Mangupura, baliwakenews.com
Politik sering kali identik dengan rivalitas, perebutan pengaruh, dan pertarungan kepentingan. Namun di Kabupaten Badung, politik juga menyimpan kisah tentang persahabatan panjang yang ditempa waktu, diuji perbedaan, dan tetap bertahan di tengah perubahan arah perjuangan.
Nama I Nyoman Giri Prasta, I Wayan Disel Astawa, dan I Putu Alit Yandinata pernah begitu lekat dalam satu tarikan napas politik. Di era 2000-an, ketiganya berada dalam satu barisan di bawah panji Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan). Mereka bukan hanya kader, tetapi figur-figur yang tumbuh bersama, menguatkan struktur partai dari bawah, dan menjadi bagian dari denyut perjuangan politik di Badung.
Kala itu, kebersamaan mereka tak sekadar formalitas organisasi. Rapat-rapat partai, konsolidasi hingga tingkat banjar, strategi pemenangan pemilu, hingga dinamika internal dijalani bersama. Mereka saling mengenal bukan hanya sebagai politisi, tetapi sebagai sahabat. Hubungan personal yang terjalin membuat komunikasi di antara mereka cair dan penuh rasa saling percaya.
Namun politik adalah ruang yang selalu bergerak. Dinamika internal partai, perbedaan pandangan strategis, serta momentum elektoral perlahan membawa ketiganya pada persimpangan. Giri Prasta memilih tetap bertahan dan memperkuat posisinya di PDI Perjuangan. Karier politiknya terus menanjak. Dua periode menjabat Bupati Badung, ia dikenal sebagai figur dengan basis massa yang solid. Kini ia mengemban amanah sebagai Wakil Gubernur Bali dan kembali memimpin PDI Perjuangan Badung untuk ketiga kalinya. Di DPRD Badung, PDI Perjuangan masih menjadi kekuatan dominan dengan perolehan 27 kursi, sebuah modal politik yang tidak kecil dalam menghadapi kontestasi mendatang.
Sementara itu, Disel Astawa mengambil langkah berbeda. Ia memilih bergabung dengan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), partai yang kini dipimpin Presiden RI Prabowo Subianto. Keputusan itu bukan tanpa risiko. Keluar dari partai lama berarti membangun ulang kepercayaan dan jaringan politik. Namun Disel mampu membuktikan kapasitasnya. Gerindra di Badung kini menempati posisi ketiga di DPRD Badung dengan empat kursi, hasil konsolidasi yang tidak instan.
Di sisi lain, Putu Alit Yandinata juga menempuh jalur berliku. Ia sempat berlabuh di Gerindra saat maju sebagai calon Wakil Bupati Badung pada Pilkada 2024. Setelah kontestasi usai, ia memilih bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI), partai yang dipimpin Kaesang Pangarep. Di Badung, PSI memang belum memiliki kursi parlemen. Namun sebagai Ketua DPD PSI Badung, Alit mengambil peran membangun fondasi dari nol, menargetkan keterwakilan pada Pemilu 2029.
Perbedaan partai berarti perbedaan strategi, ideologi praktis, dan kepentingan politik. Dalam kontestasi, mereka bisa saja berada pada kubu yang saling berhadapan. Namun menariknya, rivalitas itu tidak menjelma menjadi permusuhan personal.
Alit Yandinata secara terbuka mengakui kedekatan mereka. “Kami memang dulu satu partai. Situasi yang membuat kami memilih jalan berbeda. Tapi persahabatan tetap terjaga,” ujarnya.
Di tengah iklim politik yang sering memanas, hubungan ketiganya justru menjadi contoh bahwa kompetisi tidak harus menghapus rasa hormat. Mereka memahami bahwa politik adalah arena gagasan dan strategi, bukan arena memutus tali silaturahmi.
Giri Prasta dikenal sebagai figur yang meniti karier dari bawah, begitu pula Alit. Disel bahkan lebih senior secara pengalaman politik. Ketiganya sama-sama ditempa dalam proses panjang, dari kerja-kerja struktural partai hingga menghadapi kontestasi elektoral. Ikatan emosional itulah yang membuat hubungan mereka tak mudah retak.
Menjelang Pemilu 2029, konstelasi politik Badung diprediksi semakin dinamis. PDI Perjuangan masih menjadi kekuatan utama. Gerindra terus memperluas basis dukungan. PSI berupaya menembus dominasi partai-partai mapan. Dalam peta itu, tiga sahabat lama ini akan kembali diuji. Mereka akan berbicara di panggung berbeda, mengusung visi berbeda, dan merebut suara dari pemilih yang mungkin sama. Namun di balik semua itu, ada satu benang merah yang tak terputus yakni rasa saling menghargai.
Kisah mereka mengajarkan bahwa politik bukan sekadar hitung-hitungan kursi dan kekuasaan. Ia juga tentang perjalanan manusia, tentang pilihan, loyalitas, perubahan, dan bagaimana menjaga nilai-nilai persahabatan di tengah kompetisi. Dulu mereka satu perahu besar. Kini mereka berlayar dengan kapal berbeda. Ombak politik boleh saja mempertemukan mereka sebagai rival. Tetapi sejarah kebersamaan tetap menjadi jangkar yang menjaga hubungan tetap teduh. Di Badung, cerita tiga tokoh ini menjadi pengingat bahwa berbeda partai bukan berarti bermusuhan. Politik boleh berubah, arah boleh berganti, tetapi persahabatan jika dijaga dengan kedewasaan akan tetap menem
ukan jalannya. BWN-05
































