Denpasar, Baliwakenews.com
Inflasi Provinsi Bali pada September 2026 mulai melandai. Kepala Perwakilan BI Bali, Achris Sarwani, dalam keterangannya Jumat 2 Oktober 2026, mengatakan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali yang dirilis 1 Oktober 2026, inflasi bulanan Bali tercatat 0,32 persen (mtm), turun dibandingkan Agustus 2026 yang mencapai 0,61 persen.
Kepala Perwakilan BI Bali, Achris Sarwani, dalam keterangannya Jumat 2 Oktober 2026 mengatakan meski tekanan inflasi bulanan mereda, laju inflasi tahunan justru meningkat. Inflasi Bali secara tahunan mencapai 3,79 persen (yoy) pada September 2026, naik dari 3,45 persen pada Agustus. Angka tersebut juga berada di atas inflasi nasional yang tercatat 3,28 persen (yoy).
“Kondisi ini membuat pengendalian harga pangan tetap menjadi perhatian kami (Bank Indonesia, red) dan pemerintah daerah di Bali, terutama menghadapi risiko cuaca dan gangguan produksi pangan, ” ujarnya.
Secara bulanan, kenaikan inflasi Bali pada September terutama dipengaruhi meningkatnya biaya produksi, khususnya harga pakan yang mendorong kenaikan harga daging ayam ras di tingkat konsumen.
Tekanan harga juga datang dari sektor pangan akibat kemarau berkepanjangan yang disertai fenomena El Niño dan serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Kondisi tersebut turut memengaruhi harga sejumlah komoditas, terutama cabai dan beras.
Sejumlah komoditas yang tercatat memberikan andil terhadap inflasi September antara lain daging ayam ras, cabai rawit, air kemasan, biaya akademik/perguruan tinggi, jeruk, bahan bakar rumah tangga, dan beras.
Namun, tekanan inflasi tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas. Di antaranya angkutan udara, canang sari, cabai merah, bawang putih, sawi hijau, ketimun, emas perhiasan, bawang merah, terong, dan kangkung.
“Secara spasial, seluruh wilayah penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Bali mengalami inflasi pada September 2026,” ungkapnya.
Kabupaten Badung mencatat inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,55 persen, disusul Kabupaten Tabanan 0,46 persen, Kota Denpasar 0,21 persen, dan Singaraja 0,19 persen.
Sementara secara tahunan, Tabanan mencatat inflasi tertinggi di Bali sebesar 4,54 persen, diikuti Badung 3,95 persen, Singaraja 3,87 persen, dan Denpasar 3,42 persen.
Data tersebut menunjukkan tekanan harga masih berbeda antarwilayah, sehingga pengendalian inflasi membutuhkan langkah yang disesuaikan dengan kondisi pasokan dan distribusi masing-masing daerah.
Lebih lanjut Achris Sarwani mengatakan Bank Indonesia terus mendukung langkah strategis Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Bali untuk menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran.
“Salah satu langkah yang kami perkuat adalah pemantauan harga dan intensifikasi operasi pasar guna menjaga inflasi Bali hingga akhir tahun, ” tandanya.
BI juga mencermati sejumlah risiko yang berpotensi meningkatkan tekanan harga ke depan. Di antaranya keberlanjutan fenomena El Niño dan mundurnya awal musim hujan yang dapat mengganggu produksi pangan, khususnya komoditas hortikultura.
Risiko lainnya adalah gangguan distribusi pangan antardaerah, termasuk melalui jalur penyeberangan Ketapang-Gilimanuk, serta masih tingginya biaya angkutan barang global.
Di sisi permintaan, meredanya aktivitas kunjungan wisatawan setelah periode puncak liburan diprakirakan dapat mengurangi tekanan inflasi.
Fokus Pengendalian Inflasi Bali: 4K
Untuk menjaga stabilitas harga, BI Bali bersama Pemerintah Provinsi Bali dan pemerintah kabupaten/kota terus memperkuat sinergi melalui TPID dengan fokus pada strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.
Sejumlah langkah yang dilakukan mencakup rapat koordinasi pengendalian inflasi TPIP-TPID, intensifikasi Gerakan Pangan Murah (GPM), pemantauan harga secara berkala, fasilitasi distribusi pangan, serta optimalisasi kerja sama antardaerah melalui Perumda Pangan.
Selain itu, dilakukan pemberian bantuan sarana dan prasarana kepada kelompok tani serta penguatan koordinasi dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat.
BI Bali memprakirakan inflasi Bali sepanjang 2026 tetap berada dalam kisaran sasaran nasional 2,5 persen ±1 persen.
“Penguatan sinergi tersebut kami harapkan mampu menjaga stabilitas harga sekaligus melindungi daya beli masyarakat Bali di tengah risiko cuaca, produksi pangan, dan distribusi yang masih membayangi hingga akhir tahun, ” pungkasnya. BWN-03
Sumber : Humas INFLASI – September 2026 Inflasi Provinsi Bali mulai melandai.
































