Mangupura, Baliwakenews.com
Tingginya antusiasme atlet karate di Bali belum sepenuhnya diimbangi dengan ketersediaan kompetisi yang berkelanjutan. Padahal, kejuaraan menjadi salah satu ruang penting bagi atlet untuk menguji kemampuan, menambah pengalaman bertanding, sekaligus mengukur hasil pembinaan.
Kondisi tersebut terlihat dalam penyelenggaraan Bupati Badung Open Karate Championship 2026 di GOR Purna Krida, Kerobokan, Kuta Utara, 6 hingga 8 November 2026. Kejuaraan yang mendapat dukungan KONI Badung ini diikuti sebanyak 1.380 karateka putra dan putri dari berbagai daerah di Bali, mulai kelompok usia dini, prapemula, pemula, kadet, junior, under 21 hingga senior.
Ketua Panitia, I Wayan Usadi, mengatakan tingginya jumlah peserta menunjukkan besarnya kebutuhan atlet terhadap kompetisi karate. Menurutnya, kejuaraan seperti ini masih relatif jarang diselenggarakan di Bali dibandingkan sejumlah daerah lain, khususnya di Pulau Jawa yang memiliki agenda pertandingan lebih rutin.
“Karate di Bali sangat antusias mengikuti kejuaraan seperti ini. Namun, kejuaraan karate tidak bisa terlalu sering dilaksanakan karena membutuhkan biaya penyelenggaraan yang cukup besar,” ungkap Usadi di sela-sela kegiatan, Jumat (6/11).
Menurutnya, persiapan kejuaraan telah dilakukan selama kurang lebih tiga bulan. Rangkaian kegiatan diawali dengan technical meeting dan penyegaran (refreshing) wasit serta juri sebelum pertandingan berlangsung. Penyelenggaraan juga melibatkan wasit dan juri berpengalaman, termasuk enam orang dari Nusa Tenggara Barat (NTB), untuk menjaga kualitas dan objektivitas penilaian.
Besarnya kebutuhan anggaran menjadi salah satu tantangan penyelenggaraan. Usadi memperkirakan total biaya kejuaraan mencapai sekitar Rp300 juta. Komponen pengeluaran terbesar berasal dari honorarium wasit dan juri yang mengikuti standar operasional prosedur (SOP) PB FORKI, termasuk kebutuhan akomodasi bagi perangkat pertandingan dari luar daerah.
“Untuk wasit dan juri ada ketentuan tersendiri dari PB FORKI. Selain honorarium, kami juga harus menanggung penginapan mereka. Karena itu, pembiayaan kejuaraan ini memang cukup besar,” jelasnya.
Peserta dikenakan biaya pendaftaran Rp325.000. Kejuaraan juga menerapkan kategori open dan debutan. Kategori debutan diperuntukkan bagi atlet pemula yang baru mengikuti pertandingan, sedangkan kategori open menjadi arena persaingan dengan peserta yang lebih luas. Skema tersebut diharapkan memberikan kesempatan bertanding yang lebih proporsional sesuai pengalaman dan kemampuan atlet.
Di balik kompetisi tersebut, panitia juga memberikan perhatian khusus terhadap persiapan atlet Badung menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali mendatang di Singaraja. Kejuaraan ini dimanfaatkan sebagai bagian dari evaluasi kemampuan atlet, terutama pada kelompok under 21 hingga senior yang menjadi fokus persiapan.
Usadi menyebutkan, atlet-atlet Badung yang dipersiapkan menghadapi Porprov telah menjalani pembinaan sejak Januari 2026. Dengan dukungan KONI Badung dan waktu persiapan yang panjang, pihaknya berharap karateka Badung mampu meningkatkan perolehan medali dan bersaing dalam perebutan gelar juara umum.
“Di kejuaraan ini kami juga mengkhususkan pertandingan untuk kelompok under 21 sampai senior. Ini penting karena pada Porprov nanti yang dipertandingkan adalah kategori senior. Kami berharap atlet-atlet Badung bisa semakin terasah dan meraih hasil maksimal,” katanya.
Meski demikian, Usadi mengingatkan persaingan karate di Bali semakin merata. Tidak ada daerah yang bisa dianggap lebih dominan karena hasil pertandingan sangat dipengaruhi kesiapan atlet, kemampuan teknik, strategi, serta faktor nonteknis saat bertanding. BWN-05
































