Klungkung, Baliwakenews.com – Sampah tak lagi dipandang sekadar persoalan yang harus dibuang. Di Klungkung, Bali, sampah mulai diolah menjadi bahan bakar alternatif yang berpotensi menggantikan sebagian penggunaan energi fosil di sektor industri.
Melihat potensi tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menyatakan siap membantu membuka akses pasar bagi energi hijau yang dihasilkan dari pengolahan sampah di daerah.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, menyampaikan hal tersebut saat meninjau Pusat Olah Sampah Setempat (TOSS) Center Gema Santi di Kabupaten Klungkung, Sabtu (3/10/2026).
Menurutnya, salah satu persoalan yang kerap menghambat keberlanjutan pengolahan sampah daerah adalah belum adanya kepastian pembeli untuk produk yang dihasilkan.
Karena itu, KLH/BPLH tidak hanya mendorong pemerintah daerah mengolah sampah, tetapi juga siap mempertemukan daerah penghasil energi alternatif dengan industri yang membutuhkan bahan bakar tersebut.
“Pemerintah akan mendorong kalau ada kesulitan soal pembeli dan sebagainya, nanti kami akan coba komunikasi. Karena sebaliknya, dari pihak pembeli juga sudah menghubungi kami (KLH). Mereka mencari di mana ada produk-produk yang seperti ini, tolong diberitahu untuk bisa dia peroleh,” ungkap Menteri Jumhur.
Diolah dengan Teknologi Pirolisis
Di TOSS Center Gema Santi, sampah diolah menggunakan teknologi pirolisis. Teknologi tersebut memanfaatkan proses pemanasan tanpa oksigen untuk mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif bagi kebutuhan industri.
Hasil pengolahan dapat berupa bahan bakar alternatif pengganti solar hingga produk padat dari sampah organik yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pengganti batu bara.
Menteri Jumhur mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Klungkung yang menggandeng pihak swasta dalam pengelolaan sampah tersebut.
“Seperti Pemerintah Kabupaten Klungkung di sini yang punya inisiatif baik untuk mengolah sampahnya dengan menerapkan circular economy. Itu praktik yang baik,” tutur Menteri Jumhur di sela-sela peninjauan.
Pemanfaatan bahan bakar hasil olahan sampah dinilai dapat memberikan keuntungan bagi industri padat energi. Selain mengurangi ketergantungan terhadap batu bara dan gas bumi, penggunaan biomassa dari sampah juga berpotensi mendukung upaya penurunan emisi.
Langkah tersebut dinilai sejalan dengan kebutuhan industri dalam mengejar target Net Zero Emission (NZE), sekaligus meningkatkan daya saing dan kredibilitas perusahaan di pasar global.
Sampah Sejumlah Daerah Bisa Digabung
Meski memiliki potensi, pengiriman produk energi dari Bali menuju pusat-pusat industri di Pulau Jawa menjadi tantangan tersendiri. Faktor jarak dan biaya logistik perlu diperhitungkan agar produk olahan sampah tetap kompetitif.
Menteri Jumhur mengatakan persoalan tersebut dapat diatasi melalui skala ekonomi. Salah satu opsi yang dapat dilakukan adalah menggabungkan pengolahan sampah dari sejumlah kabupaten sehingga volume produksi menjadi lebih besar.
Dengan volume yang lebih besar, biaya pengolahan per unit dapat ditekan sehingga produk menjadi lebih menarik secara bisnis.
“Misal mengerjakan pengolahan sampah yang menghasilkan 1.000 ton dengan menghasilkan 100 ton bisa jadi tenaga kerja manusianya sama jumlahnya tapi hasilnya lebih banyak yang 1.000 ton. Artinya per unit, biaya yang dikeluarkan atau cost-nya lebih rendah. Biasanya orang bisnis akan berpandangan seperti itu,” jelas Menteri Jumhur.
KLH/BPLH berharap model pengelolaan sampah yang terhubung langsung dengan kebutuhan industri dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, pengelola sampah, hingga industri sebagai pembeli.
Pengelolaan di Klungkung pun diharapkan dapat berkembang menjadi model percontohan nasional, sehingga semakin banyak daerah mampu mengubah sampah menjadi sumber energi sekaligus mengurangi persoalan lingkungan. BWN-07
































