Denpasar, Baliwakenews.com
Saat demo warga sekolah terhadap kepala sekolah SMPN 5 Denpasar beberapa waktu lalu, ada fenomena yang unik dimana banyak siswa yang mengalami kerauhan massal. Menurut Praktisi Hipnotis dan Praktisi Pikiran Bawah Sadar, Master Anak Agung Ngurah Agung Lanang Ananda, bahwa fenomena tersebut tidak sama dengan kerauhan yang terjadi saat terjadi di dalam pura.
Kata Lan Ananda -sapaan akrabnya- apa yang terjadi saat demo tersebut adalah histeria yang secara umum dalam Bahasa Indonesia disebut kesurupan. Hal ini muncul karena mereka yang mengalami kesurupan memiliki believe atau kepercayaan tentang kerauhan, yang tersimpan dalam pikiran bawah sadarnya. “Ini semakin buruk karena adanya provokasi oleh kepanikan disekitarnya,” ujar Lan Ananda, Senin (24/10).
Ketua Perkumpulan Komunitas Hipnotis Indonesia Provinsi Bali ini mengatakan bahwa kepercayaan yang ada di pikiran bawah sadar anak-anak tersebut secara keilmuan hipnotis bisa di retrive atau recall yang artinya dipicu atau dipanggil kembali dengan mekanisme manusia dalam menghadapi permasalahan yaitu : Fight or Flight. “Jadi saya berani memastikan itu bukan kerauhan seperti yang ada dalam upacara di sebuah pura, melainkan kesurupan,” tegasnya.
Lantas bagaimana hal ini tidak terjadi lagi? Lelaki berpenampilan eksentrik ini menyarankan jangan melibatkan anak-anak dalam persoalan kedinasan. Melibatkan anak-anak dalam persoalan kedinasan dapat memberi dampak buruk dalam perkembangan mereka kedepan. Ini sama halnya seperti rumah tangga yang berkonflik dengan melibatkan anak-anak. “90 persen hidup anak-anak ditentukan oleh lingkungannya, salah satunya adalah sekolah. Jadi lembaga perlindungan anak harus memberi perlindungan kepada siswa-siswa dari sekolah ini agar tidak terlibat konflik kedinasan,” tandas mantan Ketua Umum Pengprov Taekwondo Indonesia (TI) Bali ini. BWN-06































