Mangupura, baliwakenews.com
Langit Bali yang cerah hingga berawan dalam beberapa hari ke depan ternyata tidak serta-merta menandakan kondisi laut aman. Di balik cuaca yang tampak bersahabat dari daratan, gelombang setinggi 4 hingga 6 meter masih berpotensi menerjang perairan selatan Pulau Bali dan Selat Lombok bagian selatan.
Kondisi ini menjadi perhatian bagi wisatawan, nelayan, operator kapal hingga pelaku wisata bahari yang beraktivitas di kawasan pesisir Bali.
Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan kondisi langit sebagai satu-satunya patokan sebelum melakukan aktivitas di laut.
Pada Jumat (7/8/2026), kondisi cuaca Bali secara umum diprakirakan cerah hingga berawan. Namun, kondisi angin di wilayah perairan Bali cukup bervariasi dengan kecepatan mencapai 4-30 knot.
Prakirawan Cuaca BBMKG Wilayah III, Maria Octorina, mengatakan angin di perairan utara Bali umumnya bertiup dari arah timur laut hingga selatan. Sedangkan di perairan selatan Bali, angin bertiup dari arah tenggara hingga barat daya.
Masyarakat diminta mewaspadai kemungkinan peningkatan kecepatan angin yang dapat memicu peningkatan tinggi gelombang. Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah masih aktifnya Monsun Australia. Pola angin tersebut membuat hembusan angin di sekitar Bali cukup kencang dan berkontribusi terhadap peningkatan gelombang di sejumlah perairan.
Untuk periode 8-11 Agustus 2026, gelombang setinggi 1,25-2,5 meter berpotensi terjadi di Selat Lombok bagian utara. Gelombang lebih tinggi, yakni 2,5-4 meter, berpotensi terjadi di Selat Badung dan Selat Bali bagian selatan. Sementara kondisi paling ekstrem diperkirakan terjadi di perairan selatan Pulau Bali dan Selat Lombok bagian selatan, dengan gelombang dapat mencapai 4-6 meter.
Kondisi tersebut bukan hanya menjadi ancaman bagi pelayaran, tetapi juga aktivitas wisata di sepanjang pesisir selatan Bali. BMKG mengingatkan, aktivitas di laut mulai memiliki risiko berbeda sesuai jenis kapal. Perahu nelayan, misalnya, mulai berisiko ketika kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,25 meter.
Untuk kapal tongkang, risiko meningkat pada kecepatan angin 16 knot dengan gelombang 1,5 meter. Kapal ferry mulai menghadapi kondisi berisiko ketika angin mencapai 21 knot dan gelombang mencapai 2,5 meter. Sedangkan kapal berukuran besar, seperti kapal kargo dan kapal pesiar, menghadapi risiko ketika kecepatan angin mencapai 27 knot dengan tinggi gelombang 4 meter.
Dengan potensi tersebut, nelayan dan operator kapal kecil diminta tidak memaksakan aktivitas apabila kondisi laut dinilai membahayakan.
Peringatan serupa berlaku bagi wisatawan dan pelaku wisata bahari. Aktivitas seperti berenang, surfing maupun kegiatan wisata bahari lainnya, khususnya di pantai-pantai selatan Bali, sebaiknya dihindari ketika gelombang tinggi terjadi. “Masyarakat pesisir perlu mewaspadai gelombang yang dapat menjangkau bibir pantai,” demikian imbauan BMKG.
Kewaspadaan menjadi semakin penting karena gelombang tinggi dapat terjadi ketika kondisi daratan terlihat normal. Wisatawan yang melihat langit cerah dari kawasan pantai tidak boleh langsung menyimpulkan kondisi laut aman untuk berenang atau bermain air. Karena itu, BMKG meminta masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini resmi sebelum melakukan aktivitas di laut maupun kawasan pantai.
Dengan potensi gelombang mencapai 6 meter, masyarakat pesisir, nelayan, operator penyeberangan, wisatawan dan pelaku wisata bahari di Bali diminta lebih mengutamakan keselamatan daripada memaksakan aktivitas di tengah kondisi laut yang tidak bersahabat. BWN-04

































