Denpasar, Baliwakenews.com
Perekonomian Bali menunjukkan kinerja positif di tengah ketidakpastian ekonomi global. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani, dalam keterangannya Jumat 6 November 2026 mengatakan pada Triwulan III 2026, ekonomi Pulau Dewata tumbuh sebesar 5,85 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,47 persen.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali yang dirilis November 2026, pertumbuhan ekonomi Bali juga meningkat dibandingkan Triwulan II 2026 yang mencapai 5,78 persen.
“Capaian tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi Bali masih terjaga di tengah dinamika geopolitik dan ketidakpastian global, ” ujar Achris Sarwani.
Seluruh lapangan usaha tercatat mengalami pertumbuhan, dengan sektor pengadaan listrik dan jasa keuangan menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi, masing-masing sebesar 11,03 persen dan 9 persen.
Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali mencatat, penguatan ekonomi juga ditopang oleh peningkatan kinerja sejumlah sektor utama, terutama penyediaan akomodasi dan makan minum (Akmamin), transportasi dan pergudangan, serta konstruksi.
Sektor Akmamin tumbuh 6,23 persen, meningkat cukup signifikan dibandingkan Triwulan II 2026 yang sebesar 3,68 persen. Sementara sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 1,20 persen, berbalik positif setelah mengalami kontraksi 0,64 persen pada triwulan sebelumnya.
Adapun sektor konstruksi mencatat pertumbuhan 8,91 persen, lebih tinggi dibandingkan Triwulan II 2026 sebesar 8,40 persen.
Pariwisata Masih Jadi Motor Utama Ekonomi Bali
“Kuatnya sektor pariwisata kembali menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Bali, ” tukasnya.
Peningkatan kinerja sektor akomodasi dan makan minum didorong oleh kenaikan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sebesar 0,94 persen dan wisatawan nusantara (wisnus) sebesar 4 persen secara tahunan.
Peningkatan kunjungan tersebut sejalan dengan periode puncak kunjungan wisata atau peak season selama musim panas dan libur sekolah.
Sektor Akmamin bahkan memberikan sumber pertumbuhan ekonomi terbesar di Bali, yakni sebesar 1,27 persen. Hal ini menegaskan bahwa aktivitas pariwisata masih memiliki peran strategis dalam menggerakkan perekonomian daerah, mulai dari perhotelan, restoran, hingga berbagai usaha pendukung pariwisata.
Di sisi lain, sektor transportasi dan pergudangan juga mengalami peningkatan, terutama ditopang oleh aktivitas penumpang angkutan penyeberangan ASDP.
Sementara itu, sektor konstruksi mendapat dorongan dari realisasi proyek pemerintah yang bersumber dari APBN dan APBD. Total realisasi proyek konstruksi pada Triwulan III 2026 mencapai Rp344 miliar, meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan Triwulan II yang sebesar Rp186 miliar.
“Peningkatan aktivitas pembangunan tersebut turut tercermin dari naiknya pengadaan semen, ” ungkap Achris Sarwani.
Ekspor Bali Surplus US$97,62 Juta
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Bali turut ditopang oleh peningkatan ekspor luar negeri yang mencapai 3,39 persen secara tahunan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Triwulan II 2026 sebesar 2,23 persen.
Di tengah penurunan impor, kondisi tersebut mendorong neraca perdagangan luar negeri Bali mencatat surplus sebesar US$97,62 juta. Nilai surplus ini meningkat 26,16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain ekspor, sejumlah komponen pengeluaran lainnya juga mencatat pertumbuhan positif meskipun mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya.
Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 8,74 persen, terutama didorong oleh peningkatan investasi pada subkomponen nonbangunan dan realisasi belanja modal pemerintah.
Konsumsi pemerintah tumbuh 6,33 persen, ditopang oleh realisasi belanja pegawai serta belanja barang dan jasa.
Sementara konsumsi rumah tangga tumbuh 5,43 persen, terutama didorong oleh pengeluaran untuk perumahan, penginapan dan hotel, serta rekreasi dan budaya.
BI Waspadai Normalisasi Kunjungan Wisatawan
Memasuki Triwulan IV 2026, Bank Indonesia Provinsi Bali memperkirakan pertumbuhan ekonomi daerah masih akan berada pada level tinggi.
Optimisme tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang masih kuat, berlanjutnya realisasi proyek strategis pemerintah dan swasta, serta tetap terjaganya optimisme dunia usaha.
Meski demikian, BI mengingatkan terdapat sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi. Salah satunya adalah normalisasi kunjungan wisatawan setelah berakhirnya periode puncak kunjungan atau peak season, di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Achris Sarwani, menegaskan pentingnya penguatan sinergi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Bali.
Ke depan, upaya penguatan ekonomi akan diarahkan pada pengembangan sektor-sektor produktif, peningkatan investasi, pengembangan pariwisata berkualitas, serta penguatan ketahanan ekonomi daerah.
Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga pertumbuhan ekonomi Bali agar tidak hanya tinggi, tetapi juga inklusif, berkelanjutan, dan memiliki daya saing di tengah tantangan ekonomi global. BWN-03































