Indonesia mengaku pernah melakukan sleep call dalam seminggu terakhir, dan 37 persen di antaranya melakukannya hampir setiap hari.
Psikolog dan dokter tidur sepakat bahwa sleep call sesekali tak menjadi masalah, namun jika menjadi rutinitas harian, perlu ada evaluasi. “Anak muda harus belajar menciptakan rasa nyaman dan aman dari dalam diri sendiri, bukan dari ketergantungan eksternal seperti sleep call,” kata Novianti.
Pakar menyarankan untuk membatasi penggunaan gawai minimal satu jam sebelum tidur dan mengganti sleep call dengan aktivitas relaksasi seperti membaca buku atau meditasi ringan. “Hubungan yang sehat tidak harus diukur dari berapa lama kalian terhubung di telepon setiap malam,” tutup Novianti. BWN-07

































