The Mandalika, baliwakenews.com
InJourney bersama anak usahanya, InJourney Tourism Development Corporation (ITDC), terus memperkuat konsep pariwisata berkelanjutan di The Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB). Menjelang peringatan International Mangrove Conservation Day pada 26 Juli, perusahaan mengembangkan Mangrove Sanctuary yang diproyeksikan menjadi destinasi ekowisata sekaligus kawasan konservasi pesisir.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penanaman 4.500 bibit mangrove dalam program InJourney Green yang berlangsung pada Jumat (24/7). Penanaman ini menjadi tahap ketiga dari rehabilitasi mangrove yang telah dimulai sejak 14 September 2025 dan berlanjut pada Hari Bumi, 22 April 2026. Dengan tambahan tersebut, total mangrove yang telah ditanam di kawasan The Mandalika kini mencapai 20.000 bibit.
Penanaman dilakukan di kawasan Lot MG, Blok 11 dan Blok 23 menggunakan jenis Rhizophora stylosa. Selain berfungsi melindungi garis pantai dari abrasi, gelombang besar, angin kencang, dan intrusi air laut, mangrove juga berperan penting dalam menyerap karbon serta menjadi habitat berbagai biota pesisir seperti ikan, kepiting, burung, dan organisme endemik khas Mandalika.
Direktur SDM dan Digital InJourney, Herdy Harman, mengatakan pengembangan Mangrove Sanctuary merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk memastikan pertumbuhan sektor pariwisata tetap berjalan selaras dengan pelestarian lingkungan.
“Melalui program InJourney Green, kami ingin memastikan bahwa pengembangan pariwisata tidak hanya menghadirkan pertumbuhan ekonomi, namun juga menjaga keseimbangan ekosistem dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Salah satu fokus kami adalah pengembangan Mangrove Sanctuary di The Mandalika sebagai bagian dari komitmen terhadap pariwisata berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut Herdy, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah pohon yang ditanam. InJourney juga melakukan social mapping dan menyusun roadmap pemberdayaan masyarakat agar kawasan mangrove dapat berkembang menjadi sumber ekonomi baru melalui ekowisata dan berbagai aktivitas berbasis konservasi.
General Manager The Mandalika, Pari Wijaya, menegaskan bahwa pelestarian lingkungan menjadi fondasi utama dalam pengembangan destinasi kelas dunia tersebut.
“Di The Mandalika, kami meyakini bahwa pengembangan destinasi harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan. Melalui InJourney Green, kami tidak hanya melakukan rehabilitasi ekosistem mangrove, tetapi juga membangun fondasi bagi pengembangan kawasan ecotourism yang memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan, masyarakat, dan keberlanjutan destinasi,” katanya.
Untuk memastikan pengelolaan berjalan secara terarah, InJourney dan ITDC menyusun feasibility study bersama Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor (PKSPL IPB). Kajian tersebut meliputi roadmap rehabilitasi mangrove, social mapping masyarakat sekitar, hingga identifikasi potensi pengembangan ekonomi berbasis ekosistem mangrove.
Pari menambahkan, kawasan Mangrove Sanctuary diharapkan tidak hanya menjadi benteng alami pesisir dan penyerap karbon, tetapi juga berkembang sebagai pusat konservasi, edukasi, serta destinasi ekowisata yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar sekaligus memperkuat implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di The Mandalika.
Program ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari PKSPL IPB, pemerintah daerah, instansi lingkungan hidup, aparat setempat, akademisi, tenant kawasan, hingga masyarakat sekitar. Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan mampu menciptakan pengelolaan ekosistem mangrove yang berkelanjutan sekaligus memperkuat daya saing The Mandalika sebagai destinasi wisata yang ramah lingkungan. BWN-04
Foto Istimewa
Mangrove: Penanaman 4.500 bibit mangrove dalam program InJourney Green yang berlangsung di kawasan The Mandalika pada Jumat (24/7).
































