Denpasar, Baliwakenews.com
Perekonomian Bali kembali menunjukkan daya tahannya. Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia dan konflik geopolitik global, pertumbuhan ekonomi Pulau Dewata pada Triwulan II 2026 justru meningkat menjadi 5,78 persen (year on year/yoy), melampaui pertumbuhan nasional yang tercatat 5,29 persen.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani dalam keterangannya mengatakan bedasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Bank Indonesia Provinsi Bali menunjukkan capaian tersebut juga lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Bali pada Triwulan I 2026 yang sebesar 5,58 persen (yoy).
Pertumbuhan ekonomi Bali ditopang hampir seluruh lapangan usaha. Sektor pengadaan listrik menjadi yang tertinggi dengan pertumbuhan 15,98 persen, disusul administrasi pemerintahan 14,31 persen. Sektor konstruksi juga melesat 8,40 persen, didorong proyek-proyek pemerintah dan investasi swasta yang masih bergulir.
“Sektor pertanian turut memberikan kontribusi signifikan dengan pertumbuhan 6,35 persen, didukung meningkatnya produksi hortikultura seperti jeruk, alpukat, dan manggis, serta naiknya produksi peternakan, perikanan, dan padi, ” ujarnya.
Di sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah melonjak 14,90 persen, seiring meningkatnya realisasi belanja pemerintah pusat dan daerah. Sementara itu, investasi yang tercermin dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 9,81 persen, didorong aktivitas konstruksi yang semakin masif. Konsumsi rumah tangga juga tetap kuat dengan pertumbuhan 5,48 persen, dipicu momentum Hari Raya Galungan dan Kuningan, libur sekolah, serta pelaksanaan Pesta Kesenian Bali (PKB).
Meski demikian, sektor akomodasi, makan dan minum mengalami perlambatan akibat dampak konflik di Timur Tengah yang memengaruhi kunjungan wisatawan mancanegara. Jumlah wisatawan asing tercatat terkontraksi 5,17 persen (yoy) sehingga ikut menahan pertumbuhan ekspor jasa Bali.
“Memasuki Triwulan III 2026, Bank Indonesia optimistis ekonomi Bali akan tetap tumbuh tinggi. Optimisme tersebut didorong masuknya musim puncak kunjungan wisatawan mancanegara, terutama dari Australia, berlanjutnya pembangunan proyek strategis pemerintah dan swasta, serta daya beli masyarakat yang masih terjaga, ” ungkap Achris.
Namun demikian, Bank Indonesia mengingatkan adanya sejumlah tantangan yang perlu diwaspadai, mulai dari ketidakpastian ekonomi global hingga potensi El Nino yang dapat memicu musim kemarau panjang dan berdampak terhadap sejumlah sektor ekonomi. Untuk menjaga momentum tersebut, Bank Indonesia bersama Pemerintah Daerah akan terus memperkuat sinergi guna mendorong pertumbuhan ekonomi Bali yang tangguh, inklusif, berkelanjutan, dan semakin berdaya saing. BWN-03

































