Mangupura, Baliwakenews.com – Penetapan Buleleng sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali 2027 menghadirkan persoalan tersendiri bagi cabang olahraga selancar ombak.
Cabang olahraga yang menjadi salah satu andalan Bali dalam mendulang prestasi tersebut terancam tidak dipertandingkan karena persoalan ketersediaan ombak yang representatif di daerah tuan rumah.
Pengprov Persatuan Selancar Ombak Indonesia (PSOI) Bali meminta persoalan tersebut segera dicarikan jalan keluar. Salah satu opsi yang ditawarkan adalah tetap menggelar pertandingan selancar ombak di Porprov 2027, namun lokasinya dipindahkan ke kabupaten lain yang memiliki karakter ombak lebih sesuai untuk kompetisi.
Ketua Pengprov PSOI Bali, I Nyoman Graha Wicaksana, mengatakan selancar ombak jangan sampai menjadi cabang olahraga yang ditiadakan hanya karena persoalan lokasi pertandingan.
“Mengingat di Buleleng kan tidak ada ombak, kami mohon supaya KONI Bali bisa memfasilitasi kami agar pelaksanaan cabang olahraga selancar ombak ini tetap bisa dilaksanakan di event Porprov 2027,” ujar Graha, Sabtu (3/10/2026).
Menurut Graha sejumlah daerah di Bali memiliki lokasi yang jauh lebih memungkinkan untuk menggelar pertandingan selancar ombak. Kabupaten Gianyar maupun Klungkung, misalnya, dapat menjadi alternatif venue apabila pertandingan tidak memungkinkan dilaksanakan di Buleleng.
Graha menilai keberadaan selancar ombak dalam Porprov bukan semata-mata untuk memenuhi jumlah cabang olahraga yang dipertandingkan. Ajang tersebut menjadi bagian penting dalam pembinaan dan pematangan atlet, terlebih Bali akan menghadapi Pra-PON yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan 2027.
“Jangan sampai kegiatan Porprov meniadakan olahraga selancar ombak. Mengingat olahraga selancar ombak ini berpotensi mendulang medali di event-event nasional, seperti Pra-PON yang akan dilaksanakan nanti,” tegas pria yang juga Anggota DPRD Badung Dapil Kuta tersebut.
Bali sendiri memiliki modal kuat untuk mengembangkan cabang olahraga tersebut. Sejumlah kawasan pesisir seperti Uluwatu, Kuta, Gianyar dan wilayah lainnya selama ini dikenal memiliki karakter ombak yang menjadi daya tarik peselancar, bahkan hingga tingkat internasional.
Potensi tersebut juga dibarengi dengan kualitas atlet. Salah satu bukti terbaru adalah prestasi Made Pajar Ariyana atau Made Fajar yang sukses meraih medali perak di ajang Asian Games.
“Ya, ini potensinya! Selain karena kita Bali memang memiliki ombak yang bagus, atlet kita juga sangat berlimpah,” imbuhnya.
Karena itu, PSOI Bali berharap persoalan venue tidak menjadi alasan untuk menghilangkan selancar ombak dari Porprov 2027. Sebaliknya, penyelenggara diharapkan dapat menggunakan pola pertandingan dengan venue berada di luar kabupaten tuan rumah apabila kondisi alam tidak memungkinkan.
Selain Porprov, PSOI Bali juga mendorong agar pembinaan atlet dilakukan sejak usia pelajar. Untuk itu, pihaknya meminta Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten, membuka ruang bagi selancar ombak untuk masuk dalam Pekan Olahraga dan Seni Pelajar (Porsenijar).
“Jadi kami dorong ini, sehingga olahraga selancar ombak bisa masuk ke Porsenijar. Harapan kami KONI Bali bisa membantu kami,” ujarnya.
Dorongan tersebut sejalan dengan perkembangan organisasi PSOI di Bali. Setelah terbentuk kepengurusan baru di Buleleng dan Karangasem, saat ini PSOI telah memiliki kepengurusan di tujuh kabupaten/kota di Bali.
Perluasan organisasi tersebut diharapkan menjadi fondasi untuk memperluas pembinaan sekaligus menjaga regenerasi atlet. Dengan potensi ombak, jumlah atlet dan prestasi yang dimiliki, PSOI menilai selancar ombak layak tetap menjadi bagian dari Porprov Bali 2027, meski venue pertandingan harus digelar di luar Buleleng. BWN-04































