Melasti, Ritual Penyucian Diri dan Alam Semesta

Iklan Home Page

baliwakenews.com – Bali, sebuah pulau yang kaya akan tradisi dan spiritualitas, kembali menggelar upacara Melasti menjelang Hari Raya Nyepi. Ribuan umat Hindu berpakaian serba putih berbondong-bondong menuju pantai, membawa pratima (arca suci), umbul-umbul, dan sesajen.

Bagi umat Hindu Bali, Melasti bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga perjalanan batin menuju kesucian.

Menurut Ida Pedanda Gede Made Gunung, seorang sulinggih (pendeta Hindu) yang dihormati di Bali, Melasti adalah simbol penyucian diri dan alam. “Air laut dipercaya sebagai sumber kehidupan yang memiliki kekuatan spiritual untuk membersihkan kekotoran lahir dan batin,” ujarnya dalam sebuah wawancara sebelum beliau wafat.

Baca Juga:  Sekaa Kanti Budaya Bangli Tampilkan Beruk Sakti, Nafas Baru Drama Gong di PKB 2025

Pandangan ini juga diamini oleh Prof. Dr. I Wayan Rai S., akademisi dan budayawan Hindu Bali. Ia menekankan bahwa Melasti bukan sekadar prosesi sakral, tetapi juga refleksi atas konsep Tri Hita Karana, harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. “Ini bukan hanya tentang ritual, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga keseimbangan dalam hidup,” katanya.

Di berbagai wilayah di Bali, ribuan umat Hindu melaksanakan ritual ini dengan khusyuk. Mereka berjalan beriringan menuju pantai, membawa berbagai perlengkapan upacara dari pura mereka masing-masing. Sesampainya di laut, pemangku atau pendeta memimpin prosesi penyucian, diiringi tabuhan gamelan yang mengalun syahdu.

Baca Juga:  Bantu Masyarakat Terdampak Covid-19, Ini yang Dilakukan Bule Spanyol di Tibubeneng

Bagi Jero Mangku Dalem Pemayun, seorang pemangku dari Pura Dalem di Gianyar, Melasti bukan hanya tentang penyucian diri, tetapi juga menjaga spiritualitas pura. “Kami membawa pratima ke laut agar tetap suci, sehingga energi spiritual di pura selalu terjaga,” ujarnya.

Tak hanya pembersihan simbolis, Melasti juga menjadi momen refleksi bagi masyarakat Hindu di Bali. Ida Ayu Oka Pingit, seorang praktisi spiritual, menyebut bahwa Melasti adalah waktu untuk merenung, membuang sifat negatif, dan menyambut tahun baru Saka dengan hati yang lebih bersih.

“Ini saatnya kita introspeksi diri. Apa yang sudah kita lakukan selama setahun terakhir? Apakah kita sudah menjadi pribadi yang lebih baik?” tuturnya.

Baca Juga:  Pegawainya Terlibat Pungli, Kepala Kantor Imigrasi Ngurah Rai Akhirnya Buka Suara

Di tengah arus modernisasi yang semakin deras, Melasti tetap menjadi ritual yang tak tergantikan. Bagi umat Hindu di Bali, ini adalah warisan leluhur yang sarat makna, mengingatkan bahwa sebelum memasuki tahun baru, manusia harus kembali ke jati diri yang suci, bukan hanya secara fisik, tetapi juga batin. BWN-01

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Nyepi Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemprov. BaliIklan Nyepi Pemprov. BaliIklan BWNIklan Nyepi PDAM BadungIklan Nyepi DPRD Badung Iklan UNWAR