Mangupura, baliwakenews.com
Perjalanan Veda Ega Pratama menuju panggung balap motor dunia bukanlah jalan yang selalu mulus. Pembalap muda asal Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ini pernah berada di titik terendah ketika pandemi Covid-19 menghentikan kompetisi. Cedera serius yang dialaminya bahkan sempat membuatnya kehilangan harapan untuk melanjutkan karier balap.
Namun, mimpi yang dibangun sejak kecil membuatnya memilih untuk tidak menyerah. Kini, pada usia 17 tahun, Veda berhasil mengukir prestasi membanggakan dengan finis sebagai runner-up Moto3 Malaysia 2026 di Sirkuit Internasional Sepang, Minggu (1/11/2026).
Hasil tersebut menjadi pencapaian terbaik sepanjang kariernya di kelas Moto3 sekaligus podium keduanya pada musim 2026. Sebelumnya, pembalap yang memperkuat Honda Team Asia itu juga berhasil meraih posisi ketiga pada seri Brasil.
Di Sepang, Veda menunjukkan kemampuannya bersaing dengan para pembalap dunia. Memulai balapan dari posisi kedelapan, ia mampu merangsek ke barisan depan dan terlibat dalam persaingan ketat hingga putaran terakhir. Veda akhirnya finis di posisi kedua, tepat di belakang Maximo Quiles.
Pencapaian ini terasa istimewa karena diraih pada musim debutnya di kelas Moto3. Bagi Indonesia, podium tersebut bukan sekadar prestasi individu, tetapi juga menjadi sinyal positif bagi perkembangan olahraga balap motor nasional.
Di balik keberhasilan tersebut, tersimpan pengalaman berat yang sempat mengguncang perjalanan karier Veda. Salah satu masa paling sulit terjadi pada 2020, ketika pandemi Covid-19 membuat rencana balapnya terhenti.
Pada periode yang sama, ia mengalami patah tulang paha. Belum sepenuhnya pulih, sekitar empat bulan kemudian Veda kembali mengalami cedera, kali ini berupa patah tulang kering.
“Di situ aku sudah seperti berpikir tidak bisa balap,” kenangnya.
Dua cedera serius dalam waktu berdekatan, ditambah ketidakpastian kompetisi, membuat masa depannya sebagai pembalap sempat dipertanyakan. Namun, dukungan keluarga dan tekad untuk kembali ke lintasan membantunya perlahan bangkit.
Veda mengakui, hingga kini keraguan terhadap kemampuannya mencapai target tertinggi masih sesekali muncul. Meski demikian, ia memilih terus berusaha mengejar mimpi tersebut.
“Pastinya ada dan sampai sekarang pun masih bertanya-tanya kepada diri sendiri, apakah bisa. Itu mimpi saya. Jadi saya akan berusaha semaksimal mungkin dan kalau memang bisa, ya alhamdulillah,” ujarnya.
Berawal dari Motocross
Kecintaan Veda terhadap dunia balap tumbuh sejak usia dini. Lahir dan besar di Gunungkidul, ia mulai mengenal motocross sejak kecil. Salah satu kenangan yang paling melekat adalah motor pertama yang diberikan oleh sang ayah.
Saat masih berkompetisi di motocross, kegiatan Veda sepulang sekolah diisi dengan latihan di Yogyakarta, yang berjarak sekitar satu jam dari rumahnya. Rutinitas tersebut terus berlanjut ketika ia beralih ke balap road race.
Sejak usia tujuh hingga delapan tahun, Veda mulai mengikuti berbagai kejuaraan motocross nasional. Pada 2018, ia beralih ke kompetisi road race nasional, sebelum melangkah ke tingkat Asia pada 2021.
Dukungan keluarga menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan panjang tersebut.
“Orang tua saya semuanya mendukung,” ujar Veda.
Karakter pantang menyerah juga telah terlihat sejak kecil. Jika orang tuanya diminta menggambarkan kepribadiannya saat masih anak-anak, satu kata yang mungkin muncul adalah “ngeyel”. Sikap gigih dan sulit menyerah ketika menginginkan sesuatu itulah yang turut membentuk mental bertandingnya.
