Denpasar, baliwakenews.com
2023 menjadi tahun penuh optimesme bagi pemerhati ekonomi Prof. Gede Sri Darma, ST., MM., DBA. Ditemui Senin 2 Januari 2023 di kampus Pasca Sarjana Undiknas, Jalan Waturenggong Denpasar, Prof. Sri Darma mengatakan meski banyak pihak memprediksi akan terjadi resesi ekonomi dunia akibat dampak pandemi Covid-19 ditambah perang Rusia dan Ukraina, ia optimis ekonomi di Bali maupun Indonesia secara umum di 2023 ini, masih mampu tumbuh positif dibandingkan selama pandemi Covid-19.
Hal tersebut, sambung Direktur Pasca Sarjana Undiknas ini, karena melihat perbaikan kondisi ekonomi Bali pada 2022, ditambah pencabutan PPKM ( Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) serta mulai terbukanya border Tiongkok sehingga bisa mendatangkan warga Tirai Bambu ke Bali.
“Selama ini wisata dari China, menempti posisi pertama terbanyak yang berkunjung ke Bali. Sehingga terbukanya border Tiongkok merupakan angin segar, namun tentunya tetap harus diimbangi dengan kehati – hatian. Jangan sampai terjadi lonjakan kasus Covid -19 lagi, ” tandasnya.
Prof. Sri Darma tidak menyangkal adanya informasi kondisi ekonomi global di 2023 yang tidak secerah Indonesia. Tingginya inflasi di beberapa negara serta belum adanya kejelasan kapan berakhirnya perang Rusia-Ukraina berdampak besar pada perekonomian dunia.
Meskipun demikian Prof. Sri Darma berharap pertumbuhan ekonomi bisa tumbuh minimal 3 persen dengan melihat fundamental dalam negeri masih tinggi. “Yang penting kebutuhan bahan pangan di Indonesia masih tersedia, tidak tergantung pada impor. Jadi sektor pertanian harus terus digenjot untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri, ” ucap Prof. Sri Darma.
Namun dikatakan, tetap harus waspada karena perang Rusia dan Ukraina belum diketahui kapan selesainya. Satu sisi stok bahan dan energi di kedua negara akan mengalami penurunan dan berpengaruh kepada Indonesia yang masih mengimpor beberapa bahan energi dari kedua negara.
Terkait kondisi Bali, Prof. Sri Darma mengatakan dengan pengalaman pandemi lalu maka perlu meningkatkan tata kelola dan infrastruktur harus dirubah. Dari sisi tata kelola seperti mudahnya migrasi, visa harus terus diperbaiki. Baru kemudian infastruktur yang membuat wisman nyaman beraktivitas di Bali. “Perlu dipikirkan pengembangan new tourism destination, yang mengakomodir digital tourim,” katanya.
Perubahan zaman, perilaku digital tourim harus ditingkatkan seperti spot view, trend mark Pulau Dewata harus dibangun seperti halnya di Singapura, mengingat Bali memiliki wisata yang alami bukan buatan. Selain itu spot-spot view sebaiknya dirahkan berbayar sama seperti negara maju karena inilah namanya digital tourism.
“Wisata sekarang perlu kenang- kenangan mereka pernah berkunjung ke suatu destinasi, jadi harus ada spot view yang akan di unggah ke media sosial mereka. Ini yang perlu di perbanyak, jadi souvenir sudah tidak begitu penting lagi, ” pungkas Prof. Sri Darma. *BWN-03































