Mangupura, baliwakenews.com
Keterbatasan pasokan bahan bakar minyak (BBM) yang sempat melanda Bali menguji ketahanan aktivitas ekonomi masyarakat pesisir Tanjung Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Badung. Di tengah kebutuhan BBM untuk menggerakkan wahana wisata bahari, kebutuhan nelayan justru diprioritaskan, sementara sesama pengusaha saling membantu agar operasional usaha tetap berjalan.
Bendesa Adat Tanjung Benoa yang juga pemilik Pandawa Water Sport, Made Wijaya alias Yonda, mengatakan kelangkaan BBM sebelumnya sempat mengganggu aktivitas wisata bahari. Sebagian besar wahana yang beroperasi di kawasan tersebut membutuhkan bahan bakar untuk menggerakkan mesin, sehingga keterbatasan pasokan berdampak langsung terhadap kegiatan usaha.
“Kalau kemarin memang berpengaruh. Suplai BBM yang terkendala membuat aktivitas yang kami lakukan ikut terganggu. Untuk bergerak ke sana kemari saja membutuhkan BBM,” ujar Yonda.
Dalam kondisi tersebut, pengelolaan stok BBM menjadi hal penting. Pasalnya, kebutuhan bahan bakar tidak hanya berasal dari pelaku usaha pariwisata, tetapi juga masyarakat setempat, terutama nelayan yang menggantungkan aktivitas sehari-hari pada ketersediaan BBM.
Yonda menegaskan, kebutuhan nelayan menjadi prioritas sebelum pasokan dialokasikan kepada pengusaha wisata bahari. Kebijakan ini mempertimbangkan peran nelayan sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat pesisir Tanjung Benoa. Di sisi lain, pelaku usaha pariwisata juga memiliki kontribusi terhadap desa adat. “Kami utamakan dulu nelayan, baru pengusaha. Pengusaha juga memberikan kontribusi kepada desa adat,” jelasnya.
Penyaluran BBM untuk kebutuhan nelayan dilakukan melalui fasilitas khusus, yakni Stasiun Pengisian Bahan Bakar Diesel Nelayan (SPDN) yang berada di kawasan Tanjung Benoa. Pengaturan distribusi turut dikoordinasikan dengan pihak terkait agar kebutuhan bahan bakar dapat dipenuhi secara lebih tertib.
Selain mengatur prioritas kebutuhan, solidaritas antarpelaku usaha juga menjadi salah satu cara menghadapi keterbatasan pasokan. Pengusaha yang masih memiliki stok BBM bersedia meminjamkannya kepada pengusaha lain yang membutuhkan. Dengan demikian, operasional wisata bahari tidak sampai terhenti sepenuhnya.
“Sesama pengusaha saling membantu. Kalau ada yang punya stok, bisa dipinjamkan kepada yang membutuhkan. Jadi, kemarin masih bisa dicarikan solusi,” katanya.
Meski berbagai upaya dilakukan, situasi tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengusaha. Ketidakpastian mengenai normalisasi pasokan BBM membuat pelaku usaha mempertanyakan keberlanjutan operasional, mengingat sebagian besar aktivitas wisata bahari sangat bergantung pada bahan bakar.
Di tengah persoalan pasokan tersebut, kunjungan wisatawan ke kawasan wisata bahari Tanjung Benoa juga terpantau belum ramai. Yonda menyebut jumlah wisatawan yang datang masih berkisar puluhan orang, lebih rendah dibandingkan periode ramai yang bisa mencapai puluhan hingga ratusan orang.
Namun, menurutnya, kondisi tersebut tidak bisa sepenuhnya dikaitkan dengan kelangkaan BBM. Oktober hingga November memang menjadi periode yang relatif sepi bagi wisata bahari di Tanjung Benoa. Peningkatan kunjungan biasanya mulai terasa menjelang libur akhir tahun, khususnya pada Desember, ketika wisatawan domestik berdatangan untuk berlibur sekaligus merayakan pergantian tahun di Bali. “Biasanya setelah November, memasuki Desember, wisatawan domestik mulai ramai. Kendaraan dari luar Bali juga mulai berdatangan untuk merayakan Tahun Baru,” ungkapnya.
Karena itu, kepastian pasokan BBM menjadi salah satu hal yang diharapkan pelaku usaha menjelang periode liburan akhir tahun. Stabilitas pasokan dinilai penting agar pengusaha dapat mempersiapkan operasional secara optimal ketika kunjungan wisatawan kembali meningkat. Yonda juga mengapresiasi langkah cepat Pertamina dan kebijakan Gubernur Bali dalam merespons persoalan pasokan BBM. Menurutnya, upaya tersebut membantu meredakan situasi sehingga aktivitas masyarakat dan pelaku usaha perlahan kembali terkendali.
Sebelumnya, penyaluran BBM di kawasan Tanjung Benoa sempat menerapkan pembatasan pembelian bagi masyarakat, yakni maksimal Rp50.000 untuk sepeda motor. Pembeli juga diwajibkan menunjukkan identitas melalui sistem yang diberlakukan saat itu. Yonda menyebut, masyarakat yang mencari BBM tidak hanya berasal dari Tanjung Benoa, tetapi juga dari luar kawasan. Informasi mengenai ketersediaan BBM di lokasi tersebut diduga turut menarik warga dari wilayah lain untuk mendapatkan pasokan.
Dengan kondisi yang berangsur terkendali, pelaku usaha berharap pasokan BBM tetap terjaga dan persoalan serupa tidak kembali mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat pesisir. Terlebih, wisata bahari merupakan salah satu sektor yang berperan penting dalam menopang perekonomian Tanjung Benoa. BWN-04
































