Denpasar, baliwakenews.com
Demo mahasiswa dan Masyarakat Papua Bali (IMMAPA) Bali di Jalan Puputan, Renon, Denpasar, berujung rusuh, Senin (10/6). Ujuk rasa terkait perizinan perusahaan ilegal di hutan wilayah suku Awyu dan Moi itu diwarnai saling lempar batu.
Awalnya para pendemo sedang berkumpul di Parkiran Timur Lapangan Niti Mandala Renon mulai pukul 09.00. Awalnya demo berjalan damai dengan pengawalan ratusan personil kepolisian dari Polresta Denpasar bersama Polsek jajaran.
Selanjutnya, unjuk rasa yang diikuti puluhan orang itu berpindah ke Jalan Raya Puputan, dengan berjalan kaki menggunakan sebagian badan jalan. Mereka juga membawa sepanduk dan poster yang bertuliskan “Selamatkan Hutan Masyarakat Adat Papua”.
” Para pendemo berorasi untuk memprotes munculnya perusahaan ilegal yang diduga telah memakan tanah dan pembabatan hutan berskala besar hingga 36 ribu hektar seluas Jakarta,” kata salah seorang petugas.
Dalam orasinya, mereka memberikan dukungan terhadap Suku Awyu di Boven Digoel Papua selatan dan suku Moi di Sorong yang sedang menggugat di Mahkamah Agung (MA). “Sempat terjadi ketegangan saat demo. Karena mengarah ke tindakan anarkis, petugas merangsek para pendemo dengan tameng anti kaca,” ucapnya.
Pendemo yang menolak mundur, akhirnya melakukan perlawanan. Sejumlah batu dilempar oleh pendemo ke arah petugas. Dan polisi lantas menyemprot pendemo dengan water canon. “Para pendemo terpojok dan masuk ke salah satu gang,” katanya.
Empat orang ditangkap karena menjadi provokator. Demo lantas bubar setelah dihalau aparat gabungan. Sementara Wakapolresta Denpasar AKBP Bayu Sutha yang ditemui di lokasi belum bisa memberikan keterangan mengenai pengamanan aksi tersebut. “Satu pintu melalui Humas Polresta Denpasar,” ucapnya. BWN-01
































