Mandalika, baliwakenews.com
Peningkatan jumlah pengunjung dalam ajang Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 tidak serta-merta membuat persoalan sampah semakin besar. PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau ITDC justru berhasil menekan volume sampah yang dihasilkan selama penyelenggaraan MotoGP di Pertamina Mandalika International Circuit, kawasan The Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Selama tiga hari pelaksanaan pada 9–11 Oktober 2026, jumlah pengunjung tercatat mencapai 157.875 orang atau meningkat 12,5 persen dibandingkan tahun 2025. Namun, di tengah lonjakan tersebut, total sampah yang dihasilkan berhasil ditekan hingga 15 persen.
Keberhasilan ini ditunjukkan melalui pengelolaan sebanyak 47.462 kilogram sampah. Dari jumlah tersebut, hanya 8 persen yang berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA). Capaian ini lebih baik dibandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya yang mencapai 14 persen.
Tidak hanya itu, timbulan sampah per pengunjung juga turun dari 0,4 kilogram pada 2025 menjadi 0,3 kilogram pada tahun ini. Penurunan tersebut menunjukkan pengelolaan sampah selama event internasional itu semakin efektif.
Direktur Operasi ITDC, Troy Warokka, mengatakan pengelolaan sampah menjadi salah satu aspek penting dalam mewujudkan penyelenggaraan event olahraga internasional yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Menurutnya, peningkatan jumlah pengunjung harus diimbangi dengan sistem pengelolaan lingkungan yang semakin baik. Karena itu, ITDC terus memperkuat penerapan prinsip ekonomi sirkular agar penyelenggaraan event tidak hanya memberikan dampak ekonomi, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan.
“Penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 menjadi momentum untuk semakin memperkuat posisi The Mandalika sebagai destinasi sport tourism kelas dunia yang menerapkan prinsip pariwisata berkelanjutan. Meskipun jumlah pengunjung tahun ini meningkat, kami berhasil menekan jumlah sampah yang dihasilkan per pengunjung,” ujar Troy.
Salah satu langkah yang diterapkan adalah pengelolaan makanan berlebih atau food surplus management. Makanan yang masih layak konsumsi didistribusikan melalui sistem takeaway, sehingga tidak terbuang percuma.
Sementara itu, sisa makanan yang sudah tidak layak konsumsi diolah menggunakan metode Black Soldier Fly (BSF) atau maggot untuk dimanfaatkan menjadi kompos.
Pengelolaan tersebut juga melibatkan komunitas bank sampah dari desa-desa penyangga kawasan The Mandalika. Kolaborasi ini sekaligus membuka peluang keterlibatan masyarakat dalam ekosistem ekonomi sirkular.
Dari total sampah yang terkumpul, komposisi sampah organik mencapai 51 persen, sedangkan sampah anorganik sebesar 49 persen. Upaya pengurangan juga berhasil menekan sampah anorganik yang tidak dapat didaur ulang sebesar 31 persen dan sampah organik sebesar 19 persen.
Troy menegaskan, capaian tersebut merupakan hasil pengelolaan sampah yang semakin terarah serta kolaborasi berbagai pemangku kepentingan, termasuk masyarakat di sekitar kawasan.
Ke depan, ITDC akan terus mengoptimalkan pengelolaan sampah melalui peningkatan pemilahan berdasarkan jenis, pemanfaatan sampah bernilai ekonomi, serta memperkuat kerja sama dengan mitra pengelola sampah dan masyarakat sekitar.
Langkah ini diharapkan mampu mengurangi sampah yang berakhir di TPA sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Dengan demikian, The Mandalika tidak hanya diarahkan menjadi destinasi sport tourism berkelas dunia, tetapi juga kawasan pariwisata yang mampu mengintegrasikan penyelenggaraan event internasional dengan kepedulian terhadap lingkungan. BWN-04
































