Mangupura, Baliwakenews.com – Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Bali dalam beberapa hari terakhir ternyata belum menjadi tanda musim kemarau berakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan Bali masih berada dalam periode musim kemarau dan belum memasuki masa peralihan atau pancaroba.
Fenomena hujan di tengah kemarau ini terjadi secara tidak merata, terutama di sejumlah wilayah Bali bagian selatan, barat dan timur. Kondisi tersebut dipengaruhi dinamika atmosfer, salah satunya fenomena Dry Intrusion yang belakangan memengaruhi kondisi cuaca Bali.
Prakirawan BBMKG Wilayah III, Brian Eko Permadi, mengatakan secara umum kondisi cuaca Bali dalam tiga hari ke depan masih didominasi cerah berawan hingga berawan. Namun, potensi hujan ringan tetap ada di sejumlah wilayah.
“Bali masih pada periode musim kemarau, jadi belum memasuki musim peralihan,” ujar Brian, Jumat (11/9).
Menurutnya, masyarakat tidak perlu mengartikan hujan yang turun saat ini sebagai pertanda bahwa Bali sudah memasuki pancaroba. Sebab, musim kemarau bukan berarti seluruh wilayah akan mengalami kondisi kering tanpa hujan sepanjang waktu.
Hujan tetap dapat terjadi akibat pengaruh faktor lokal maupun regional yang memengaruhi kondisi atmosfer.
“Secara umum kondisi di suatu wilayah apabila masih dalam kondisi musim kemarau bukan berarti tidak akan ada cuaca hujan sama sekali. Hujan masih bisa terjadi akibat dari faktor lokal maupun regional,” jelasnya.
Salah satu faktor yang turut berperan adalah fenomena Dry Intrusion. Fenomena ini berkaitan dengan masuknya massa udara kering dari lapisan atmosfer atas yang dapat memengaruhi kestabilan atmosfer.
Ketika kondisi atmosfer menjadi tidak stabil, proses pembentukan awan dapat terjadi dan pada kondisi tertentu menghasilkan hujan di sejumlah wilayah.
Karena itu, hujan yang muncul beberapa hari terakhir tidak serta-merta menunjukkan perubahan musim. Kondisi tersebut lebih merupakan dinamika cuaca yang dapat terjadi meskipun Bali masih berada dalam periode kemarau.
Indikasi Bali masih berada dalam periode kemarau juga terlihat dari pola anginnya. Saat ini angin dominan masih bertiup dari arah Timur-Tenggara dengan kecepatan sekitar 4–20 knot, atau sekitar 8–37 kilometer per jam.
Sementara itu, masyarakat yang beraktivitas di kawasan pesisir tetap diminta memperhatikan kondisi gelombang laut.
Tinggi gelombang di perairan utara Bali diprakirakan berkisar 0,5–1,5 meter, sedangkan di perairan selatan Bali mencapai sekitar 0,5–3 meter.
Kondisi tersebut menjadi perhatian terutama bagi nelayan, wisatawan, maupun pelaku aktivitas wisata bahari yang melakukan kegiatan di laut.
BMKG mengimbau masyarakat tetap menjalankan aktivitas seperti biasa, namun tidak mengabaikan perubahan cuaca yang dapat berlangsung cepat dan bersifat lokal.
“Masyarakat bisa tetap beraktivitas seperti biasa dan waspada terhadap perubahan cuaca. Selalu ikuti update informasi resmi terkait cuaca, iklim, dan kegempaan dari BMKG,” pungkas Brian.
Dengan kondisi tersebut, hujan yang belakangan membasahi sejumlah wilayah Bali bukan berarti musim penghujan sudah di depan mata. Bali masih berada dalam kemarau, sementara dinamika atmosfer membuat hujan tetap berpeluang turun secara lokal. BWN-04

































