Denpasar, baliwakenews.com
Meningkatkan daya saing komoditas hortikultura, Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Ir. Ida Bagus Wisnuardhana, M.Si., mengatakan Dinas Pertanian melakukan Pewilayahan Komoditi. Hal ini dilakukan agar keunggulan komoditas hortikultura di masing-masing daerah dapat dikembangkan dengan baik.
Ditemui Rabu (6/1) di Dinas Pertanian, Wisnuardhana mengatakan pewilayahan komoditi terhadap komoditas hortikultura sudah dilakukan sejak 2020. “Bali kaya dengan komoditas hortikultura. Masing-masing daerah memiliki komoditas unggulan,” ucapnya.
Seperti di Buleleng akan fokus dikembangkan durian, buah naga dan mangga sebagai komoditas unggulan di daerah tersebut. Di Karangasem fokus pada pengembangan salak, kelapa dan arak. Jembrana pihaknya akan fokus pada pisang dan kakao. Di Bangli dengan komoditas unggulan jeruk, bawang merah dan kopi.
“Jadi pewilayahan komoditi disesuaikan dengan keunggulan daerah masing-masing. Dan akan difokuskan pada komoditas tersebut pengembangan dari hulu sampai hilirnya,” tukasnya.
Mengacu pada Program Nasional 2021, Wisnuardhana mengatakan pihaknya mengacu pada Kementerian Pertanian. “Program tersebut selaras dengan program daerah yaitu visi nangun sat kertih loka Bali, yaitu menyiapkan pangan yang cukup dari produksi lokal, peningkatan nilai tambah dan daya saing, serta peningkatan pendapatan petani,” ungkapnya.
Untuk penyiapkan pangan bagi masyarakat dikatakan sektor pertanian sudah mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, khususnya untuk pangan pokok kecuali bawang putih yang masih mendatangkan dari luar Bali.
Terkait disparitas harga dikatakan memang di tingkat petani dan pedagang sangat jauh berbeda karena rantai distribusi yang panjang. Untuk menekan perbedaan harga yang tinggi akibat biaya distribusi, Dinas Pertanian memberikan subsidi untuk biaya distribusi. Salah satunya dengan bekerja sama dengan gojek.
Lebih lanjut dikatakan keinginan bapak Gubernur Bali bahwa pertanian harus diperbaiki dari tingkat hulu hingga hilir. “Jadi ada hulu, sara produksi, infrastruktur, ‘on farm’ dan hilir yaitu pengolahan dan pemasaran hasil pertanian. Semua akan diperbaiki sehingga kesejahteraan petani dapat tercapai,” ucapnya
Karenanya saat ini pihaknya tengah fokus pada perbaikan sektor hilir. Selama ini Dinas Pertanian lebih fokus pada ‘on farm’ namun karena saat ini kondisi ‘on farm’ sudah bagus, maka pihaknya fokus pada perbaikan sektor hilir. Dengan adanya Pergub no.99 tahun 2019 itu mengisyaratkan pihaknya untuk fokus pada perbaikan di hilir.*BWN-03

































