Gianyar, Baliwakenews.com
Pertanian sehat ternyata tak selalu membutuhkan teknologi mahal. Di Desa Petak, Kecamatan Gianyar, Kabupaten Gianyar, potensi yang selama ini berada di sekitar masyarakat justru dimanfaatkan untuk mendorong pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Pelepah pisang, urine sapi hingga limbah organik rumah tangga menjadi bahan yang diperkenalkan dan dikembangkan dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PMM) Reguler Periode II Mahasiswa S1 Universitas Warmadewa Tahun 2026.
Sebanyak 20 mahasiswa Universitas Warmadewa turun langsung ke Desa Petak dengan pendampingan dosen pembimbing, Dr. dr. Dewa Ayu Agung Alit Suka Astini, M.Si. Mereka tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi juga menggali potensi lokal yang dapat dikembangkan bersama masyarakat.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah pemanfaatan bahan organik untuk mendukung pertanian sekaligus edukasi mengenai eco-enzyme kepada kelompok Subak di Desa Petak.
“Di tengah tuntutan menjaga produktivitas pertanian sekaligus kelestarian lingkungan, masyarakat Desa Petak telah memiliki praktik pemanfaatan bahan-bahan lokal untuk pembuatan pupuk organik, ” ucap Dewa Ayu Agung Alit Suka Astini.
Pelepah pisang yang mudah ditemukan di sekitar desa serta urine sapi dari aktivitas peternakan dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan pupuk organik.
Di wilayah Petak Kelod, proses pembuatan pupuk organik dilakukan di lahan belakang Gunung Mertha. Pupuk yang dihasilkan kemudian dibeli pemerintah desa dan diberikan kepada petani untuk dimanfaatkan di lahan pertanian.
“Praktik ini menunjukkan bahwa bahan yang berpotensi menjadi limbah ternyata dapat dikembalikan ke dalam sistem pertanian dan memiliki nilai guna, ” ungkapnya.
Bagi petani, manfaat pupuk organik memang tidak selalu terlihat secepat pupuk kimia. Pupuk kimia memberikan respons tanaman lebih cepat, sementara dampak penggunaan pupuk organik terhadap kondisi tanah membutuhkan waktu lebih panjang.
Berdasarkan pengalaman petani, perubahan kondisi tanah mulai lebih terasa setelah pupuk organik digunakan secara berkelanjutan selama sekitar satu hingga dua tahun.
“Artinya, pertanian sehat membutuhkan perspektif jangka panjang. Bukan hanya mengejar hasil panen hari ini, tetapi juga memastikan tanah tetap mampu menopang produksi di masa depan, ” tandasnya.
Selain mengangkat praktik pupuk organik, mahasiswa KKN-PMM Universitas Warmadewa juga memberikan edukasi mengenai eco-enzyme kepada kelompok Subak.
Mahasiswa memperkenalkan pemanfaatan limbah organik, terutama sisa buah dan sayuran, agar dapat diolah kembali dan memiliki nilai guna.
Edukasi tersebut sekaligus mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap limbah rumah tangga. Sampah organik yang selama ini berpotensi berakhir sebagai limbah dapat dipilah dan dimanfaatkan kembali.
Bagi kelompok Subak, pengetahuan tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan aktivitas pertanian dan lingkungan. Pengelolaan bahan organik menjadi salah satu bagian dari upaya membangun kesadaran menjaga ekosistem pertanian.
Kegiatan di Desa Petak juga memperlihatkan bahwa perubahan menuju pertanian yang lebih ramah lingkungan tidak bisa dilakukan dalam semalam.
Penggunaan pupuk kimia masih menjadi bagian dari praktik petani karena memberikan respons cepat terhadap tanaman. Namun, pupuk organik mulai dilihat sebagai salah satu cara menjaga kualitas tanah dalam jangka panjang.
“Karena itu, pertanian sehat bukan sekadar mengganti pupuk kimia dengan pupuk organik. Lebih luas dari itu, pertanian sehat mencakup bagaimana masyarakat mengelola sumber daya, mengurangi limbah, menjaga tanah dan mempertahankan keberlanjutan lingkungan, ” tukasnya.
Di sinilah peran perguruan tinggi menjadi penting.
Melalui KKN-PMM, mahasiswa tidak hanya membawa pengetahuan akademik ke desa, tetapi juga belajar dari pengalaman masyarakat. Praktik pemanfaatan pelepah pisang dan urine sapi menunjukkan bahwa masyarakat telah memiliki pengetahuan lokal yang dapat dikembangkan.
Sementara edukasi eco-enzyme menjadi salah satu bentuk kontribusi pengetahuan akademik untuk memperkuat pengelolaan bahan organik di tingkat masyarakat.
Kolaborasi masyarakat, kelompok Subak, pemerintah desa dan perguruan tinggi menjadi modal penting untuk membangun pertanian yang lebih sehat.
Langkah yang dilakukan di Desa Petak memang sederhana. Namun, pemanfaatan bahan lokal, pengolahan limbah organik dan edukasi lingkungan dapat menjadi fondasi untuk membangun kesadaran pertanian berkelanjutan.
Bagi Universitas Warmadewa, keterlibatan 20 mahasiswa dalam KKN-PMM di Desa Petak menjadi bentuk kehadiran perguruan tinggi di tengah masyarakat.
Program tersebut sekaligus menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus datang dari teknologi canggih. Potensi yang selama ini ada di sekitar masyarakat pun dapat menjadi sumber inovasi ketika dipadukan dengan pengetahuan, pendampingan dan kolaborasi.
Dari Desa Petak, pesan sederhana muncul: pertanian sehat bisa dimulai dari apa yang tersedia di sekitar kita. BWN-03
































