Mangupura, baliwakenews.com
Bagi petani di Badung, tikus bukan sekadar hama. Kehadirannya bisa menggerogoti harapan panen, meninggalkan sawah berlubang, dan batang padi rebah sebelum waktunya. Namun di balik keresahan itu, ada keyakinan turun-temurun, lewat Ngaben Bikul, tikus bisa dinetralisir dan sawah kembali subur.
Tradisi unik yang memperlakukan tikus layaknya manusia yang diaben itu akan kembali digelar pada tahun 2026. Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Kebudayaan menyiapkan prosesi besar ini sebagai upaya niskala menjaga keseimbangan alam sekaligus melindungi subak dari serangan hama.
“Pada 2026 akan kita laksanakan ngaben tikus, seperti yang pernah dilakukan beberapa tahun lalu. Ini untuk memohon keselamatan di wilayah persubakan Badung,” kata Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, saat menghadiri Karya Pujawali Nyatur di Pura Ulun Swi, Subak Balangan, Desa Kuwum, Jumat (22/8).
Kepala Dinas Kebudayaan Badung, I Gde Eka Sudarwitha, menegaskan bahwa ngaben bikul merupakan yadnya utama dalam dunia pertanian. Tikus yang dikumpulkan dari tiap subak akan dipralina (dibakar) dan disomia (dinetralisir) dengan harapan kembali ke habitatnya tanpa lagi merusak sawah. “Prosesi ini rencananya dipusatkan di Pantai Seseh, lalu tirta hasil upacara akan dipercikkan ke seluruh persawahan di Badung,” jelasnya.
Bagi para petani, upacara ini bukan sekadar simbol. I Ketut Merta, petani Subak Balangan, masih mengingat jelas prosesi ngaben bikul tahun 2020. Ia dan sejumlah warga ikut membawa tikus hasil tangkapan ke lokasi upacara. “Waktu itu suasananya sangat khidmat. Setelah ngaben bikul, kami merasa lebih tenang. Hama tikus memang tidak hilang sama sekali, tapi sawah jadi lebih terjaga,” kenangnya.
Keyakinan itu membuat para petani menyambut positif rencana pengulangan upacara di 2026. “Kalau tidak ada upacara, biasanya serangan tikus makin parah. Ini bukan hanya soal kepercayaan, tapi juga membuat petani merasa diperhatikan,” imbuhnya.
Ngaben bikul terakhir digelar pada 2020, meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat subak. Kini, Badung berniat menjadikannya tradisi berkala, mungkin lima tahun sekali, sesuai kebutuhan dan kondisi pertanian. “Penganggaran sedang dibahas, tapi yang pasti ini bukan seremoni semata, melainkan komitmen menjaga harmoni manusia dengan alam,” tegas Sudarwitha.
Di tengah tantangan modernisasi dan gempuran hama, petani Bali tetap berpegang pada filosofi Tri Hita Karana yakni menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan. Dan lewat Ngaben Bikul, tikus yang biasanya dianggap musuh, justru diupacarai dengan penuh penghormatan, agar kembali ke tempatnya tanpa merusak sawah. BWN-05
































