Denpasar, baliwakenews.com
Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), membuat sejumlah pemerintah daerah mengambil kebijakan pembatasan kegiatan masyarakat (PKM) bahkan hingga ‘lock down’. Untuk menyiapkan kebutuhan pangan keluarga di tengah pandemi, Ketua Program Studi Agroteknologi Universitas Warmadewa, Dr. Ir. I Gusti Bagus Udayana, M.Si, mengatakan sejumlah teknologi pertanian dapat digunakan meski di lahan sempit perkotaan.
Untuk mengantisipasi terjadinya ‘lockdown’, maka masyarakat harus memiliki stok pangan termasuk sayur mayur yang dapat dengan mudah ditanam di pekarangan rumah. “Kalau tidak ada lahan yang cukup karena halaman yang dipaving, ada solusinya dengan berbagai teknik pertanian di lahan sempit. Ada beberapa teknik seperti hidroponik, penggunaan polibag dan lainnya,” tuturnya Selasa (26/5) di kampus Unwar jalan teropong Denpasar.
Metode Hidroponik sudah banyak digunakan masyarakat, metode bercocok tanam tanpa tanah tapi menggunakan air ini memang membutuhkan biaya cukup besar untuk pembuatan instalasi. Untuk menggantikan nutrisi dari tanah, air yang digunakan diberi unsur-unsur penting yang dibutuhkan oleh tanaman. “Keuntungan dari teknik ini tidak membutuhkan tanah, air lebih efisien, bebas dari gulma, dan dapat tumbuh dengan lebih cepat. Metode ini hanya bisa ditanami jenis tanaman holtikultura, seperti buah, sayur, tanaman obat dan tanaman hias,” ucapnya.
Metode lain yang dapat digunakan dan cukup efektif di lahan sempit adalah vertikultur. Metode ini memanfaatkan bidang vertical atau menanam secara bertingkat. Metode ini cocok diterapakan dalam membudidayakan tanaman sayur, seperti kangkung, seledri, sawi, tomat dan lainnya. Selain itu metode Aeroponik yang merupakan cara bercocok tanam memanfaatkan udara sebagi media tanam utama. “Metode ini berbeda dengan metode lainnya karena metode ini membiarkan akar tanaman menggantung diudara tanpa menggunakan tanah. Metode ini nutrisi berupa air yang disemprotkan langsung pada akar tanaman,” tukasnya. Metode ini cocok untuk jenis sayuran yang memiliki umur pendek seperti caisim, pakcoy, selada, kalian, kangkung dan sejenisnya. Metode Aeroponik menghasilkan sayuran yang terbukti memilki kualitas baik, segar dan memilik aroma dan cita rasa yang tinggi namun tidak banyak yang melakukan karena tingkat kesulitannya yang tinggi.
“Metode polibag yang paling mudah dilakukan. Termasuk dapat menggunakan sampah seperti bekas gerigen, gentong dan lainnya,” tukasnya.
Tanaman dapat ditempatkan dimana saja termasuk di Roof Garden (Tanaman atap rumah). “Roof garden dikenal sebagai solusi menciptakan lahan terbuka hijau di lahan terbatas,” terangnya. Saat lahan di depan, samping, dan belakang rumah tidak cukup lagi dibuat taman, manfaatkanlah area kosong di bagian atas rumah. Namun, pembuatan roof garden memerlukan bujet yang tidak sedikit dan perencanaan desain yang matang. Mulai dari kekuatan fondasi bangunan, sistem tanam, pengairan, dan drainase perlu dipersiapkan dengan baik.
Meskipun begitu, banyak keuntungan yang bisa kamu peroleh jika memiliki roof garden di rumah. Selain rumah jadi nampak lebih asri dan sejuk, keberadaan roof garden dapat memperbaiki kualitas lingkungan di perkotaan dan permukiman padat.

“Banyak manfaat roof garden diantaranya menyejukkan ruangan di dalam rumah, sebagai pelindung bangunan dari panas dan mengurangi radiasi sinar matahari, meningkatkan kualitas udara di lingkungan sekitar. Manfaat lain adalah peredam suara bising, menyaring udara kotor dari luar rumah dan tempat bersantai keluarga,” katanya.
Dengan menanam sayuran dirumah maka saat tidak dapat keluar rumah maka kebutuhan keluarga seperti sayuran dapat terpenuhi. BW-09

































