Menapak Kisah Mayadenawa, Simbol Kemenangan Dharma di Hari Galungan

Iklan Home Page

baliwakenews.com – Setiap Galungan, umat Hindu Bali menyambut harinya dengan doa, dupa, dan penjor bambu melengkung yang menjulang dengan hiasan janur. Suasana desa mendadak sakral, bau dupa bercampur bau tanah basah pagi hari, suara gamelan terdengar dari balai banjar, dan anak-anak berpakaian adat berjalan kecil ke pura.

Tapi di balik perayaan itu, ada kisah lama yang selalu hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Bali tentang seorang raja sakti bernama Mayadenawa dan pertarungan abadi antara kebaikan dan kejahatan.

Kisah ini bukan sekadar mitos. Ia adalah fondasi spiritual yang memberi makna pada Galungan. Sebuah cerita lama yang diwariskan dari generasi ke generasi, tentang apa jadinya ketika kekuasaan melampaui batasnya.

Diceritakan, Mayadenawa adalah penguasa kerajaan Bali kuno. Ia bukan raja biasa, Mayadenawa memiliki ilmu hitam yang sangat kuat. Saking saktinya, ia merasa tak perlu lagi ada dewa dalam hidup rakyatnya. Ia melarang upacara, melarang persembahan, bahkan mengklaim dirinya lebih dari dewa.

Baca Juga:  Petani Harapkan Ini, Ketika Wabup Edi Panen Perdana Serai Wangi di Berembeng

Larangan itu membuat dunia kacau. Rakyat menderita secara spiritual. Kehidupan kehilangan keseimbangannya. Hingga akhirnya, para dewa pun turun tangan. Dewa Indra, pemimpin para dewa perang, memutuskan untuk melawan Mayadenawa demi memulihkan dharma yakni jalan kebenaran.

Perang pun terjadi. Mayadenawa tidak hanya sakti, ia juga cerdik. Dalam salah satu siasatnya, ia menciptakan mata air beracun untuk membunuh pasukan Dewa Indra. Namun usaha itu gagal. Para dewa tetap menang.

Dalam pelariannya, Mayadenawa berjalan tidak biasa, ia berjalan menyamping agar jejak kakinya tidak dikenali. Tapi itu tak cukup menyelamatkannya. Ia akhirnya dibunuh di sebuah tempat yang kini dikenal sebagai Tampaksiring. Yang berasal dari kata “tapak” (jejak kaki) dan “siring” (miring).

Baca Juga:  Pemusnahan/Penyusutan Arsip in Aktif tahun 2021

Ironisnya, jejak miring itu justru menjadi penanda sejarah kekalahannya. Sebuah pengingat abadi bahwa kesombongan kekuasaan, cepat atau lambat, akan tumbang oleh kebenaran.

Dari peristiwa itulah Galungan bermula. Hari ketika dharma menang atas adharma. Hari ketika umat Hindu Bali diajak kembali mengingat bahwa kebaikan harus diperjuangkan, bukan hanya diyakini.

Bagi banyak keluarga Bali, Galungan bukan hanya soal ritual. Ini adalah waktu untuk kembali ke rumah leluhur, membersihkan pura keluarga, dan mengundang roh para leluhur untuk datang beristirahat di bumi. Dalam keheningan doa dan dentingan gamelan, mereka menyampaikan rasa syukur dan memohon perlindungan agar tidak terperosok dalam kesombongan seperti Mayadenawa.

Baca Juga:  Terima Uluran Tali Kasih, Nenek Menetes Air Mata

Kisah Mayadenawa bukan hanya cerita masa lalu. Ia adalah metafora tentang kekuasaan yang menyimpang, tentang spiritualitas yang dibungkam, dan tentang harapan bahwa kebenaran selalu menemukan jalannya untuk menang.

Dan tiap enam bulan sekali menurut kalender Bali, saat penjor kembali berdiri di depan rumah-rumah, masyarakat Bali tak hanya merayakan Galungan sebagai hari besar agama. Mereka merayakannya sebagai kemenangan batin, sebagai pengingat bahwa dalam kehidupan, kita selalu hidup di antara dharma dan adharma dan pilihan ada di tangan kita. BWN-01

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR