Batur, Baliwakenews.com
Setelah lebih dari lima dekade sejak renovasi terakhir, Meru Tumpang Solas Pura Ulun Danu Batur akhirnya rampung dipugar dan resmi dipasupati melalui upacara Mlaspas dan Ngenteg Linggih, Rabu (11/3/2026). Upacara sakral ini digelar oleh masyarakat Desa Adat Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli dengan rangkaian yadnya yang berlangsung sejak awal Maret.
Meru Tumpang Solas tersebut merupakan linggih Ida Bhatari Sakti Dewi Danuh, sosok suci yang diyakini sebagai penjaga keseimbangan alam dan sumber kesejahteraan masyarakat Bali.
Pangemong Pura Ulun Danu Batur, Jero Gede Duhuran Batur, menjelaskan bahwa upacara Ngenteg Linggih dipuput oleh sulinggih Siwa-Buddha dan didahului berbagai rangkaian upacara suci.
Rangkaian upacara dimulai dengan bakti piuning pada 5 Maret 2026, dilanjutkan nunas tirta dari berbagai pura utama seperti Tirta Semeru Agung, Sapta Lingga Giri Balidwipa, Pusering Jagat, Pura Jati hingga Tri Kahyangan Desa. Selanjutnya dilaksanakan Mendak Ida Bhatara Tirta Semeru Agung (8 Maret), caru rsigana dan mlaspas-mupuk padagingan (10 Maret) hingga puncaknya ngenteg linggih dan bakti ayaban pada 11 Maret 2026.
“Upacara ini juga diupasaksi oleh Ida Dalem Semaraputra dari Puri Klungkung bersama puri-puri lainnya di Bali, serta dihadiri prajuru desa dan para bakta,” jelas Jero Gede.
Renovasi Pertama Sejak 1973
Menurut Jero Gede, Meru Tumpang Solas linggih Ida Bhatari Sakti Dewi Danuh terakhir direnovasi pada tahun 1973. Sejak saat itu hanya dilakukan penggantian atap ijuk secara berkala.
Namun pada tahun 2025, kondisi tubuh bangunan terutama bagian belakang mulai mengalami pelapukan parah, sehingga diputuskan dilakukan renovasi besar.
Material bangunan juga mengalami penyesuaian. Jika sebelumnya menggunakan batu padas, kini pondasi diganti menggunakan batu lava Gunung Batur yang dinilai lebih kuat menghadapi kondisi cuaca ekstrem di kawasan Kintamani.
“Meski ada perubahan material, sukat dan simbol-simbol sakral pada palinggih tetap kami pertahankan agar tidak mengurangi makna spiritualnya,” ujarnya.
Menariknya, daun pintu meru yang dipercaya berasal dari bangunan sebelum tahun 1926 tetap dipertahankan karena kondisinya masih sangat baik.
Dibangun Gotong Royong, Habiskan Rp2 Miliar
Pembangunan Meru Tumpang Solas ini dilakukan secara gotong royong oleh krama Desa Adat Batur bersama para bakta.
Total biaya pembangunan mencapai sekitar Rp2 miliar, yang bersumber dari bantuan Pemerintah Kabupaten Badung, punia para bakta, serta dukungan Usaha Duwe Desa Adat Batur (Batur Natural Hot Spring).
“Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang sudah menghaturkan punia, baik berupa dana, bahan bangunan, sarana upacara, maupun tenaga selama proses pemugaran,” tegas Jero Gede.
Pusat Pemujaan di Pura Ulun Danu Batur
Sementara itu, Ida Dalem Semaraputra dari Puri Klungkung menegaskan bahwa Meru Tumpang Solas memiliki posisi sangat penting sebagai pusat orientasi pemujaan di Pura Ulun Danu Batur.
Dalam berbagai lontar disebutkan bahwa Ida Bhatari Sakti Dewi Danuh merupakan manifestasi Tuhan yang memiliki otoritas menjaga keseimbangan alam dan kesejahteraan Pulau Bali.
“Setelah pemugaran selama tiga bulan, hari ini dilakukan upacara mlaspas dan mendem padagingan. Selanjutnya arca Ida Bhatari Danuh akan kembali distanakan di palinggih ini,” ujarnya.
Ia menambahkan, rangkaian yadnya ini juga menjadi bagian persiapan menyongsong Ngusaba Kadasa yang akan digelar pada Purnama Kadasa mendatang.
Bupati Badung Sampaikan Rasa Syukur
Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa turut menyampaikan rasa syukur atas rampungnya pemugaran Meru Tumpang Solas tersebut.
Menurutnya, dukungan pemerintah terhadap pembangunan tempat suci merupakan bagian dari tanggung jawab bersama sebagai masyarakat Bali dalam menjaga warisan budaya dan spiritual.
“Setelah pemugaran ini, Ida Bhatari Dewi Danuh kembali distanakan di meru tersebut. Semoga beliau berkenan memberikan anugerah, kesejahteraan, dan perlindungan bagi masyarakat serta alam Bali,” ujarnya.
Dengan selesainya pemugaran Meru Tumpang Solas ini, Pura Ulun Danu Batur kembali menegaskan perannya sebagai salah satu pusat spiritual penting bagi umat Hindu di Bali, sekaligus simbol keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. BWN-03


