Pengorbanan di Balik Prestasi
Menjalani karier sebagai pembalap profesional sejak usia belia membuat Veda harus mengorbankan sebagian kehidupan masa mudanya.
Kesibukan berlatih dan mengikuti kompetisi membuatnya tidak bisa menjalani aktivitas sekolah seperti anak-anak seusianya. Sebagian besar kegiatan belajar dilakukan secara daring. Kesempatan bertemu teman maupun menikmati kehidupan remaja pun harus disesuaikan dengan jadwal balapan.
“Mungkin sekolah ya. Kita tidak bisa seperti murid-murid atau anak muda lainnya. Kita jarang masuk sekolah, lebih banyak online. Masa-masa kecil yang biasanya anak-anak lakukan, seperti bertemu teman dan lain-lain, kita jarang,” ungkapnya.
Jauh dari keluarga dan lingkungan tempat ia tumbuh juga menjadi bagian dari pengorbanan tersebut. Ketika berada di luar Indonesia, Veda mengaku paling merindukan makanan, keluarga, serta teman-teman yang biasa berlatih bersama di Tanah Air.
“Yang paling kurindukan makanan, keluarga, terus teman-teman yang biasanya latihan bareng di Indonesia. Walaupun di sini juga ada teman-teman, tapi beda. Beda di Indonesia dan di luar,” katanya.
Berbagai pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa prestasi di lintasan balap tidak datang secara instan. Di balik setiap pencapaian, ada disiplin, pengorbanan, dukungan keluarga, serta perjuangan panjang dalam menghadapi berbagai tantangan.
Membawa Nama Indonesia ke Panggung Dunia
Perjalanan Veda juga menjadi bagian dari perkembangan motorsport Indonesia. Salah satu momentum penting adalah keikutsertaannya dalam Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit pada 9–11 Oktober 2026.
Tampil di hadapan publik sendiri dalam ajang balap kelas dunia menjadi kesempatan bagi Veda untuk menunjukkan kemampuan sekaligus menginspirasi generasi muda Indonesia yang memiliki mimpi serupa.
Kehadiran Pertamina Mandalika International Circuit juga menjadi bagian penting dalam pengembangan ekosistem motorsport nasional. Ajang internasional tersebut membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menyaksikan langsung kompetisi kelas dunia sekaligus memberikan panggung bagi pembalap Indonesia untuk tampil di hadapan publik internasional.
Semangat ini sejalan dengan kampanye The Rise of Indonesian Heroes dan #IndonesiaMendunia Bersama Pertamina yang mengangkat perjuangan serta pencapaian putra-putri Indonesia di panggung global.
Prestasi Veda di Sepang semakin memperkuat optimisme tersebut. Keberhasilannya finis sebagai runner-up menunjukkan bahwa pembalap muda Indonesia memiliki kemampuan untuk bersaing dengan talenta terbaik dunia.
Perjalanan Veda masih panjang. Namun, podium Malaysia menjadi salah satu pencapaian penting yang membuka peluang lebih besar untuk melangkah ke level berikutnya.
Dari seorang anak Gunungkidul yang menghabiskan waktu sepulang sekolah untuk berlatih motocross, kini Veda telah berdiri di podium kejuaraan dunia dengan membawa nama Indonesia.
Mimpi yang dahulu dimulai dari lintasan sederhana kini membawanya melintasi berbagai negara. Ketika Merah Putih berkibar di Sirkuit Sepang, kebanggaan itu bukan hanya milik Veda dan keluarganya, tetapi juga masyarakat Indonesia.
Veda menjadi gambaran bahwa talenta besar bisa lahir dari mana saja. Dengan kerja keras, kesempatan, pembinaan, dan dukungan ekosistem yang tepat, generasi muda Indonesia memiliki peluang untuk berprestasi dan mengharumkan nama bangsa di panggung dunia.BWN-04
































