100 Tahun Rarud Batur, Dua Desa “Penyelamat” dan Tiga Seniman Diguyur Penghargaan

Iklan Home Page

Bangli, Baliwakenews.com

100 Tahun Rarud Batur, Dua Desa “Penyelamat” dan Tiga Seniman Diguyur Penghargaan 100 Tahun Rarud Batur tidak hanya menjadi momentum mengenang tragedi erupsi Gunung Batur pada 1926. Desa Adat Batur juga menegaskan kembali pentingnya hubungan historis, budaya, dan spiritual dengan desa-desa sahabat serta para seniman yang ikut menjaga warisan Batur.

Hal itu ditandai dengan pemberian dua penghargaan bergengsi, Batur Paramanugraha dan Batur Kawinugraha, pada penutupan Batur Village Festival 2026 di Jaba Pura Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, Sabtu (8/8/2026).

Penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Palinggih Dane Jero Gede Duhuran Batur.

Dua desa adat, yakni Desa Adat Bayung Gede dan Desa Adat Kintamani, menerima Batur Paramanugraha, penghargaan tertinggi Desa Adat Batur.

Penghargaan itu diberikan sebagai bentuk penghormatan atas sumbangsih dan peran kedua desa dalam membantu proses evakuasi sekaligus relokasi masyarakat Desa Adat Batur dan Pura Ulun Danu Batur setelah peristiwa Rarud Batur 1926.

Dengan demikian, penghargaan tersebut bukan sekadar seremoni. Ada sejarah panjang tentang solidaritas dan hubungan kekerabatan yang menjadi bagian penting dari perjalanan Desa Adat Batur hingga mampu bertahan setelah bencana besar seabad silam.

Baca Juga:  Dukung Turyapada Tower dan Pasang CCTV seluruh Bali, Telkom Siap Sinergi dengan Pemrov Bali

Sementara itu, Batur Kawinugraha diberikan kepada tiga seniman yang dinilai memiliki kontribusi besar terhadap pemajuan kebudayaan Batur.

Ketiganya adalah Pande Putu Abdi Jaya Prawira, S.S., M.Hum., sastrawan; Dr. I Wayan Suharta, S.S.Kar., M.Si., seniman karawitan; serta Prof. Dr. Ida Ayu Trisnawati, S.S.T., M.Si., seniman tari.

Pande Putu Abdi Jaya Prawira dikenal sebagai sastrawan Bali yang menggubah Kakawin Kretanjali Ida Bhatari Sakti Batur. Kakawin yang terdiri atas 11 bait tersebut secara khusus dipersembahkan sebagai karya pemujaan kepada Ida Bhatari Sakti Batur.

Sementara Wayan Suharta dan Prof. Ida Ayu Trisnawati merupakan pencipta tari dan tabuh Tirtha Mahamreta Pratistha.

Karya tersebut lahir dari respons terhadap konsep spiritual Batur yang mengagungkan 11 air suci atau tirta solas milik Ida Bhatari Batur. Karya tari dan tabuh itu lahir melalui program Nawacitta Swabudaya ISI Bali di Desa Adat Batur dan kini menjadi salah satu identitas seni Desa Adat Batur.

Jero Gede Duhuran Batur menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan Batur Village Festival 2026 sebagai bagian dari rangkaian peringatan 100 Tahun Rarud Batur.

Baca Juga:  Karya Nyawa Wedana Utama di Ungasan, Bupati Badung Apresiasi Semangat Ngayah

Menurutnya, peringatan satu abad Rarud Batur merupakan momentum untuk kembali mengingat perjuangan leluhur Batur dalam bertahan dan bangkit setelah erupsi Gunung Batur pada 1926.

Lebih dari sekadar mengenang bencana, perjalanan satu abad tersebut menunjukkan kuatnya jaringan kekerabatan yang dibangun antara Batur dengan pemerintah, puri, serta desa-desa sahabat.

“Kebertahanan itu merupakan muara dari jalinan kekerabatan antara Batur dengan pemerintah, puri, dan desa-desa sahabat,” ujar Jero Gede Duhuran Batur.

Ia menegaskan, hubungan tersebut harus terus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Menurutnya, generasi muda Batur memiliki tanggung jawab untuk meneruskan jejak leluhur, termasuk menjaga hubungan baik dengan berbagai unsur sebagai bagian dari ayah-ayahan kepada Ida Bhatari.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang selama ini ikut melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Batur.

Sementara itu, Gubernur Bali, Wayan Koster melalui sambutan yang dibacakan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Wayan Sumarajaya menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Bali terus mendorong transformasi pariwisata menuju quality tourism.

Konsep tersebut menempatkan kualitas pengalaman wisatawan, kelestarian lingkungan, penghormatan terhadap adat dan tradisi, seni budaya, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal sebagai fondasi utama.

Baca Juga:  Gempa 4,8 SR Landa Karangasem, BPBD Himbau Masyarakat Tetap Tenang Namun Waspada

Batur Village Festival dinilai menjadi contoh bagaimana budaya, spiritualitas, ekonomi kreatif, dan partisipasi masyarakat dapat berjalan beriringan.

“Festival seperti ini menjadi contoh nyata bagaimana budaya, spiritualitas, ekonomi kreatif, dan partisipasi masyarakat dapat berjalan beriringan sehingga menciptakan ekosistem pariwisata yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan,” demikian sambutan Gubernur Koster.

Pemprov Bali berharap Batur Village Festival tidak berhenti sebagai agenda tahunan. Festival tersebut diharapkan mampu menjadi panggung untuk memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara ke dunia, sekaligus menarik wisatawan berkualitas.

Di sisi lain, festival juga diharapkan memperkuat posisi Bali sebagai destinasi budaya kelas dunia serta membuka dampak ekonomi yang lebih luas bagi pelaku seni, UMKM, dan masyarakat lokal.

Bagi Batur, satu abad Rarud bukan sekadar cerita tentang bencana masa lalu. Ia menjadi pengingat bahwa kekuatan budaya, solidaritas antardesa, dan hubungan kekerabatan menjadi modal penting untuk bertahan, bangkit, dan menatap masa depan. BWN-03

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR