Singaraja, Baliwakenews.com
Limbah talas yang selama ini berpotensi menjadi sampah pertanian kini diubah menjadi pakan ternak bernilai ekonomi. Inovasi tersebut dikembangkan Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Pertanian Universitas Warmadewa bersama Kelompok Ternak Kambing Sami Mupu di Br. Dinas Bhuana Sari, Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.
Program ini menyasar pemanfaatan limbah olahan talas, terutama daun, batang dan kulit umbi, sebagai bahan pakan alternatif bagi kambing Peranakan Etawa (PE) yang dipelihara kelompok ternak tersebut.
Ketua Tim Pelaksana PKM, Ir. Ni Ketut Mardewi, MP, mengatakan talas memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sumber pakan karena mengandung karbohidrat dan serat. Potensi itu semakin besar mengingat Desa Wanagiri merupakan salah satu kawasan yang mendukung aktivitas pertanian dan perkebunan.
“Limbah talas sangat potensial dimanfaatkan sebagai pakan ternak karena dapat mengurangi limbah pertanian, menambah nilai ekonomi sekaligus menjadi pakan alternatif bagi kambing,” jelas Mardewi.
Namun, pemanfaatan limbah talas tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Tanaman talas mengandung kalsium oksalat yang dapat menimbulkan rasa gatal. Karena itu, tim memperkenalkan teknologi pencacahan dan fermentasi sebelum limbah diberikan kepada ternak.
Teknologi fermentasi dinilai mampu menurunkan kandungan antinutrisi, meningkatkan kecernaan, memperbaiki nilai nutrisi, memperpanjang daya simpan serta menghasilkan aroma yang lebih disukai ternak.
Hasil uji laboratorium menunjukkan teknologi fermentasi memberikan perubahan signifikan terhadap kualitas nutrisi limbah talas.
Anggota Tim PKM, Ni Made Defy Janurianti, S.TP., M.TP, memaparkan kandungan serat kasar limbah talas turun dari 21,56 persen menjadi 16,29 persen setelah difermentasi.
Sebaliknya, kadar protein meningkat dari 7,28 persen menjadi 11,47 persen.
“Peningkatan nutrisi ini menjadi salah satu alasan kuat bahwa limbah talas berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak melalui teknologi fermentasi,” paparnya.
Inovasi tersebut sekaligus membuka peluang bagi peternak untuk mengurangi ketergantungan terhadap pakan konvensional yang harganya dapat membebani biaya produksi.
Anggota tim lainnya, Prof. Dr. Ir. Luh Suriati, M.Si, menekankan pentingnya penerapan konsep zero waste dalam pengolahan talas.
Menurutnya, bagian tanaman yang selama ini dianggap tidak bernilai, seperti kulit, batang dan daun, justru dapat diolah menjadi produk yang memberikan manfaat ekonomi.
Konsep zero waste tersebut diarahkan untuk mengurangi limbah organik, mencegah pencemaran lingkungan sekaligus menghemat sumber daya.
“Dengan pendekatan zero waste, seluruh bagian talas dapat dimanfaatkan sehingga tidak hanya menghasilkan produk utama, tetapi juga produk samping yang memiliki nilai tambah,” ujarnya.
Selain fermentasi, tim juga memperkenalkan teknologi pembuatan pakan berbentuk pellet. Bentuk ini dinilai lebih praktis karena mudah disimpan, tidak cepat rusak, mengurangi pakan terbuang dan membuat kandungan nutrisi lebih merata.
Kegiatan penyuluhan dan pelatihan mendapat antusiasme dari anggota Kelompok Ternak Kambing Sami Mupu yang diketuai I Kadek Marta.
Para peternak tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai manfaat limbah talas, tetapi juga mempraktikkan langsung proses pengolahan menggunakan teknologi fermentasi.
Program tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi berlanjut menjadi praktik rutin kelompok sehingga mampu menekan biaya pakan, meningkatkan produktivitas ternak dan membuka sumber pendapatan baru.
Pemanfaatan limbah talas juga menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular di tingkat desa. Limbah pertanian yang sebelumnya tidak termanfaatkan diolah kembali menjadi input produksi peternakan.
Inovasi tersebut sekaligus mendukung agenda pembangunan berkelanjutan, khususnya pengurangan limbah, ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi masyarakat serta penerapan pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Kegiatan PKM ini didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Tahun 2026.
Melalui program tersebut, Universitas Warmadewa mendorong kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat agar inovasi teknologi tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar memberikan dampak langsung bagi peningkatan kesejahteraan petani dan peternak di pedesaan. BWN-03

































