Mangupura, baliwakenews.com
Program Kemitraan Masyarakat Universitas Warmadewa ( PKM Unwar ) melakukan pendampingan kepada petani pandan di Banjar Umacandi dan Banjar Pasekan, Buduk, Mengwi, Badung. Ketua Tim PKM, Ni Made Rustini, Rabu 9 Juni 2021, memaparkan pendampingan dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah petani yang selama ini hanya mengandalkan menjual “kembang rampe”.
Lebih lanjut dipaparkan “kembang rampe” atau pandan yang dipotong halus sebagai bahan melengkapi pembuatan “canang” atau sarana upacara umat Hindu di Bali. Masyarakat Hindu pada umumnya setiap hari melakukan persembahan yang dilengkapi dengan canang sari. Pada saat hari raya tertentu kebutuhan akan “kembang rampe” semakin meningkat, namun saat hari biasa permintaan kembang rampe sedikit.
Disamping anggota tim Ketut Sudarmini dan Ketut Selamet, ia mengatakan kondisi tersebut menjadi persoalan tersendiri bagi para petani karena kelebihan hasil daun pandan bahkan sampai menguning dipohon.
“Masalah yang hingga kini masih menjadi kendala dalam pengembangan usaha ini adalah masih kurangnya inovasi pengelolaan hasil daun pandan untuk menghasilkan produk yang mampu meningkatkan nilai ekonomis. Seperti memanfaatkan daun pandan kering untuk membuat anyaman tikar, tas dan tempat alas gelas/piring untuk dimeja makan, ” ucap Rustini.
Berdasarkan hasil observasi dan pengamatan yang dilakukan tim PKM Unwar dilapangan bahwa pembuatan “kembang rampe” masih dilakukan secara manual serta pemasaran masih dilakukan secara tradisional. Kelebihan hasil daun pandan masih dibiarkan sampai mengering, belum dimanfaatkan dan dikelola secara lebih produktif.
“Kami berupaya melakukan pendampingan khususnya kepada para petani pandan untuk mengolah hasil pertaniannya, menggunakan pemotongan dengan mesin sehingga hasil produksi lebih banyak. Pemasaran “kembang rampe” sudah dilakukan melalui media sosial seperti “whatApp” sehingga pelanggan tinggal mesan secara online, ” ungkapnya.
Selain itu petani juga dilatih melakukan inovasi dan upaya pengolahan daun pandan yang sudah kering dipakai bahan baku untuk membuat anyaman berupa tikar, tas dan alas tempat gelas, piring untuk dimeja makan.
“Melalui PKM ini ada dampak ekonomi dan sosial berupa peningkatan pada mitra setelah dilakukan pendampingan. Karena mitra mulai memotong menggunakan mesin, penasaran secara online dan mengolah sisa daun pandan menjadi berbagai produk, ” tukasnya.
Namun diakui keterbatasan ekonomi masyarakat mengakibatkan banyak petani yang belum mampu membeli mesin pemotong pandan untuk membuat “kembang rampe” sehingga masih manual. Selain itu masih banyak petani pandan gagap teknologi sehingga tidak bisa memasarkan secara online.
“Tapi saya merasa gembira karena para petani sangat bersemangat mengikuti pelatihan, khusunya saat membuat anyaman. Ini adalah salah satu alternatif yang ditawarkan agar petani pandan lebih produktif sehingga mampu meningkatkan perekonomian, ” tandanya.
Ketertarikan mereka membuat ara petani berharap pelatihan dapat dilakukan secara berkesinambungan untuk meningkatkan kemampuan dalam membuat anyaman dari daun pandan kering. “Dengan pendampingan secara berkelanjutan diharapkan para petani pandan mampu membuat berbagai jenis produk anyaman yang bahan dasarnya adalah dari daun pandan kering sehingga semua daun pandan dapat dimanfaatkan secara produktif, ” pungkasnya. *BWN-03
































