Denpasar, baliwakenews.com – Sehari setelah perayaan Galungan, umat Hindu di Bali memasuki hari Umanis Galungan, yang tak hanya bermakna spiritual, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi sosial masyarakat.
Secara etimologis, kata “umanis” dalam bahasa Bali merujuk pada hari berikutnya setelah puncak perayaan. Dalam konteks Galungan, Umanis Galungan menjadi momen penting yang memiliki tempat tersendiri dalam siklus hari suci umat Hindu.
Lontar Sundarigama, salah satu naskah suci pedoman upacara Hindu di Bali, mencatat Umanis Galungan sebagai hari baik untuk melanjutkan persembahyangan dan menyempurnakan bakti terhadap leluhur. Dalam lontar itu disebutkan bahwa umat dianjurkan untuk melaksanakan mabyakala, mapadagingan, dan bentuk persembahan lainnya sebagai bagian dari rangkaian Galungan.
Ritual Mabyakala dilakukan untuk membersihkan lingkungan dari energi negatif yang mungkin masih tersisa setelah Galungan. Upacara ini bertujuan untuk menetralkan gangguan bhutakala dan memohon perlindungan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Sementara itu, Mapadagingan menjadi simbol syukur dengan mempersembahkan makanan kepada leluhur sekaligus menikmati kebersamaan bersama keluarga. Hidangan khas seperti lawar dan babi guling menjadi bagian dari tradisi ini.
Tokoh agama Hindu Bali, almarhum Ida Pedanda Gede Made Gunung, dalam beberapa ceramahnya menyebut Umanis Galungan sebagai “hari menikmati kedamaian dalam kemenangan Dharma.”
“Setelah perjuangan batin dan rohani melawan Adharma, Umanis Galungan adalah saat bagi kita untuk merefleksikan dan menjaga kemenangan itu dalam keseharian,” ujarnya.
Secara filosofis, Umanis Galungan dipandang sebagai momen untuk kembali menyeimbangkan diri setelah energi spiritual yang tinggi pada hari Galungan. Umat Hindu diimbau untuk merenungi apakah mereka sungguh telah “menang” atas hawa nafsu, ego, dan sifat-sifat adharma.
Tak hanya berorientasi pada spiritualitas, Umanis Galungan juga dimaknai sebagai waktu untuk mempererat hubungan antar keluarga dan masyarakat. Saling mengunjungi, bermaafan, dan menikmati waktu bersama menjadi ekspresi sosial dari semangat harmoni pasca-Galungan.
Menariknya, Umanis Galungan juga telah menjadi tradisi rekreasi bagi banyak keluarga di Bali. Usai sibuk mempersiapkan dan menjalani rangkaian upacara Galungan, masyarakat memanfaatkan Umanis Galungan sebagai hari untuk berlibur.
Pantai-pantai, taman rekreasi, hingga tempat wisata pegunungan kerap dipadati pengunjung. Anak-anak, remaja, hingga orang tua tampak menikmati kebersamaan dalam suasana yang lebih santai, namun tetap berbalut nuansa religius.
Ni Ketut Sari, warga Gianyar, menyebut Umanis Galungan sebagai momen berkumpul dan melepaskan penat. “Kalau Galungan kan fokus sembahyang, kalau Umanis-nya kami biasanya ajak anak-anak jalan-jalan. Tapi tetap sembahyang juga pagi sebelum berangkat,” ujarnya sambil tersenyum.
Umanis Galungan menunjukkan bagaimana ajaran agama dan budaya bisa berpadu dengan kebutuhan manusiawi: refleksi batin dan juga rekreasi. Dalam keseimbangan ini, masyarakat Bali menjaga makna hari suci tetap hidup, namun juga adaptif dengan dinamika zaman.
Hari ini, Umanis Galungan bukan hanya tentang “setelah Galungan”, tetapi tentang bagaimana kemenangan rohani itu dihayati dalam kehangatan keluarga, kesadaran diri, dan sukacita bersama. BWN-01

































